Tuban – Suasana di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, mendadak berubah muram pada Selasa (19/08/2025). Hujan deras disertai angin kencang yang datang tiba-tiba membuat tiga kapal nelayan karam, sementara tujuh kapal lainnya mengalami kerusakan ringan hingga parah.
Ombak Tinggi Hantam Kapal yang Bersandar
Biasanya, setiap sore puluhan kapal nelayan berjejer rapi di pelabuhan TPI Palang. Namun siang itu, kondisi berbalik. Ombak besar dari arah barat menghantam kapal-kapal yang sedang bersandar. Benturan keras membuat beberapa lambung kayu pecah, hingga akhirnya tiga kapal milik nelayan setempat karam.
Ketiga kapal itu milik nelayan Palang, yakni Ashari, Solin, dan Agus. Kapal-kapal tersebut sehari-hari digunakan untuk mencari ikan hingga ke perairan Kalimantan dan Sulawesi.
“Sekarang masih coba evakuasi barang-barang yang ada di kapal, Mas. Jumlah kapal yang rusak ya tiga ini,” kata Yaskuri, salah satu anak buah kapal (ABK), Rabu (20/08/2025).
Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
Solin, salah satu pemilik kapal, memperkirakan kerugian mencapai Rp150 juta. Menurutnya, perbaikan kapal akan memakan waktu lama dan membuat aktivitas melaut berhenti total.
“Kalau bisa pemerintah hadir membantu. Bukan hanya soal bantuan, tapi juga infrastruktur pelabuhan. Kita butuh pemecah ombak agar kapal aman saat bersandar,” ungkapnya.
Pemecah Ombak untuk Nelayan Palang
Kepala Desa Palang, As’ad, mengungkapkan peristiwa serupa pernah terjadi lima tahun lalu. Ia menilai, kerentanan pelabuhan terhadap cuaca ekstrem sudah saatnya diantisipasi dengan pembangunan infrastruktur pelindung.
“Dari kejadian kemarin setidaknya tujuh kapal mengalami kerusakan. Tiga kapal rusak parah, empat kapal lainnya rusak ringan. Saya meminta fasilitas pelabuhan diperbaiki, minimal dibangun pemecah ombak agar nelayan tidak selalu waswas,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Tuban Lakukan Kajian
Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban, Eko Julianto, menyatakan pihaknya akan segera menurunkan tim untuk melakukan kajian lapangan.
“Kami akan membuat kajian terlebih dahulu,” ujarnya singkat.
Tanpa dukungan infrastruktur memadai, laut yang menjadi sumber penghidupan mereka sekaligus menjadi medan penuh risiko yang bisa menguras harta, tenaga, bahkan nyawa. (Az)
Editor : Kief