Tuban – Megaproyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban kembali menunjukkan perkembangan baru. Proyek strategis nasional bernilai sekitar US$20,7 miliar itu dipastikan bakal memperoleh mitra kerja tambahan guna memperkuat konsorsium sekaligus mempercepat realisasi pembangunan di tengah tantangan ekonomi global dan tingginya kebutuhan belanja modal.
Informasi tersebut mengemuka dari laporan Bloomberg Technoz yang mengutip pernyataan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza. Ia mengisyaratkan bahwa raksasa migas asal Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, tidak akan sendirian dalam menggarap proyek kilang terintegrasi tersebut.
Menurut Oki, skala investasi yang sangat besar membuat skema kemitraan strategis menjadi kebutuhan mutlak agar proyek dapat bergerak lebih cepat menuju tahap eksekusi penuh.
“Karena itu kita melakukan partnerships. Saat ini statusnya sedang FID, nanti mudah-mudahan kita bisa segera menyelesaikannya. Untuk partner-partner di refinery ini kami berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah,” ujarnya di Jakarta, Kamis (05/02/2026).
FID Belum Rampung, Target 2025 Resmi Meleset
Meski menunjukkan progres, hingga awal 2026 proses Final Investment Decision (FID) dari pihak Rosneft masih belum ditetapkan. Padahal sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menargetkan keputusan investasi final dapat dicapai pada Desember 2025.
Fakta di lapangan menunjukkan target tersebut melampaui jadwal. Kendati demikian, pemerintah memastikan komitmen investor utama tetap terjaga.
Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, yang menyebut proses investasi masih berjalan dan belum dibatalkan.
“Belum rampung, tetapi tetap berproses. Kita tunggu,” ujarnya pada pertengahan Januari lalu.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa proyek Kilang Tuban masih berada di jalur perencanaan, meski menghadapi dinamika pembiayaan global, geopolitik energi, serta kompleksitas proyek kilang berkapasitas besar.
Struktur Kepemilikan dan Peran Konsorsium
Proyek GRR Tuban yang berlokasi di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dikelola oleh perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).
Adapun komposisi kepemilikan saham saat ini terdiri dari:
• PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) – 55 persen
• Rosneft Singapore Pte Ltd – 45 persen
Masuknya mitra tambahan diproyeksikan akan memperkuat struktur pendanaan, mengurangi risiko investasi, sekaligus mempercepat pengambilan keputusan strategis menuju fase konstruksi penuh.
Peran Strategis bagi Ketahanan Energi Nasional
Kilang Tuban merupakan salah satu proyek paling ambisius di sektor hilir migas Indonesia. Kehadirannya diharapkan mampu:
• Meningkatkan kapasitas pengolahan minyak nasional
• Mengurangi ketergantungan impor BBM dan petrokimia
• Mendorong pertumbuhan industri turunan petrokimia
• Menciptakan lapangan kerja serta efek ekonomi regional
Dengan nilai investasi puluhan miliar dolar AS, proyek ini juga menjadi indikator kepercayaan investor global terhadap sektor energi Indonesia.
Karena itu, percepatan menuju FID menjadi kunci agar manfaat ekonomi dan strategis dapat segera dirasakan, khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah proyek.
Mitra Baru Jadi Penentu Arah Proyek
Rencana penambahan mitra baru dinilai sebagai titik krusial setelah proyek sempat mengalami perlambatan selama beberapa tahun terakhir. Kehadiran investor tambahan diharapkan memberi kepastian pendanaan sekaligus mempercepat transisi dari tahap perencanaan menuju konstruksi.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga energi, langkah konsolidasi konsorsium ini menjadi sinyal bahwa pemerintah dan Pertamina masih menempatkan Kilang Tuban sebagai prioritas strategis nasional.
Apabila keputusan investasi final dapat segera ditetapkan, proyek GRR berpotensi menjadi tonggak baru kemandirian energi Indonesia dalam jangka panjang. (Aj)
Editor : Kief