Situbondo – Bocah 10 tahun bernama Revan Harianto kini terbaring lemah di RSUD Abdoer Rahem, Situbondo, akibat penyakit yang diduga busung lapar. Perutnya membesar, tubuhnya kurus kering, dan kulitnya bersisik, menampilkan kondisi yang memprihatinkan dan memicu keprihatinan masyarakat.
Revan ditemani neneknya, Darmani (77), yang merawat cucunya sejak orang tua Revan bercerai tiga tahun lalu. Saat ini, Revan berada di Pediatric Intensive Care Unit (PICU), ruangan khusus anak yang memerlukan pengawasan intensif. Seluruh tubuhnya dipasangi alat medis, mulai dari infus, kateter, oksigen, hingga monitor jantung. Kulitnya terlihat kecoklatan dan bersisik di hampir seluruh tubuh.
Hidup Bersama Nenek, Bertahun-tahun Tanpa Bantuan
Darmani menceritakan bahwa Revan mulai sakit sejak tinggal bersamanya. “Sejak tinggal sama saya memang sudah sakit tapi tidak separah ini. Dulu sempat dibawa berobat oleh ibunya, biayanya habis Rp10 juta, setelah itu pengobatan dihentikan karena tidak ada uang lagi,” ujarnya, Kamis (14/08/2025).
Ibu Revan kini bekerja di Malaysia dan tidak memberi kabar selama tiga tahun. Sedangkan ayahnya tinggal dekat rumah Darmani, namun tidak pernah menjenguk cucunya. Setiap hari, Revan hanya ditemani neneknya yang harus bekerja sebagai buruh tani. “Setiap hari saya meninggalkannya meski sakit, sore baru sampai rumah,” kata Darmani dengan suara lemah.
Viral di Media Sosial dan Respon Pemdes
Kondisi Revan yang memburuk akhirnya menarik perhatian tetangga, Zainul, yang memutuskan mengunggah foto dan videonya di media sosial. Video ini pun menjadi viral, memicu keprihatinan luas. “Jarak rumah saya sekitar 1 kilometer dari rumah Revan. Waktu itu saya dengar kabar dari mulut ke mulut kalau ada anak sakit, lalu saya ke rumahnya,” ujar Zainul.
Hanya setelah viral, pemerintah Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Situbondo, menjemput Revan. Bocah malang itu dibawa ke Puskesmas setempat, lalu dirujuk ke RSUD Abdoer Rahem untuk mendapatkan perawatan intensif.
Darmani menyesalkan respons yang lambat. Ia mengungkapkan, “Pemerintah desa baru bergerak setelah viral. Padahal Revan sudah sakit bertahun-tahun. Saya juga tidak pernah menerima bantuan, termasuk BPJS Kesehatan gratis.”
Viralitas media sosial memang mempercepat respons, tetapi idealnya penanganan kesehatan anak dilakukan tanpa harus menunggu sorotan publik.
Kasus ini juga menegaskan pentingnya data penerima bantuan sosial yang akurat, agar anak-anak yang membutuhkan perawatan dapat segera memperoleh akses layanan kesehatan tanpa hambatan. (Fia)
Editor : Kief












