Ruang Kolaborasi Seni dan Alam di Tepi Pantai
Tuban – Ratusan orang memadati kawasan Pantai Cemara, Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 19 Juli 2025, dalam gelaran kreatif bertajuk The Coastal Bloom. Acara ini diselenggarakan oleh komunitas kreatif Jurnal Papar, yang sukses menyatukan beragam elemen seni dalam satu ruang terbuka yang memadukan keindahan alam dengan eksplorasi artistik.
Mengusung tema Eclectric Tuban, The Coastal Bloom bukan sekadar pameran biasa. Ia menjelma menjadi perayaan lintas disiplin yang menggabungkan pameran karya seni, instalasi fotografi, pertunjukan busana, hingga yoga di tepi pantai. Suasana santai berpadu dengan nuansa kontemplatif, menjadikan acara ini magnet baru bagi pelaku kreatif maupun masyarakat umum.
Karya Mahasiswa dan Komunitas Lokal Ramaikan Panggung Kreatif
Bertempat di D’Cemara Cafe & Resto, pameran ini menampilkan karya-karya mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bisnis Tuban, Komunitas Fotografi Indonesia Tuban, serta perancang dan seniman lokal. Salah satu daya tarik utama adalah instalasi fotografi berpadu grafis dan seni tekstil yang membentang di ruang terbuka, langsung menghadap semilir angin pantai.
“Pamerannya unik. Ini bukan hanya soal karya, tapi juga bagaimana kita diajak merasakan suasana kreatif yang hidup,” kata Selkya, pengunjung asal Palang, Tuban.
Yoga di Tepi Laut: “Sunset Flow” yang Menenangkan Jiwa
Tak hanya visual, pengunjung juga diajak terlibat dalam pengalaman spiritual lewat sesi yoga terbuka bertema Sunset Flow yang dipandu instruktur dari Flower Yoga Tuban. Sebanyak 19 peserta tampak mengikuti dengan khidmat sesi senja yang menyatu dengan suara debur ombak.
“Ini pengalaman pertama saya yoga di pantai. Rasanya menenangkan sekali,” ungkap Ita, salah satu peserta.
Busana dan Identitas Lokal: Gaun Instalatif Penuh Cerita
Di antara karya-karya yang mencuri perhatian adalah tiga instalasi busana dari desainer lokal, Kharisma. Koleksi bertajuk “Ningsih”, “Thousand Benefit”, dan “Blue Jewel Lotus” menampilkan eksplorasi narasi tentang perempuan, kekayaan alam Tuban, hingga filosofi budaya Tionghoa.
“Busana-busana ini tidak hanya indah, tapi punya makna simbolik yang kuat. Ini seperti membaca puisi lewat kain,” ujar seorang pengunjung.
Diskusi dan Apresiasi: Membangun Ruang Kreatif Alternatif
Selain pameran dan pertunjukan, acara ini juga membuka sesi diskusi santai bertema seni, fotografi, dan gaya hidup bersama komunitas Navagreen. Diskusi ini menjadi ajang tukar gagasan antara pengunjung dan pelaku kreatif lokal.
“Acara seperti ini langka dan harus sering dibuat. Bisa jadi pionir ruang diskusi dan apresiasi seni di Tuban,” kata Engki Anom Suseno, seorang pengacara yang hadir sebagai pengunjung.
Ruang Kreatif Daerah yang Tumbuh dari Inisiatif Komunitas
Menurut Emha, selaku Art Director pameran, konsep terbuka menjadi kekuatan utama acara ini. Meski cuaca sempat tak bersahabat, pengunjung tetap datang dan memenuhi area kegiatan.
“Angin cukup kencang, tapi justru memberi sensasi alami. Banyak yang datang bahkan sampai kehabisan tempat duduk,” ujarnya.
Pihak penyelenggara, Jurnal Papar, menekankan bahwa The Coastal Bloom bukan hanya ajang pamer karya, melainkan ruang belajar yang inklusif dan partisipatif. Kegiatan ini membuktikan bahwa ruang alternatif untuk berkarya, berdiskusi, dan merayakan kreativitas bisa tumbuh di daerah, bukan hanya monopoli kota besar.
Energi Baru bagi Ekosistem Kreatif Tuban
The Coastal Bloom telah memberikan semangat baru bagi geliat kesenian dan kreativitas di Tuban. Melalui keberanian untuk menampilkan seni dalam format terbuka dan kolaboratif, acara ini memberi harapan baru bagi tumbuhnya ekosistem kreatif berbasis komunitas dan keberagaman ekspresi.
Dengan respon positif dari publik, besar harapan acara serupa bisa menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya dan potensi lokal Tuban di pentas seni yang lebih luas.(Aj)
Editor : Mukhyidin Khifdhi