Tuban – Klenteng Kwan Sing Bio bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Tri Dharma (Konghucu, Tao, dan Buddha) di Tuban. Lebih dari itu, klenteng ini telah menjadi simbol warisan budaya Tionghoa, penanda sejarah toleransi, serta pusat kegiatan sosial dan spiritual masyarakat lintas generasi.
Didirikan ratusan tahun silam dan menghadap langsung ke Laut Jawa, Klenteng Kwan Sing Bio dikenal memiliki keunikan arsitektur yang megah, serta keberadaan patung Kwan Kong raksasa yang menjadi daya tarik wisata religi. Namanya pun tidak asing bagi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara, khususnya dari komunitas Tionghoa.
Sebagai klenteng terbesar di Pantura Jawa Timur, Kwan Sing Bio bukan hanya pusat ibadah, tapi juga menjadi tempat:
• Perayaan keagamaan besar seperti Imlek, Cap Go Meh, dan HUT Dewa Kwan Kong
• Kegiatan sosial dan filantropi seperti baksos, donor darah, serta pembagian sembako
• Sarana pendidikan budaya dan bahasa Mandarin
Kepemimpinan Klenteng: Kunci Stabilitas, Persatuan, dan Keberlangsungan Tradisi
Di tengah peran sentralnya itu, kepemimpinan di Klenteng Kwan Sing Bio bukan hal sepele. Pengurus klenteng bertugas tidak hanya mengatur administrasi, tetapi juga memastikan:
• Kelangsungan ritual keagamaan berjalan sesuai ajaran leluhur
• Hubungan antarumat dan antaragama tetap harmonis
• Aset dan dana umat dikelola dengan transparan
• Citra klenteng di mata publik tetap positif
Kepemimpinan yang solid dan diterima semua pihak sangat krusial agar klenteng tidak menjadi ajang perebutan kuasa atau kepentingan pribadi. Sebaliknya, ketika pengurus berselisih dan umat terbelah, maka bukan hanya kegiatan spiritual yang terganggu, melainkan juga sendi-sendi kepercayaan masyarakat akan rapuh.
Lebih dari Sekadar Sengketa Kepengurusan
Polemik yang saat ini terjadi di tubuh Klenteng Kwan Sing Bio ini bukan hanya soal struktur pengurus. Ini adalah refleksi dari pentingnya integritas, keterbukaan, dan legitimasi moral-spiritual dalam memimpin sebuah institusi keagamaan yang menjadi tumpuan sejarah dan harapan masa depan umat.
Karenanya, penyelesaian konflik di klenteng ini bukan hanya mendesak demi ketertiban, tetapi juga demi menjaga martabat dan warisan budaya komunitas Tionghoa Tuban yang telah mengakar kuat selama berabad-abad.(Az)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












