Salawatan Nariyah: Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad SAW
Situbondo – Korcam Salawat Nariyah Ittihad se-Kecamatan Kapongan, Situbondo, mengadakan acara salawatan sekaligus peluncuran aplikasi Ittisholana yang berlangsung di Pondok Dalam Selatan Pondok Pesantren Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan.
Acara salawatan dan peluncuran aplikasi Ittisholana ini dihadiri oleh 139 titik jamaah Salawat Nariyah dari seluruh Kecamatan Kapongan, serta dihadiri oleh para ulama terkemuka seperti KH Syainuri Sufyan, KH Aidy Makmun Sufyan, KH Zaini Shonhaji, Dr. Mithahusyurur, Habib Husen bin Syech Abu Bakar, KH Zaki Abdullah, KH Syamrawi, Lora Mujib, dan Lora Syaifuddin.
Ketua panitia peluncuran Ittisholana, Zeini Kholil, mengungkapkan bahwa acara ini dihadiri oleh sekitar 1.000 jamaah Salawat Nariyah dari se-Kecamatan Kapongan. Meskipun peluncuran aplikasi ini berlangsung sederhana, namun sangat bermakna.
“Hadir pula koordinator Salawat Nariyah Kabupaten Jember yang memberikan motivasi agar Salawat Nariyah dapat tersebar di seluruh Indonesia, sesuai dengan cita-cita almarhum KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin,” ujar Zeini Kholil, ketua panitia peluncuran Ittisholana.
Lebih lanjut, Zeini Kholil menyatakan bahwa kegiatan Salawat Nariyah dan peluncuran aplikasi Ittisholana ini berjalan sukses. “Alhamdulillah, motivasi dari para kiai juga sangat meningkatkan semangat jamaah Salawat Nariyah,” tambahnya.
Sementara itu, KH Syainuri Sufyan dalam dawuhnya kepada 1.000 jamaah Salawat Nariyah se-Kecamatan Kapongan menjelaskan bahwa beliau sejalan dengan dawuh yang disampaikan Kiai Miftahul Arifin Bin Hasan dari Kabupaten Jember.
“Ketika kita ingin mengajak masyarakat bergabung dalam jamaah Salawat Nariyah, kita harus memahami karakter masyarakat yang akan kita ajak. Bagi mereka yang ingin mengajak masyarakat, sebaiknya sudah khatam membaca 4.444 kali Salawat Nariyah. Mengajak masyarakat untuk bergabung dengan jamaah yang sudah ada tidak boleh dengan paksaan,” jelasnya.
KH Syainuri Sufyan menambahkan, jika yang mengajak masyarakat fokus pada membaca salawat, maka itu berbeda dengan orang yang hanya pandai berbicara.
“Bagi mereka yang sudah terbiasa membaca salawat, cara mengajak masyarakat untuk ikut bersalawat adalah untuk mengagungkan Allah SWT dan menunjukkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, bukan untuk memperbesar majelis atau jamaah,” tutup KH Syainuri Sufyan.(Fia)
Editor : Mukhyidin Khifdhi