Tuban – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kabupaten Tuban untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Kabupaten Tuban, Muchammad Nur, menyampaikan bahwa selama periode libur Nataru terdapat potensi hujan yang terjadi pada siang hingga sore hari. Kondisi cuaca tersebut bersifat fluktuatif dan dapat berubah dalam waktu singkat.
Hujan Berpotensi Terjadi Siang hingga Sore Hari
Menurut Muchammad Nur, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi terjadi secara tidak merata di wilayah Tuban. Masyarakat diimbau untuk tidak lengah terhadap perubahan cuaca yang cepat, terutama saat melakukan perjalanan maupun aktivitas di luar ruangan.
“Selama libur Nataru, potensi hujan di Tuban umumnya terjadi pada siang hingga sore hari dan bersifat fluktuatif,” ujarnya.
Muchammad Nur menjelaskan, potensi cuaca ekstrem di wilayah Tuban juga tercantum dalam rilis resmi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo. Dalam rilis tersebut disebutkan sejumlah wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem pada periode 21 hingga 31 Desember 2025, termasuk Kabupaten Tuban.
BMKG Juanda menyatakan seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan. Bahkan, beberapa daerah diperkirakan telah berada pada fase puncak musim hujan.
Potensi Cuaca Ekstrem Diprediksi Meningkat 11 Hari Ke Depan
Dalam 11 hari ke depan, potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur diprediksi meningkat dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini juga dapat berdampak pada perjalanan, arus mudik lokal, serta kegiatan wisata selama libur Nataru.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. Kabupaten Tuban menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam zona kewaspadaan.
Monsun Asia dan Bibit Siklon Picu Peningkatan Hujan
Peningkatan potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia serta kemunculan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Barat. Meski tidak berdampak langsung ke wilayah Jawa Timur, fenomena tersebut berkontribusi terhadap peningkatan intensitas hujan dan tinggi gelombang laut.
Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih relatif hangat, ditambah kondisi atmosfer lokal yang labil, turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Waspadai Risiko Bencana Hidrometeorologi
BMKG meminta masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah dengan topografi perbukitan, lereng, dan tebing. Risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang perlu diantisipasi sejak dini.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
Sebagai catatan, puncak musim penghujan di Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026. (Az)
Editor : Kief