Situbondo – Tim Brunei Darussalam–Indonesia Friendship Association (Brudifa) melakukan kunjungan ke Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (07/02/2026). Kehadiran para pengusaha Brunei tersebut difokuskan untuk menjajaki peluang kerja sama bisnis di berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, perkebunan, pariwisata, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam membuka jejaring investasi internasional sekaligus memperkuat hubungan ekonomi antara Situbondo dan Brunei Darussalam.
Tinjau Langsung Potensi Pertanian di Sampean Green Farm
Setibanya di Situbondo, rombongan Brudifa langsung diajak meninjau Kebun Sampean Green Farm (SGF) di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo. Di lokasi tersebut, para tamu dari Brunei Darussalam turut merasakan pengalaman memetik buah alpukat yang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Kegiatan ini tidak sekadar kunjungan seremonial, tetapi juga menjadi sarana melihat langsung kualitas produksi, sistem budidaya, hingga peluang pengembangan pasar komoditas hortikultura Situbondo ke tingkat internasional.
Kunjungan Balasan Usai Lawatan Bupati ke Brunei
Kunjungan Brudifa merupakan balasan atas lawatan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo ke Brunei Darussalam pada 28 Oktober 2025 lalu. Pertemuan sebelumnya membuka ruang komunikasi sekaligus peluang kerja sama bisnis antara pengusaha Brunei dan pelaku usaha di Situbondo.
Ketua rombongan Brudifa, Hafiy bin Abdullah Fung, mengatakan kunjungan ini memang difokuskan untuk melihat secara langsung potensi ekonomi Situbondo, tidak hanya di sektor pertanian dan perkebunan, tetapi juga pariwisata serta produk UMKM lokal.
“Rombongan kami berjumlah 27 orang. Selain ke Sampean Green Farm, kami juga akan mengunjungi sentra UMKM pembuatan abon ikan, Taman Nasional Baluran, Wisata Pantai Pasir Putih, serta Pendopo Pate Alos Besuki,” ujar Hafiy.
Ia menambahkan, kedatangan rombongan Brudifa merupakan tindak lanjut dari pesan Bupati Situbondo saat berada di Brunei Darussalam.
“Bapak Bupati berpesan agar kami datang langsung ke Situbondo, dan hari ini pesan itu kami tepati. Kami merasa nyaman berada di Situbondo,” katanya.
Peluang Kerja Sama Perkebunan Alpukat dan Kemitraan Bisnis
Hafiy juga mengungkapkan ketertarikannya untuk mempelajari sistem budidaya alpukat yang dikembangkan petani Situbondo. Menurutnya, pengalaman tersebut berpotensi diterapkan di Brunei Darussalam maupun dikembangkan melalui kemitraan bisnis bersama pelaku usaha lokal.
“Kami ingin belajar dari para petani Situbondo. Siapa tahu ke depan bisa mengembangkan perkebunan alpukat di Brunei Darussalam atau menjalin kemitraan bisnis dengan pengusaha Situbondo,” ujarnya.
Peluang ini dinilai dapat membuka pasar baru bagi komoditas pertanian Situbondo sekaligus mendorong transfer pengetahuan, teknologi budidaya, dan penguatan rantai distribusi produk pertanian.
Harapan Pemkab Situbondo Dongkrak Ekonomi Daerah
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan balasan Tim Brudifa. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi langkah awal menuju kerja sama konkret yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
“Alhamdulillah, Pemkab Situbondo bisa menghadirkan para pengusaha yang tergabung dalam Brudifa untuk melihat langsung potensi bisnis di Situbondo,” kata Mas Rio, sapaan akrab Bupati Situbondo.
Ia optimistis kolaborasi dengan pengusaha Brunei Darussalam dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas akses pasar produk lokal, serta meningkatkan daya saing Situbondo di tingkat regional maupun internasional.
“Semoga kunjungan ini membawa dampak positif dan bisa membuat Kabupaten Situbondo melesat naik kelas,” pungkasnya.
Momentum Penguatan Investasi dan Promosi Daerah
Kunjungan pengusaha Brunei ini juga menjadi bagian dari strategi promosi daerah untuk menarik investasi luar negeri. Dengan potensi pertanian yang kuat, destinasi wisata alam yang beragam, serta UMKM berbasis produk lokal, Situbondo dinilai memiliki peluang besar berkembang sebagai pusat ekonomi baru di kawasan tapal kuda Jawa Timur.
Jika kerja sama yang dijajaki dapat direalisasikan, maka tidak hanya berdampak pada peningkatan investasi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja, penguatan kapasitas pelaku usaha lokal, serta percepatan pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (Fia)
Editor : Kief