Tuban – Pagi baru berjalan beberapa jam, namun antrean panjang уже terlihat di depan pangkalan LPG milik Dwi Nuriana Mu’jiroh di Jalan Basuki Rahmat, Selasa (7/4/2026). Warga berdiri berderet, membawa tabung kosong dan harapan yang sama: mendapatkan gas melon untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah antrean itu, Mita (22) tampak menggenggam dua tabung kosong. Ia datang sejak pukul 08.00 WIB, berharap bisa membawa pulang keduanya. Namun realita berkata lain.
“Saya antre dari jam delapan, baru dapat ini. Tadi bawa dua tabung, tapi cuma dapat satu,” ujarnya pasrah.
Antrean Panjang, Stok Terbatas
Kelangkaan LPG 3 kilogram di wilayah Kota Tuban sudah dirasakan warga dalam beberapa hari terakhir. Antrean panjang menjadi pemandangan biasa, bahkan sejak pagi hari.
Kondisi ini tak hanya menyita waktu, tetapi juga memaksa warga mengubah pola hidup sehari-hari—terutama dalam urusan dapur.
Lasmito (54), seorang ibu rumah tangga, mengaku sudah sepekan kesulitan mendapatkan LPG. Saat gas di rumah habis, ia terpaksa menggunakan rice cooker untuk memasak.
Upaya mendapatkan LPG pun tak mudah. Ia harus berkeliling dari satu wilayah ke wilayah lain.
“Sudah keliling ke Karang, Bejagung, sampai Perbon, tapi kosong semua. Baru hari ini dapat, itu pun harus antre lama,” katanya.
Ia menyebut harga yang ia bayarkan mencapai Rp18 ribu per tabung—angka yang mulai menjauh dari harga eceran tertinggi (HET).
Pelaku Usaha Kecil Terancam Berhenti
Dampak paling terasa justru dialami pelaku usaha kecil. Mualimin (51), penjual nasi, harus pulang dengan tangan kosong setelah stok di pangkalan habis.
Padahal, LPG menjadi penopang utama usahanya.
“Saya sangat kecewa. Ini untuk jualan, stok di rumah tinggal satu. Tidak tahu masih bisa jualan atau tidak,” ucapnya lirih.
Situasi ini menunjukkan bahwa kelangkaan LPG bukan lagi sekadar persoalan rumah tangga, tetapi sudah menyentuh sektor ekonomi mikro.
Tiga Pekan Berlalu, Pasokan Belum Normal
Kelangkaan LPG 3 kilogram di Tuban kini telah berlangsung hampir tiga pekan. Namun hingga kini, distribusi belum sepenuhnya pulih.
Dampaknya nyata:
• Warga harus antre berjam-jam
• Harga mulai merangkak naik
• Aktivitas memasak terganggu
• Usaha kecil terancam berhenti
Fenomena ini memperlihatkan adanya persoalan yang lebih dalam dari sekadar distribusi—mulai dari ketidakseimbangan pasokan hingga potensi gangguan di tingkat agen dan pangkalan.
Antara Kebutuhan Dasar dan Ketidakpastian
Gas LPG 3 kilogram bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika akses terhadapnya terganggu, efek berantainya langsung terasa—dari dapur rumah hingga roda ekonomi kecil.
Kini, warga hanya bisa berharap pasokan segera kembali normal, agar mereka tidak lagi harus “berburu” gas demi kebutuhan sehari-hari. (Az)












