Pedagang Pasar Baru Tuban Keluhkan Retribusi Tinggi di Tengah Daya Beli Menurun

- Reporter

Jumat, 29 Agustus 2025

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Sejak Januari 2025, tarif retribusi Pasar Baru Tuban naik dua kali lipat. Kini, di tengah kios yang sepi dan omzet makin menurun, pedagang berharap ada penyesuaian yang adil agar mereka bisa bertahan, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Sejak Januari 2025, pedagang di Pasar Baru Tuban sudah menanggung kenaikan tarif retribusi pasar hingga dua kali lipat. Meski kebijakan itu sudah berlangsung cukup lama, keluhan pedagang terus muncul karena kondisi penjualan yang sepi membuat beban itu terasa semakin berat.
Berdasarkan pantauan Liputansatu.id pada Jumat (29/08/2025) pagi, suasana pasar tampak lengang. Kios-kios berjajar rapi, tetapi pengunjung yang lalu-lalang jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pedagang duduk menunggu pembeli, berharap ada yang datang membeli meski harapan itu kian menipis.

Beban Retribusi Semakin Berat di Tengah Penjualan Sepi

Salah satu pedagang pakaian yang telah berjualan lebih dari 20 tahun mengaku keberatan dengan tarif baru. Dari sebelumnya Rp33.600 per kios, kini harus merogoh Rp84.000.
“Sejak Januari kami sudah membayar tarif baru, tapi dengan penjualan yang sekarang sepi, rasanya semakin berat. Omzet turun, hidup makin tercekik,” ujarnya.
Dalam sehari, paling banyak ia hanya bisa menjual empat potong baju. Kadang, tidak ada sama sekali. “Dulu, sehari bisa terjual sepuluh potong. Sekarang, angka itu hanya tinggal kenangan,” tambahnya.

Pedagang Mengharapkan Penyesuaian yang Adil

Pedagang lain, Asri Ningsih, mengatakan kenaikan tarif seharusnya disesuaikan dengan kondisi penjualan. Rusmia bahkan mencoba berjualan online untuk menambal penurunan omzet, tapi kalah bersaing dengan produk fashion modern.
Sejak kenaikan Januari lalu, pedagang telah menyampaikan protes kepada pengelola pasar. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret.
“Yang kami harapkan adalah penyesuaian yang adil sesuai kondisi nyata. Agar kami bisa bertahan dan pasar kembali ramai,” tutur Rusmia.

Pemerintah Belum Menanggapi

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Tuban, Gunadi, belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan pedagang. Saat dihubungi melalui pesan singkat, ia belum merespons.
Di tengah kios-kios yang sepi dan tekanan ekonomi yang kian terasa, pedagang Pasar Baru Tuban hanya bisa berharap ada kebijakan yang menyesuaikan beban retribusi dengan kondisi riil pasar.(Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Jalan Rusak di Pantura Tuban Kembali Makan Korban, Pengendara Tewas Usai Hindari Lubang
Dugaan Penyelewengan BBM Bersubsidi di SPBU Sukolilo Bancar, Tuban
Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat
Desakan Transparansi Aliran Dana Dugaan Korupsi Kuota Haji Menguat
Kalah Dari Pasuruan United, Langkah Persatu Tuban Terhenti Dibabak 32 Besar Liga 4 Jatim 2026
Update Penemuan Mayat di Sungai Sampean Lama: Korban Dipastikan Perempuan
Pembalakan Liar Marak di Tuban, 11 Batang Kayu Jati Diamankan di KPH Jatirogo
Kasus Burung Cendet Baluran: Kakek Masir Bebas Setelah 5 Bulan 20 Hari Ditahan

Berita Terkait

Minggu, 11 Januari 2026 - 18:42 WIB

Jalan Rusak di Pantura Tuban Kembali Makan Korban, Pengendara Tewas Usai Hindari Lubang

Sabtu, 10 Januari 2026 - 23:55 WIB

Dugaan Penyelewengan BBM Bersubsidi di SPBU Sukolilo Bancar, Tuban

Sabtu, 10 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat

Sabtu, 10 Januari 2026 - 13:03 WIB

Desakan Transparansi Aliran Dana Dugaan Korupsi Kuota Haji Menguat

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:54 WIB

Kalah Dari Pasuruan United, Langkah Persatu Tuban Terhenti Dibabak 32 Besar Liga 4 Jatim 2026

Berita Terbaru

Daerah

Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat

Sabtu, 10 Jan 2026 - 21:49 WIB

Advertisement
Exit mobile version