Tuban – Suasana belajar di SMKN Tambakboyo, Kabupaten Tuban, pada Selasa pagi (14/10/2025) mendadak berubah panik. Beberapa siswi mengeluh pusing dan mual usai menyantap nasi goreng dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Awalnya kami kira hanya masuk angin, tapi ternyata makin parah,” kata Humas SMKN Tambakboyo, Mashuda, Rabu (15/10/2025).
Enam siswa sempat dirawat di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), namun karena gejala terus memburuk, mereka dilarikan ke Puskesmas Tambakboyo. Dua siswa lain menyusul dengan keluhan serupa. Total delapan siswa menjalani perawatan medis sebelum akhirnya dinyatakan pulih.
Sekolah Minta Pembenahan Total Program MBG
Pihak sekolah menegaskan, kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Menurut Mashuda, sekolah hanya penerima manfaat dari program MBG yang dilaksanakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Glondonggede.
“Semua sudah kami laporkan ke pihak SPPG. Kami berharap ada pembenahan total, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” tegasnya.
Tiga bulan sebelumnya, SPPG Glondonggede juga pernah disorot setelah makanan yang dikirim ke sekolah itu ditemukan mengandung larva serangga. Video temuan tersebut sempat viral di media sosial dan menuai kritik publik.
Dua kasus beruntun dari penyedia yang sama kini membuat pihak sekolah menuntut adanya audit dan pengawasan ketat terhadap dapur penyedia MBG.
SPPG Glondonggede Tutup Mulut, Dapur Produksi Sepi
Upaya konfirmasi ke pihak SPPG Glondonggede tidak membuahkan hasil. Lokasi dapur yang bersebelahan dengan warung makan Putra Jaya tampak sepi tanpa aktivitas memasak.
“Mohon maaf, Mas, di sana sudah tidak beroperasi sejak kemarin,” ujar seorang juru parkir yang ditemui di lokasi.
Program MBG dirancang untuk memastikan siswa memperoleh asupan gizi seimbang. Namun lemahnya pengawasan di lapangan dikhawatirkan bisa menimbulkan resiko kesehatan pada siswa.
Kejadian di SMKN Tambakboyo harus menjadi bahan evaluasi bahwa program bergizi tak hanya soal menyediakan makanan, tapi juga soal tanggung jawab dan standar keamanan pangan yang ketat. (Az)
Editor : Kief