Tuban – Ironi pembangunan infrastruktur terjadi di Dusun Waringolo, Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Terletak di kawasan ring satu PT Semen Indonesia (Persero) Tbk—yang notabene menjadi jantung industri di wilayah tersebut—dusun ini justru belum tersentuh pembangunan jalan yang layak. Warga mengeluh karena jalan utama di wilayah itu sejak puluhan tahun hanya berupa jalan makadam yang berlubang dan berbatu.
Puluhan Tahun Tanpa Aspal, Warga Harus Berjuang Lewati Jalan Rusak
Sekitar 60 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Dusun Waringolo harus beraktivitas melalui jalan tanah dan batu yang tak kunjung diaspal. Kondisi tersebut membuat akses menuju lahan pertanian, sekolah, dan kebutuhan harian menjadi sangat sulit, terlebih saat musim penghujan datang.
“Sejak lama itu (jalan) ya masih makadam itu mas. Kalau hujan ya licin, susah lewat,” ujar AKS, salah seorang warga yang saban hari melewati jalan tersebut untuk mencari rumput di percil atau lahan garapan milik Perhutani, Rabu (09/07/2025).
Tak hanya berlumpur, medan jalan yang rusak diperparah oleh jarak antarrumah warga yang cukup berjauhan. Hal ini memperparah kesulitan warga, khususnya lansia dan anak-anak sekolah. Mobilisasi warga menjadi sangat terbatas. Beberapa kendaraan bahkan sering mogok atau tergelincir saat melintas.
“Kalau musim hujan, jalannya jadi licin parah, sering ada yang jatuh. Jarak rumah-rumah juga jauh, jadi makin merepotkan,” tambah AS, warga lainnya.
Kades Sugihan: Anggaran Desa Jadi Kendala Utama
Kepala Desa Sugihan, Zito Warsito, membenarkan bahwa pembangunan jalan penghubung di Dusun Waringolo memang belum terealisasi. Panjang jalan yang belum diaspal mencapai sekitar 1 kilometer. Menurut Zito, anggaran yang terbatas dan sistem penganggaran yang ditentukan pusat menjadi hambatan utama.
“Ada sekitar 1 kilometer jalan di Dusun Waringolo yang masih makadam dan belum bisa kami aspal. Itu karena pengalokasian anggaran sudah diatur dan prioritas lainnya juga harus dipenuhi,” terang Zito saat ditemui di Kantor Desa Sugihan, Senin (07/07/2025).
Harapan dan Janji: “Jika Memungkinkan, Tahun Ini Kita Upayakan”
Meskipun keterbatasan anggaran menjadi penghalang, Zito menyebut pihaknya tetap aktif berkoordinasi dengan para tokoh dusun dan pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah desa, lanjutnya, akan mengupayakan agar proyek pengaspalan jalan tersebut bisa masuk dalam skala prioritas pembangunan tahun ini.
“Insya Allah, kalau memungkinkan tahun ini akan kami upayakan. Kami juga sudah berkoordinasi terus dengan warga agar mereka tahu prosesnya,” pungkasnya.
Keberadaan PT SIG yang hanya berjarak beberapa kilometer dari dusun tersebut menyisakan ironi. Sementara perusahaan industri besar itu terus berkembang dan melakukan ekspansi, warga di sekitarnya justru masih harus bertahan dengan akses jalan rusak selama puluhan tahun. Nestapa Dusun Waringolo menjadi potret kecil dari ketimpangan pembangunan yang masih terjadi di daerah industri besar.(Aj)
Editor : Mukhyidin Khifdhi