Surabaya, Jawa Timur – Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) kembali menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan menggencarkan operasi besar-besaran bertajuk “Operasi Pekat II Semeru 2025.” Operasi ini difokuskan pada pemberantasan berbagai bentuk penyakit masyarakat, khususnya aksi premanisme yang meresahkan warga.
Pelaksanaan operasi ini dimulai sejak awal Mei 2025 dan langsung membuahkan hasil signifikan. Dalam kurun waktu 10 hari, ratusan kasus berhasil diungkap, dan ratusan pelaku diamankan untuk diproses hukum.
Ratusan Kasus Premanisme Terungkap, Ratusan Pelaku Diamankan
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Sabtu (10/5/2025) dan Minggu (11/5/2025), Operasi Pekat II Semeru 2025 telah menangani lebih dari 1.200 kasus, dengan 224 di antaranya terkait langsung dengan aksi premanisme. Dari kasus-kasus tersebut, polisi menetapkan sebanyak 312 hingga 370 orang sebagai tersangka.
Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menyebutkan bahwa jumlah tersebut merupakan bukti nyata keseriusan aparat dalam menindak segala bentuk kriminalitas yang mengganggu stabilitas sosial di Jawa Timur.
Sasaran Operasi: Dari Pungli, Pemalakan, hingga Tawuran Perguruan Silat
Operasi ini menyasar beragam bentuk premanisme, termasuk:
• Pungutan liar (pungli) di area publik seperti terminal, pasar, dan parkiran liar.
• Pemalakan dan pemerasan, khususnya oleh oknum yang mengaku sebagai anggota organisasi tertentu.
• Debt collector ilegal yang melakukan penagihan utang dengan cara kekerasan atau intimidasi.
• Aksi kekerasan jalanan, termasuk kelompok remaja yang melakukan balap liar hingga tawuran.
Polda Jatim juga menaruh perhatian serius terhadap konflik antarperguruan silat, yang dalam beberapa tahun terakhir memicu kekerasan dan keresahan di berbagai wilayah. Anggota perguruan yang terbukti terlibat dalam kekerasan akan ditindak tegas tanpa pandang bulu.
Langkah Tegas Polda Jatim Dapat Apresiasi dari Pemerintah Pusat
Tindakan tegas dan responsif Polda Jatim mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) menyampaikan penghargaan atas keberanian dan ketegasan aparat dalam memberantas premanisme.
Menurut Kemenko Polhukam, keamanan yang kondusif menjadi elemen penting dalam menciptakan iklim sosial dan ekonomi yang stabil. Upaya Polda Jatim dinilai tidak hanya menjaga rasa aman masyarakat, tetapi juga mendukung masuknya investasi ke Jawa Timur.
Imbauan kepada Masyarakat: Aktif Melapor, Polda Jatim Siap Melindungi
Kombes Pol Jules Abraham Abast mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam pemberantasan premanisme. Ia menegaskan bahwa setiap laporan dari warga akan segera ditindaklanjuti oleh petugas kepolisian.
“Segera laporkan jika mengalami atau melihat aksi premanisme. Kami menjamin keamanan dan perlindungan bagi setiap pelapor. Jangan takut karena Polri hadir untuk rakyat,” ujar Kombes Abast.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan call center 110 milik Polri untuk menyampaikan informasi dan pengaduan secara cepat.
Strategi Jangka Panjang: Jawa Timur Aman dan Nyaman
Polda Jatim memastikan bahwa pemberantasan premanisme bukan sebatas penindakan sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam menciptakan Jawa Timur yang lebih aman dan tertib. Selain penegakan hukum, pembinaan juga dilakukan kepada organisasi masyarakat (ormas) agar menjalankan aktivitas sesuai hukum dan tidak menyimpang dari tujuan sosialnya.
Sebagai contoh, Polres Blitar telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Premanisme yang fokus pada pencegahan dan respons cepat terhadap laporan masyarakat.
Polda Jatim Tegas, Masyarakat Tenang
Operasi Pekat II Semeru 2025 menandai komitmen berkelanjutan Polda Jatim dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari aksi premanisme. Keberhasilan dalam mengungkap ratusan kasus dan penangkapan ratusan tersangka menjadi bukti bahwa kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Polda Jatim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban. Dengan kerja sama antara aparat dan warga, cita-cita mewujudkan Jawa Timur yang damai, nyaman, dan bebas dari ketakutan bukan lagi sekadar harapan.(Ron)