PROBOLINGGO, JATIM – Curah hujan yang tinggi selama sepekan terakhir di wilayah Probolinggo telah mengakibatkan belasan hektare tambak garam gagal panen. Salah satu kawasan terdampak adalah Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, di mana aktivitas produksi garam terhenti akibat hujan yang tak kunjung reda.
Hamparan tambak garam di desa tersebut terlihat sepi tanpa aktivitas. Para petani memilih membiarkan tambak mereka terisi campuran air laut dan air hujan. Meski demikian, mereka tetap mengawasi dan mengatur masuknya air laut ke tambak meski hasilnya nihil.
Keresahan Petani Tambak Garam di Probolinggo
Suparyono, anggota kelompok tani tambak garam di Desa Kalibuntu, mengungkapkan bahwa dari total 17 hektare tambak garam di desanya, sebagian besar mengalami kerugian akibat gagal panen. “Tambak kami sudah seperti lautan karena hujan hampir setiap hari. Hasil garamnya tidak sampai satu sak, bahkan tidak layak dijual,” jelas Suparyono pada Minggu (15/12/2024).
Baca juga: Peringati Hari Santri 2024, Begini Pesan PJ Walikota Probolinggo
Ia menambahkan, garam yang dihasilkan saat ini hanya digunakan sebagai campuran pakan ternak. “Biasanya, dari 17 hektare tambak, hasil panen di musim normal bisa mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta,” ujarnya.
Namun, kondisi saat ini memaksa para petani menghentikan produksi hingga musim kemarau tiba. Suparyono berharap pemerintah memberikan perhatian lebih, terutama terkait pinjaman modal untuk mendukung keberlangsungan usaha petani garam. “Sejak pandemi COVID-19, sudah lama tidak ada pinjaman lunak. Kami sangat membutuhkan bantuan modal awal,” tambahnya.
Tambak garam di Desa Kalibuntu memiliki potensi besar. Dalam kondisi normal, satu petak tambak berukuran 12 meter x 50 meter mampu menghasilkan hingga 11 ton garam setiap panen. Namun, curah hujan tinggi yang terus-menerus membuat tambak seluas 600 hektare, termasuk wilayah lain di Probolinggo, mengalami dampak yang signifikan.
Editor : Agus Susanto