Tuban — Peresmian Citimall Tuban oleh Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, Kamis (18/12/2025), menandai babak baru wajah perdagangan modern di Bumi Wali. Berdiri di atas lahan seluas 23.900 meter persegi dengan nilai investasi sekitar Rp250 miliar, pusat perbelanjaan ini diproyeksikan menjadi magnet baru bagi masuknya modal besar ke Kabupaten Tuban.
Namun, di balik narasi pertumbuhan ekonomi dan deretan lebih dari 70 tenant nasional hingga internasional, muncul pertanyaan krusial di ruang publik: siapa yang paling diuntungkan dari kehadiran Citimall Tuban, dan siapa yang berpotensi terpinggirkan?
Harapan Pemerintah: Investasi dan Multiplier Effect
Bupati Tuban menyebut Citimall sebagai pintu masuk investasi lanjutan ke daerah. Pemerintah daerah berharap kehadiran mal ini menghadirkan multiplier effect, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi.
“Citimall akan menghadirkan investasi lain di Kabupaten Tuban,” ujar Lindra dalam peresmian.
Fakta bahwa lebih dari 90 persen karyawan Citimall Tuban ber-KTP Tuban kerap diklaim sebagai bukti keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal. Namun, publik menilai indikator keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari jumlah tenaga kerja semata.
Isu mengenai kualitas pekerjaan, kepastian upah, jam kerja, serta keberlanjutan ekonomi pekerja masih jarang dibahas secara terbuka. Tanpa pengawasan dan standar ketenagakerjaan yang kuat, penyerapan tenaga kerja berpotensi hanya menjadi angka statistik.
Ritel Modern vs Ekonomi Rakyat
Masuknya puluhan brand besar ke Tuban berpotensi mengubah peta ekonomi lokal secara signifikan. Pelaku pasar tradisional dan toko kecil kini harus berhadapan dengan persaingan ritel modern yang memiliki modal, sistem, dan jaringan distribusi jauh lebih kuat.
Tanpa regulasi yang melindungi pasar rakyat, kehadiran pusat perbelanjaan modern dikhawatirkan justru mempercepat terdesaknya ekonomi mikro di daerah.
Manajemen Citimall Tuban menyediakan Galeri UMKM yang diisi 27 tenant lokal dengan kebijakan pembebasan biaya sewa. Direktur Utama PT Nirvana Wastu Usaha, Teges Prita Soraya, menyebut langkah ini sebagai komitmen membangun ekosistem UMKM berkualitas.
Namun, sejumlah pelaku usaha kecil menilai kebijakan tersebut belum cukup. Tanpa akses promosi yang kuat, lokasi strategis, pendampingan usaha, serta jaminan kesinambungan, UMKM berisiko hanya menjadi pelengkap simbolis di tengah dominasi brand besar.
“Kalau tidak ada perlindungan dan pendampingan serius, UMKM hanya akan jadi penonton,” ujar salah satu pelaku usaha kecil di Tuban.
Tantangan Tata Kota dan Infrastruktur
Selain dampak ekonomi, pembangunan Citimall Tuban juga menuntut kesiapan tata kota. Kepadatan lalu lintas di kawasan Jalan Pahlawan, beban infrastruktur, hingga pengelolaan lingkungan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Tanpa perencanaan matang, pusat perbelanjaan modern justru berpotensi memunculkan persoalan baru yang membebani kawasan sekitar.
Pemerintah daerah menegaskan komitmennya menjaga iklim investasi yang sehat. Namun publik menunggu langkah konkret agar pembangunan tidak hanya berpihak pada modal besar, melainkan juga menjamin keberlanjutan pasar tradisional, UMKM kecil, serta keseimbangan ruang kota.
Citimall Tuban kini berdiri megah sebagai simbol kemajuan. Tantangan sesungguhnya baru dimulai: memastikan investasi ratusan miliar rupiah ini benar-benar menghadirkan kesejahteraan yang merata, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi yang timpang. (Az)
Editor : Kief