Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

“Harga Tetap Rp18 Ribu”, Pernyataan Diskopumdag Tuban Disorot di Tengah Kenaikan Harga LPG di Lapangan

- Reporter

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga, khususnya ibu rumah tangga, tampak berebut LPG 3 kg di tengah keterbatasan stok dan tingginya harga di tingkat pengecer. Di sisi lain, pernyataan Kepala Diskopumdag Tuban yang menyebut harga pangkalan tetap Rp18 ribu justru menuai sorotan publik, (Ilustrasi/Liputansatu.id).

Warga, khususnya ibu rumah tangga, tampak berebut LPG 3 kg di tengah keterbatasan stok dan tingginya harga di tingkat pengecer. Di sisi lain, pernyataan Kepala Diskopumdag Tuban yang menyebut harga pangkalan tetap Rp18 ribu justru menuai sorotan publik, (Ilustrasi/Liputansatu.id).

Tuban – Kenaikan harga gas elpiji subsidi di tingkat pengecer mulai menimbulkan keresahan di masyarakat. Namun, pernyataan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Tuban justru menuai sorotan karena dinilai belum menyentuh persoalan utama di lapangan.
Kepala Diskopumdag Tuban, Gunadi, saat dimintai tanggapan hanya memberikan jawaban singkat.
“Harga di pangkalan tetap Rp18 ribu, kan?” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu tanda tanya, mengingat fakta di lapangan menunjukkan harga LPG yang dibeli masyarakat di tingkat pengecer jauh lebih tinggi dari harga resmi.

Realita Lapangan: Mahal, Tapi Tetap Diperebutkan

Di sejumlah wilayah, masyarakat justru membeli LPG di tingkat pengecer dengan harga jauh di atas ketentuan. Bahkan di Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, warga dilaporkan harus antre hingga berebut untuk mendapatkan gas. Situasi ini diduga dipicu oleh distribusi yang tidak merata serta selisih harga antara pangkalan resmi dan pengecer yang cukup tinggi.
Di titik ini, muncul pertanyaan mendasar:
Jika benar LPG tersedia dengan harga wajar di pangkalan, mengapa masyarakat rela berebut membeli di tempat yang lebih mahal?
Logika sederhananya, masyarakat tidak mungkin memilih membeli lebih mahal jika akses terhadap harga resmi benar-benar mudah dan tersedia.
Fenomena ini mengindikasikan adanya persoalan yang lebih dalam—baik dari sisi distribusi, akses, maupun pengawasan.

Harga di Toko Melambung, Masyarakat Tertekan

Di berbagai titik di Kabupaten Tuban, masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan LPG dengan harga sesuai ketentuan. Meski stok di toko tersedia, harga yang ditawarkan kerap melampaui harga pangkalan.
Kondisi ini tidak hanya membebani rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada LPG subsidi.

Dampak paling nyata dirasakan pelaku Pedagang Kaki Lima (PKL), khususnya sektor makanan dan minuman di kawasan Jalan Basuki Rahmad.
Abdi, penjual tahu tek, mengaku harus menaikkan harga jual dari Rp10 ribu menjadi Rp11 ribu per porsi akibat naiknya harga gas.
“Belinya tidak sulit, ada di toko terdekat. Tapi harganya jauh dari harga pangkalan,” katanya.
Sementara itu, pedagang lain memilih strategi berbeda dengan mengurangi porsi agar harga tetap terjangkau bagi konsumen.

Distribusi dan Pengawasan Dipertanyakan

Kondisi di lapangan memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas pengawasan distribusi LPG subsidi. Pernyataan resmi yang hanya menegaskan harga pangkalan dinilai belum menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat.
Sejumlah pihak menilai pemerintah daerah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi LPG, terutama pada jalur distribusi hingga ke tingkat pengecer yang menjadi titik akses utama masyarakat.

Dampak Sosial Berpotensi Meluas

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memperluas dampak sosial dan ekonomi, mulai dari menurunnya daya beli masyarakat hingga terganggunya usaha kecil.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah, tidak hanya sebatas pernyataan normatif, tetapi juga solusi nyata yang mampu menekan harga dan memastikan distribusi LPG subsidi berjalan adil dan tepat sasaran. (Aj)

Berita Terkait

AMT TBBM Tuban Melawan: Diancam PHK Massal, Pekerja Tantang Perusahaan “Pergi Sekalian!”
AMT TBBM Tuban Mogok Total, Distribusi BBM Lumpuh: PHK Diduga Hanya Pemicu Awal
Minyak Kita Langka di Tuban, Alarm Baru Krisis Distribusi Bapokting
Cuaca Tuban Terasa Menyengat, BMKG Ungkap Penyebab dan Peringatan Kemarau Ekstrem
Internet Desa Rp2,5 Juta Dikeluhkan Lemot, Program Tuban Desa Digital Disorot
Proyek Taman (RTH) Rp58 Miliar Disorot DPRD Tuban, Jalan Rawan Kecelakaan Dinilai Lebih Mendesak
840 Tabung LPG Menuju Pati: Ada Dugaan Jaringan Besar di Balik Kasus Tuban?
Kinerja Moncer, Polres Tuban Raih Penghargaan Penanganan Perkara dan Ops Pekat

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 21:33 WIB

AMT TBBM Tuban Melawan: Diancam PHK Massal, Pekerja Tantang Perusahaan “Pergi Sekalian!”

Jumat, 10 April 2026 - 19:50 WIB

AMT TBBM Tuban Mogok Total, Distribusi BBM Lumpuh: PHK Diduga Hanya Pemicu Awal

Jumat, 10 April 2026 - 18:03 WIB

Minyak Kita Langka di Tuban, Alarm Baru Krisis Distribusi Bapokting

Kamis, 9 April 2026 - 19:43 WIB

Cuaca Tuban Terasa Menyengat, BMKG Ungkap Penyebab dan Peringatan Kemarau Ekstrem

Kamis, 9 April 2026 - 19:29 WIB

Internet Desa Rp2,5 Juta Dikeluhkan Lemot, Program Tuban Desa Digital Disorot

Berita Terbaru

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id