Tuban — Ruas jalan penghubung Kecamatan Widang–Rengel di Kabupaten Tuban berubah menjadi ancaman bagi pengguna jalan. Puluhan lubang dengan ukuran bervariasi tersebar di sepanjang badan jalan, memicu kecelakaan, terutama pada malam hari dan saat musim hujan.
Kondisi paling parah terlihat di wilayah Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang. Lubang berdiameter 10 hingga 50 sentimeter dengan kedalaman mencapai 5 hingga 10 sentimeter menganga di banyak titik, cukup untuk mengganggu keseimbangan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Bagi pengendara, kerusakan ini bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, melainkan risiko nyata. Genangan air yang menutup permukaan jalan membuat lubang tak terlihat, diperparah minimnya penerangan di malam hari.
“Sudah sering ada yang jatuh, apalagi malam hari. Lampu penerangan minim, jadi lubangnya tidak kelihatan,” ujar Ahmad, warga setempat.
Risiko Nyata, Penanganan Lambat
Kerusakan jalan disebut telah berlangsung lama dan kian memburuk saat musim hujan. Air yang menggenang tidak hanya mempercepat kerusakan, tetapi juga meningkatkan potensi kecelakaan.
Di tengah kondisi tersebut, warga memilih bertindak sendiri. Sejumlah titik lubang ditambal secara swadaya sebagai upaya darurat untuk mengurangi risiko.
“Ada yang ditambal sendiri oleh warga karena sudah membahayakan,” kata Ahmad.
Langkah swadaya ini menjadi penanda bahwa risiko di lapangan sudah melampaui batas toleransi warga.
Jalur Vital, Perbaikan Dipertanyakan
Keluhan juga datang dari Murtono, warga lainnya. Ia menilai jalan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan beberapa kecamatan, namun tidak mendapat penanganan maksimal.
“Ini jalur penting, tapi rusaknya sudah lama. Harusnya diperbaiki total, bukan tambal sulam. Apa harus ada korban dulu baru ditangani serius?” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan keresahan warga atas pola penanganan yang dinilai reaktif, bukan preventif.
Respons Pemerintah dan Batasannya
Camat Widang, Suwarsono, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat. Ruas jalan tersebut, menurut dia, telah masuk dalam rencana pemeliharaan tahun anggaran 2026.
Sebagai langkah awal, pemerintah melakukan penambalan di sejumlah titik.
“Hari ini sudah mulai penambalan, dimulai dari wilayah Plumpang dan dilanjutkan ke Widang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR PRKP Tuban, Agung Supriyadi, menyebut pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,4 miliar melalui APBD 2026.
Namun, perbaikan hanya difokuskan pada peningkatan kualitas jalan di titik kerusakan terparah sepanjang sekitar satu kilometer tanpa pelebaran ruas jalan.
“Tidak ada pelebaran, hanya peningkatan kualitas jalan,” ujarnya.
Menunggu Kepastian, Risiko Tetap Berjalan
Meski anggaran telah disiapkan, hingga kini belum ada kepastian waktu pelaksanaan perbaikan secara menyeluruh.
Di sisi lain, warga masih harus berhadapan dengan risiko setiap kali melintas di jalur tersebut, sebuah kondisi yang memperlihatkan jarak antara perencanaan kebijakan dan kebutuhan mendesak di lapangan.
Selama kepastian itu belum datang, jalan Widang–Rengel akan tetap menjadi “jebakan” bagi pengguna jalan dan ancaman bagi pengendara, dan tambalan swadaya warga hanya menjadi solusi sementara atas persoalan yang lebih besar.
Editor : Mukhyidin Khifdhi