Situbondo – Puluhan karyawan yang selama ini mengelola kawasan Wisata Bahari Pasir Putih melakukan aksi protes dengan memblokade jalur Pantura, Senin (28/07/2025). Massa menutup akses jalan dengan melempar kursi ke tengah jalan dan berorasi, menyebabkan arus lalu lintas di jalur pantura sempat tersendat.
Aksi itu merupakan bentuk kemarahan para pekerja yang diberhentikan secara sepihak oleh pemerintah daerah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, mereka menerima keputusan pemutusan hubungan kerja yang berlaku mulai 31 Juli 2025. Tidak ada kompensasi ataupun solusi yang diberikan, meskipun sebagian dari mereka telah mengabdi selama puluhan tahun.
Kesaksian Karyawan: “Kami Sudah Mengabdi Puluhan Tahun”
Selama bertahun-tahun, para pekerja ini telah menjadi tulang punggung dalam pengelolaan dan pelayanan wisata Pasir Putih. Mereka turut berperan aktif dalam pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada 2023, misalnya, target Rp3,5 miliar berhasil dilampaui menjadi Rp3,9 miliar. Bahkan di tahun berikutnya, target Rp3,9 miliar juga berhasil tembus hingga Rp4,3 miliar.
“Kami ini bekerja sudah puluhan tahun, tiba-tiba diberhentikan secara sepihak tanpa kompensasi, tanpa hati nurani. Diundang rapat dengan agenda koordinasi pengelolaan Pasir Putih, yang isinya kami dipecat per tanggal 31 Juli 2025,” Ujar Fadoilul Rahman (45) salah seorang pekerja di wisata Pasir Putih.
Meski telah menunjukkan kontribusi nyata, keputusan sepihak tersebut dianggap menyakitkan dan tidak manusiawi. Banyak dari mereka mengaku tidak hanya kehilangan pekerjaan, namun juga merasa tidak dihargai atas pengabdian mereka selama ini.
Bupati Situbondo Temui Pengunjuk Rasa
Menanggapi situasi tersebut, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo turun langsung ke lokasi untuk berdialog dengan para pengunjuk rasa. Ia menyebut aksi tersebut sebagai bentuk reaksi spontan akibat rasa kecewa. Dalam pertemuan itu, Bupati mencoba menenangkan massa dan menyatakan bahwa pemerintah akan menampung aspirasi mereka.
Menurutnya, pantai Pasir Putih merupakan aset wisata unggulan yang perlu ditata ulang. Ia menekankan bahwa penataan sumber daya manusia menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas dan performa destinasi tersebut.
“Wisata ini sudah buruk perfomanya nanti kita akan naikkan, kita akan Naik Kelaskan Situbondo dengan Pasir putih, Namun saat ini kita perbaiki SDMnya terlebih dahulu.” Tutupnya.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk menjadikan Pasir Putih sebagai ikon wisata yang dikelola secara profesional, sejalan dengan target pengembangan pariwisata Situbondo.
Penataan Ulang Wisata, Harapan untuk Keadilan
Penataan ulang pengelolaan wisata tentu penting, namun nasib para pekerja lama juga harus mendapat perhatian serius. Kejelasan mengenai hak-hak mereka, termasuk kemungkinan kompensasi atau peluang kerja kembali dalam sistem baru, menjadi hal yang mendesak untuk segera dibahas bersama.Pengabdian selama puluhan tahun tak seharusnya diakhiri dengan pemecatan tanpa kejelasan. Dialog yang terbuka dan solusi yang berkeadilan kini menjadi tuntutan utama para pekerja.(Fia)
Editor : Mukhyidin Khifdhi