Jakarta – Ditengah gencarnya operasi penindakan rokok ilegal dan dugaan penyimpangan pita cukai, satu suara muncul dari dalam industri itu sendiri. Bukan sekadar respons, melainkan peringatan yang mencoba menarik perhatian pada persoalan yang lebih dalam.
Adalah HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang dikenal sebagai Gus Lilur, pemilik Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), yang mendeklarasikan PANCA AMPERA—Lima Amanat Petani Tembakau Madura–Nusantara. Sebuah gagasan yang, jika ditarik lebih jauh, bukan hanya berbicara tentang rokok, tetapi tentang relasi antara negara dan ekonomi rakyat.
“Ini bukan sekadar aspirasi. Ini suara dari bawah,” ujarnya, Senin (13/04/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan satu lapisan realitas yang jarang muncul ke permukaan.
Di Balik Angka Ratusan Triliun, Ada Realitas yang Tak Stabil
Industri hasil tembakau bukan sektor kecil. Setiap tahun, negara mengantongi lebih dari Rp200 triliun dari cukai hasil tembakau. Angka ini stabil, bahkan cenderung meningkat, menjadikannya salah satu tulang punggung penerimaan negara.
Namun stabilitas itu tidak sepenuhnya tercermin di lapangan.
Di desa-desa penghasil tembakau, cerita yang muncul justru berbeda. Petani hidup dalam ketidakpastian yang berulang setiap musim. Harga bisa jatuh sewaktu-waktu, bergantung pada kualitas, cuaca, dan permainan pasar yang tidak selalu bisa mereka kendalikan. Di banyak tempat, posisi tawar petani tetap lemah, terikat pada rantai distribusi yang panjang dan tidak selalu berpihak.
Sementara itu, di sisi hilir, pelaku usaha rokok skala kecil menghadapi tantangan lain. Regulasi yang semakin kompleks dan tarif cukai yang terus meningkat membuat ruang gerak mereka semakin sempit. Bagi sebagian pelaku, bertahan saja sudah menjadi perjuangan.
Di titik inilah ironi itu terasa jelas: negara mendapatkan kepastian penerimaan, sementara mereka yang menopang industri justru hidup dalam ketidakpastian.
Hukum yang Tegas, Tapi Belum Tentu Terasa Adil
Dalam situasi seperti ini, penegakan hukum menjadi sorotan berikutnya. Negara tentu memiliki kewajiban untuk menindak pelanggaran, termasuk peredaran rokok ilegal. Namun di lapangan, pendekatan yang digunakan tidak selalu dirasakan sama oleh semua pihak.
Bagi pelaku usaha kecil, hukum terkadang hadir bukan sebagai pelindung, tetapi sebagai tekanan tambahan. Dalam beberapa kasus, mereka merasa diposisikan setara dengan pelanggaran skala besar, meski kondisi dan kapasitasnya jelas berbeda.
Di sinilah garis antara penegakan dan ketidakadilan mulai terasa kabur.
Gus Lilur melihat persoalan ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Baginya, pengusaha rokok pribumi—terutama yang berskala kecil—adalah bagian dari ekonomi rakyat yang seharusnya diberi ruang untuk tumbuh, bukan justru terdesak oleh sistem yang sulit mereka jangkau.
Rokok Ilegal dan Sistem yang Belum Ramah
Menariknya, PANCA AMPERA tidak menutup mata terhadap rokok ilegal. Praktik tersebut tetap dipandang sebagai masalah serius yang harus diberantas.
Namun persoalannya tidak berhenti di situ.
Jika ditarik lebih dalam, maraknya rokok ilegal tidak bisa dilepaskan dari kondisi sistem yang belum sepenuhnya ramah bagi pelaku usaha kecil. Biaya masuk ke jalur legal yang tinggi, aturan yang berlapis, serta keterbatasan akses menjadi hambatan nyata.
Dalam kondisi seperti ini, pilihan menjadi tidak selalu hitam putih. Sebagian pelaku mungkin tidak sepenuhnya memilih jalur ilegal, tetapi terdesak oleh situasi yang tidak memberi banyak alternatif.
Tanpa pembenahan dari hulu, penindakan di hilir berisiko hanya menjadi siklus yang terus berulang.
Ketika Cukai Menutup Pintu, Bukan Membuka Jalan
Di sinilah isu cukai menjadi titik krusial. Bagi negara, cukai adalah instrumen penting—baik untuk penerimaan maupun pengendalian konsumsi. Namun bagi pelaku usaha kecil, kebijakan ini sering kali terasa sebagai pintu yang sulit dibuka.
Struktur tarif yang ada belum sepenuhnya memberikan ruang bagi mereka untuk masuk ke sistem legal dengan kondisi yang realistis. Alih-alih menjadi jembatan, cukai justru kerap menjadi penghalang pertama.
Gagasan tentang skema cukai khusus untuk rokok rakyat pun muncul sebagai tawaran jalan tengah. Sebuah upaya untuk menjembatani kepentingan negara dan kemampuan pelaku usaha kecil.
Tanpa itu, lingkaran masalah akan terus berputar—legal sulit dijangkau, sementara yang ilegal tetap menemukan celah.
Harapan yang Mengarah ke Madura
Di tengah berbagai tekanan tersebut, PANCA AMPERA juga membawa satu harapan jangka panjang: Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura.
Konsep ini membayangkan perubahan besar. Bukan lagi sekadar daerah penghasil tembakau mentah, tetapi pusat industri yang terintegrasi dan memiliki nilai tambah.
Jika terealisasi, KEK bisa menjadi titik balik—menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri, dan mengurangi ketimpangan dalam rantai nilai tembakau.
Namun hingga kini, gagasan itu masih menggantung. Antara rencana yang menjanjikan dan realisasi yang belum pasti.
Suara Petani yang Terlalu Lama Berada di Latar Belakang
Pada akhirnya, semua persoalan ini kembali ke satu titik yang sama: petani tembakau.
Mereka adalah fondasi dari industri yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Namun dalam banyak kasus, mereka tetap menjadi pihak yang paling rentan. Tidak memiliki kendali atas harga, terbatas dalam akses pasar, dan minim perlindungan saat kondisi memburuk.
Selama ini, suara petani sering hadir hanya sebagai pelengkap narasi, bukan sebagai pusat kebijakan.
PANCA AMPERA mencoba membalik itu. Mengangkat suara yang selama ini berada di latar belakang ke garis depan perdebatan.
Karena pada akhirnya, sekuat apa pun industri dibangun, ia tetap bergantung pada mereka yang bekerja paling awal dalam rantai tersebut.
Antara Angka dan Keadilan
PANCA AMPERA mungkin lahir dari industri rokok, tetapi pesannya melampaui sektor itu sendiri. Ia berbicara tentang pilihan yang dihadapi negara: mempertahankan stabilitas angka, atau mulai menata ulang keseimbangan dengan ekonomi rakyat.
Pertanyaan ini tidak sederhana, dan jawabannya pun tidak instan.
Namun satu hal mulai terlihat jelas—ketika suara dari bawah mulai terdengar lebih keras, itu bukan sekadar keluhan. Itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, suara itu datang bukan dari luar sistem, melainkan dari dalam industri itu sendiri. (Fia)