Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Inlander Band Siswa Asal Tuban Bawa Rytm Baru di Dunia Musik

- Reporter

Selasa, 13 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Personel Band Inlander (gambar : ist.)

Personel Band Inlander (gambar : ist.)

Tuban – Ketika lagu-lagu bertema cinta ramai menghiasi industri musik, lima remaja asal Kabupaten Tuban, Jawa Timur, justru memilih jalan berbeda. Mereka tidak sedang meratapi patah hati atau mengejar romantisme. Lewat band Inlander, mereka melontarkan kritik tentang kekuasaan, keadilan yang terpinggirkan, hingga suara rakyat yang kerap diabaikan.

Kritik itu mereka tuangkan dalam lagu berjudul Juang Pertiwi. Bukan sekadar komposisi musik, karya tersebut menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan terhadap realitas sosial sekaligus mengingatkan bahwa idealisme anak muda belum kehilangan nyalanya.

Menariknya, pesan tersebut lahir dari sekelompok pelajar yang kini menempuh pendidikan di sekolah berbeda. Mereka adalah Elena Melvin Khansa Zipi Almaghfira dari SMAN 1 Tuban, Saskiea Evaneisa dan Mardiana Adinda dari SMAN 3 Tuban, Rama Saputra dari SMAN 2 Tuban, serta Aditya Pragita Putra dari SMKN 1 Tuban.

Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin mampu menghasilkan karya kreatif, Inlander memilih menyuarakan sesuatu yang berangkat dari kepekaan manusia: kegelisahan melihat ketidakadilan dan keputusan yang berpotensi menyengsarakan masyarakat.

“Kami ingin lagu ini menjadi refleksi bagi kita semua, agar tidak melahirkan keputusan yang justru menyengsarakan masyarakat,” ujar Mardiana Adinda, gitaris Inlander, Sabtu (10/10/2026).

Pesan itu menjadi benang merah Juang Pertiwi. Lagu tersebut tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi membawa pertanyaan tentang arti perjuangan ketika keadilan dan nurani justru tersisih oleh kepentingan kekuasaan.

Perjalanan Inlander bukan cerita tentang band yang tiba-tiba muncul dengan idealisme politik. Benih kreativitas mereka telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP Negeri 5 Tuban.

Di sekolah itulah mereka mulai membangun kedekatan dengan musik dan seni. Lirik Juang Pertiwi sendiri ditulis oleh guru mereka, Hikho Wasa, yang menempatkan seni bukan sekadar kegiatan untuk mengejar prestasi, melainkan sarana membangun kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Bagi Hikho, karya seni seharusnya mampu melampaui batas keindahan. Seni perlu menghadirkan gagasan, menggugah kesadaran, dan membuka ruang bagi kritik terhadap keadaan yang dianggap tidak semestinya.

Jejak perjalanan mereka juga terekam dalam berbagai kegiatan seni di Tuban sejak 2024. Kelompok muda ini turut terlibat dalam karya teatrikal yang meraih prestasi di ajang seni tingkat daerah.

Kini, para personel telah melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK. Namun, perbedaan sekolah membawa tantangan baru: menjaga kekompakan di tengah jadwal belajar dan kesibukan yang tidak lagi sama.

Berkumpul untuk latihan saja membutuhkan penyesuaian. Belum lagi ketika mereka harus menyiapkan video klip untuk mendukung pesan lagu yang dibawakan.

“Mengumpulkan teman-teman sekarang jauh lebih sulit karena sekolah sudah berbeda. Kami harus mencuri waktu di tengah kelonggaran jadwal masing-masing, baik untuk latihan maupun saat pembuatan video klip,” kata Mardiana, yang akrab disapa Adin.

Kesulitan itu tidak lantas membuat mereka berhenti. Di antara tuntutan akademis dan aktivitas sekolah, Inlander berupaya mempertahankan ruang untuk terus berkarya.

Kekuatan Juang Pertiwi terletak pada liriknya yang berani menyinggung persoalan moral, kekuasaan, dan nasib suara rakyat. Pada bagian verse, lagu ini menggambarkan bagaimana ambisi kekuasaan dapat menggerus nilai perjuangan dan menginjak kebudayaan.

“Kemunafikan yang duduk mengangkang, injak budaya, segala perjuangan yang digaungkan, terbungkam kuasa.”

Kritik itu semakin tegas pada bagian refrain. Keadilan, nurani, dan kejujuran digambarkan sebagai nilai yang terancam, sementara suara masyarakat justru tersisih.

“Adil dan nurani yang dilecehkan, merenggut kejujuran yang diasingkan. Suara rakyat dimarjinalkan, pekik merdeka jadi tangis duka.”

Bait-bait tersebut menjadi inti kegelisahan yang ingin mereka sampaikan. Ada jarak antara semangat perjuangan yang kerap digaungkan dan kenyataan ketika suara masyarakat tidak memperoleh tempat semestinya.

Melalui musik, Inlander mencoba membawa persoalan itu lebih dekat kepada pendengar, terutama generasi muda. Kritik tidak selalu harus disampaikan melalui orasi atau demonstrasi. Nada, lirik, dan visual juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan sikap.

Hikho Wasa mengaku bangga melihat mantan anak didiknya tetap mengembangkan kreativitas setelah meninggalkan bangku SMP. Menurut dia, keberhasilan mereka membawakan Juang Pertiwi melalui perpaduan nada dan visual menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat melahirkan anak muda yang berani mengekspresikan gagasan.

“Saya bangga dengan anak-anak yang bisa dikatakan sukses membawakan lagu ini dengan nada dan pembawaan visual yang hidup,” terangnya.

Kebanggaan itu bukan semata-mata karena mereka mampu menghasilkan karya musik. Lebih dari itu, para remaja tersebut masih membawa semangat yang ditanamkan sejak sekolah: berkarya dengan gagasan dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial.

Di tengah anggapan bahwa generasi muda cenderung apatis terhadap persoalan publik, Juang Pertiwi menghadirkan suara berbeda. Lima pelajar dari Tuban ini menunjukkan bahwa kegelisahan terhadap keadaan dapat diolah menjadi karya yang mengundang pendengar untuk berpikir.

Mereka mungkin belum berada di panggung besar industri musik nasional. Namun, melalui karya ini, Inlander telah memilih posisi tidak sekadar menjadi penonton atas persoalan di sekitarnya.

Dari Tuban, mereka mengirimkan pesan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang pekik yang diwariskan dari masa lalu, melainkan juga tentang keberanian menjaga keadilan, merawat nurani, dan memastikan suara masyarakat tidak kehilangan tempatnya. Sebab, selama masih ada ketidakadilan yang perlu dipertanyakan, seni tetap memiliki ruang untuk bersuara.

“Dan seni akan selalu menemukan cara untuk tetap melawan,” pungkas Hikho.(Az/Kiev)

Editor : Mukhyidin Khifdi

Berita Terkait

Perceraian di Tuban Meningkat, Ekonomi dan Perselingkuhan Jadi Biang Kerok
Gus Lilur Laporkan Dugaan Suap Muktamar NU ke KPK
Diiringi Barongsai Menuju Altar, Pengukuhan Pengurus Klenteng Tuban Berlangsung Khidmat
Kebakaran Rumah Lansia di Singgahan Tuban, Kerugian Ditaksir Rp150 Juta
Antara Tennis Party 2026 Perluas Peta Persaingan Tenis di Tuban
Dugaan Riswah Muktamar NU: Gus Lilur Sebut Hotel di Surabaya hingga Posko di Jombang
Dugaan Transaksi Uang dalam Muktamar NU, Kesaksian Gus Lilur Perlu Diuji
Tiga Hari Hilang, ABK MV Khatulistiwa 8 Ditemukan Tewas di Perairan Tuban

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Inlander Band Siswa Asal Tuban Bawa Rytm Baru di Dunia Musik

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Perceraian di Tuban Meningkat, Ekonomi dan Perselingkuhan Jadi Biang Kerok

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:17 WIB

Gus Lilur Laporkan Dugaan Suap Muktamar NU ke KPK

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Diiringi Barongsai Menuju Altar, Pengukuhan Pengurus Klenteng Tuban Berlangsung Khidmat

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Kebakaran Rumah Lansia di Singgahan Tuban, Kerugian Ditaksir Rp150 Juta

Berita Terbaru

Personel Band Inlander (gambar : ist.)

Pendidikan

Inlander Band Siswa Asal Tuban Bawa Rytm Baru di Dunia Musik

Selasa, 13 Okt 2026 - 19:26 WIB

Dokumen tanda bukti penerimaan laporan pengaduan masyarakat di KPK tertanggal 12 Oktober 2026 yang berkaitan dengan laporan dugaan suap Muktamar ke-35 NU oleh Gus Lilur, (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Politik

Gus Lilur Laporkan Dugaan Suap Muktamar NU ke KPK

Selasa, 13 Okt 2026 - 14:17 WIB

Banner Liputansatu
Banner Liputansatu
Banner Liputansatu