Senja Sepi di Genaharjo, Mbah Tum Bertahan Seorang Diri
Tuban – Senja perlahan merambat turun di sudut Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding. Cahaya jingga menembus celah-celah dinding kayu yang mulai lapuk, menerangi bagian dalam rumah sederhana tanpa sekat. Di tempat itulah, Mbah Tum menjalani hari tuanya—seorang diri, dalam sunyi yang nyaris tak terputus.
Tak ada pembatas antara ruang tidur dan dapur. Semua menyatu dalam satu ruang terbuka yang jauh dari kata layak. Di sudut rumah, beberapa peralatan sederhana tersusun seadanya, menjadi saksi kehidupan yang kini harus ia jalani setelah relokasi pembangunan Gedung IPIT di lingkungan RSUD Tuban.
Harapan dari Ganti Rugi, Berujung Luka Baru
Dulu, ketika menerima uang ganti rugi sebesar Rp47 juta, Mbah Tum sempat menyimpan harapan. Uang itu ia niatkan untuk membeli tanah dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Namun kenyataan berjalan di luar bayangan. Di tengah proses pembelian tanah, ia mengaku sempat menjadi korban dugaan penipuan—sebuah pukulan berat bagi lansia yang memiliki keterbatasan dalam membaca dan menulis.
“Uangnya untuk beli tanah, tapi saya sempat ditipu,” ucapnya pelan, seolah masih menyimpan luka yang belum sepenuhnya pulih.
Harapan yang semula tumbuh, perlahan berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.
Singgah di Kios Pasar, Pergi karena Sepi dan Takut
Setelah meninggalkan tempat tinggal lamanya, Mbah Tum sempat diarahkan menempati kios yang disediakan pemerintah di area Pasar Kambing Tuban. Tempat itu menjadi persinggahan sementara—bukan rumah.
Namun, suasana sepi dan rasa tidak nyaman, terutama saat malam hari, membuatnya tak mampu bertahan lama. Hanya sekitar 10 hari ia tinggal di sana sebelum akhirnya memutuskan pergi.
Kesunyian yang terlalu pekat justru menghadirkan rasa takut.
Rumah Sederhana yang Jauh dari Kata Layak
Kini, di atas sebidang tanah yang berhasil ia miliki, berdiri sebuah rumah sederhana dengan kondisi memprihatinkan. Dinding kayu seadanya, ruang terbuka tanpa pembatas, serta fasilitas terbatas menjadi bagian dari kesehariannya.
Tak jarang, ketika malam terasa terlalu sunyi atau kondisi tubuhnya tidak memungkinkan, ia memilih beristirahat di pos kampling yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal—melainkan simbol dari perjuangan yang belum usai.
Mengandalkan Singkong dan Uluran Tangan
Di tengah segala keterbatasan, Mbah Tum tidak menyerah. Ia memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya dengan menanam singkong sebagai sumber makanan sehari-hari.
“Kiri kanan saya tanami singkong untuk makan,” tuturnya dengan nada sederhana, tanpa keluhan berlebihan.
Selain itu, ia juga mengandalkan bantuan dari warga sekitar serta bantuan sosial dari pemerintah desa. Bantuan tersebut menjadi penopang penting di tengah kondisi yang serba terbatas.
Biaya Hidup yang Tetap Tak Terhindarkan
Meski hidup dalam kesederhanaan, kebutuhan dasar tetap harus dipenuhi. Untuk memasang listrik, ia mengeluarkan biaya sekitar Rp600 ribu. Sementara sambungan air membutuhkan sekitar Rp500 ribu.
“Saya pasang listrik dan air habis kurang lebih Rp1,1 juta,” katanya.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak besar. Namun bagi Mbah Tum, itu adalah beban yang cukup terasa di tengah kondisi ekonomi yang terbatas.
Potret Nyata Kerentanan Lansia Pasca Relokasi
Apa yang dialami Mbah Tum bukan sekadar kisah personal, melainkan potret nyata dari kerentanan warga lanjut usia yang terdampak relokasi.
Keterbatasannya dalam membaca dan menulis membuatnya semakin rentan terhadap persoalan sosial, termasuk potensi penipuan dan kesulitan beradaptasi di lingkungan baru.
Relokasi yang semestinya menghadirkan kehidupan lebih baik, justru menyisakan persoalan baru yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Relokasi Tak Cukup dengan Ganti Rugi
Sejumlah kalangan menilai, proses relokasi seharusnya tidak berhenti pada pemberian ganti rugi semata. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, warga terdampak—terutama kelompok rentan—berisiko terjebak dalam kondisi yang lebih sulit.
Pendampingan sosial, ekonomi, hingga aspek psikologis menjadi hal penting yang kerap terabaikan.
Menunggu Kepastian, Menunggu Perhatian
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai kondisi yang dialami Mbah Tum. Termasuk, belum ada kejelasan langkah pendampingan bagi warga terdampak relokasi pembangunan tersebut.
Sementara itu, di rumah sederhananya, Mbah Tum tetap menjalani hari demi hari dengan apa adanya.
Di usia senja, ia tidak hanya bertahan hidup—tetapi juga menunggu. Menunggu perhatian, menunggu kepastian, dan mungkin, menunggu keadilan yang belum benar-benar datang. (Aj)