Tuban – Di tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan, muncul gagasan tentang kapitalisme anarkis. Dalam pandangan ini, negara dianggap sebagai beban yang justru menghambat kebebasan individu dan pertumbuhan ekonomi. Kapitalisme anarkis menawarkan konsep bahwa semua aspek kehidupan, mulai dari keamanan, hukum, hingga pendidikan, bisa diserahkan sepenuhnya kepada sektor swasta tanpa campur tangan negara.
Fenomena yang Sudah Terjadi
Tanpa disadari, beberapa bentuk kapitalisme anarkis sudah terjadi di berbagai sektor, misalnya:
- Bitcoin dan Kripto – Sistem keuangan terdesentralisasi yang memungkinkan transaksi tanpa perantara bank.
- Ojek Online – Transportasi berbasis aplikasi yang lebih efisien dibandingkan sistem angkutan umum yang diatur pemerintah.
- E-commerce – Perdagangan bebas yang memungkinkan transaksi lintas negara tanpa regulasi yang berbelit.
Konsep ini menarik karena menawarkan kebebasan total kepada masyarakat untuk mengelola kehidupannya sendiri. Namun, apakah ini benar-benar solusi?
Sisi Gelap Kapitalisme Anarkis
Meski menjanjikan efisiensi dan kebebasan, kapitalisme anarkis juga memiliki risiko besar, seperti:
Tidak ada perlindungan hukum yang jelas – Tanpa hukum negara, sistem hukum swasta bisa saja berpihak pada pemilik modal terbesar.
Ketimpangan ekonomi semakin tajam – Tanpa regulasi, segelintir orang bisa menguasai sumber daya dan memperlebar kesenjangan sosial.
Keamanan publik menjadi bisnis – Jika semua layanan keamanan diswastakan, masyarakat kecil mungkin tidak mampu membayar perlindungan yang layak.
Perubahan Sistem atau Reformasi Total?
Kasus korupsi di Pertamina dan berbagai skandal lainnya menunjukkan bahwa sistem yang ada saat ini masih jauh dari ideal. Kapitalisme anarkis menawarkan alternatif yang radikal, tetapi juga membawa konsekuensi besar. Pertanyaannya adalah: Apakah kita butuh perubahan total dengan menghapus negara, atau cukup dengan reformasi hukum dan birokrasi yang lebih ketat?
Perdebatan ini masih akan terus berlanjut, tetapi satu hal yang pasti: Korupsi harus diberantas sampai ke akarnya, dan sistem yang memungkinkan praktik korupsi harus dibenahi, bukan hanya diganti dengan ekstrem lain yang belum tentu lebih baik.
Baca juga: Skandal Pertamina: Korupsi Ratusan Triliun dan Lemahnya Hukum di Indonesia
Kapitalisme anarkis menawarkan kebebasan total, tetapi juga membawa risiko besar jika diterapkan tanpa keseimbangan. Di satu sisi, sistem ini bisa menjadi jawaban atas ketidakpuasan terhadap birokrasi dan korupsi. Namun, tanpa regulasi yang adil, masyarakat kecil justru bisa semakin tertindas oleh mereka yang memiliki modal dan kekuatan lebih besar. Solusi terbaik mungkin bukanlah menghapus negara sepenuhnya, melainkan mendorong reformasi yang memastikan negara berfungsi sebagaimana mestinya—melindungi rakyat, bukan melayani kepentingan segelintir elite.(Kief)
Reverensi:
Buku – Anarki Kapitalisme ( Andre Gorz )
Editor : Mukhyidin Khifdhi