Kreativitas Pemuda Warnai Perayaan
Tuban – Peringatan HUT RI ke-80 di Kecamatan Merakurak tahun ini terasa berbeda dan lebih semarak. Ribuan warga memadati jalan utama, menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh raksasa yang digarap oleh Pemuda Penggerak Aliansi Senori Bersatu (Asatu). Sosok yang dipilih bukan tokoh biasa: Sengkuni, tokoh Mahabharata yang dikenal licik, culas, dan gemar memecah belah.
Ogoh-ogoh setinggi hampir empat meter itu memulai perjalanan dari Desa Senori, lalu diarak menuju halaman Kantor Kecamatan Merakurak. Sepanjang perjalanan, tepuk tangan, sorakan, dan decak kagum masyarakat tidak henti-hentinya terdengar.
“Ini pertama kalinya ada karya seperti ini di Merakurak. Kreatif sekali, anak-anak muda Senori memang patut diacungi jempol,” ucap Rani, seorang warga yang ikut menonton arak-arakan.
Makna di Balik Tokoh Sengkuni
Koordinator Pemuda Penggerak, Aji, mengungkapkan bahwa pemilihan Sengkuni bukan tanpa alasan. Menurutnya, sosok Sengkuni mewakili sifat buruk manusia yang kerap mengadu domba demi kepentingan pribadi.
“Kami membuat ogoh-ogoh ini secara gotong royong hanya dalam waktu seminggu. Selain untuk memeriahkan HUT RI, ogoh-ogoh ini juga menjadi simbol agar pemuda tidak mudah terprovokasi oleh sifat buruk seperti Sengkuni,” jelasnya.
Pesan itu relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Aji menekankan, perpecahan kerap muncul di tengah masyarakat, baik karena isu politik, ekonomi, maupun media sosial. “Kami ingin generasi muda selalu ingat, jangan gampang teradu domba. Persatuan lebih penting,” tambahnya.
Gotong Royong Jadi Kunci
Pembuatan ogoh-ogoh Sengkuni ini sepenuhnya dikerjakan secara mandiri oleh para pemuda Senori. Material yang digunakan sebagian berasal dari swadaya, mulai dari bambu, kertas, hingga cat dan bahan pelengkap lain.
Menurut Aji, semangat gotong royong inilah yang membuat ogoh-ogoh bisa rampung dalam waktu singkat. “Semua pemuda terlibat, ada yang bagian merancang, ada yang mengecat, ada pula yang mengurus teknis arak-arakan. Tanpa kebersamaan, ini tidak mungkin terwujud,” ungkapnya.
Antusiasme Warga Menggema
Selain warga Senori, masyarakat dari desa-desa lain di sekitar Merakurak juga ikut datang menyaksikan. Mereka menilai ogoh-ogoh bukan hanya tontonan, tetapi juga membawa nilai pendidikan.
“Luar biasa sekali. Ini bukan sekadar seni, tapi mengingatkan kita agar jangan terjebak sifat licik seperti Sengkuni. Generasi muda bisa mengambil pelajaran penting dari sini,” kata Reza, seorang penonton yang hadir sejak pagi.
Bahkan, beberapa warga berharap ogoh-ogoh seperti ini bisa menjadi agenda rutin setiap tahun. “Kalau bisa, tiap HUT RI ada karya seperti ini. Supaya anak-anak muda tetap kreatif sekaligus belajar nilai-nilai persatuan,” harap Darman, tokoh masyarakat setempat.
Seni sebagai Sarana Edukasi dan Persatuan
Fenomena hadirnya ogoh-ogoh Sengkuni di Merakurak menunjukkan bagaimana seni dan budaya bisa berfungsi lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi sarana refleksi, edukasi, bahkan media kritik sosial.
Pemilihan Sengkuni dengan segala sifat buruknya sekaligus menjadi pengingat bahwa musuh terbesar bangsa bukan hanya dari luar, tetapi juga potensi perpecahan dari dalam. Nilai itu sejalan dengan semangat kemerdekaan yang diwariskan para pejuang: menjaga persatuan di atas segala perbedaan.
Sejarah Baru di Merakurak
Bagi Kecamatan Merakurak, kehadiran ogoh-ogoh Sengkuni dalam perayaan HUT RI ke-80 menjadi sejarah baru. Belum pernah sebelumnya ada karya seni raksasa dengan pesan moral yang begitu kuat ditampilkan di acara peringatan kemerdekaan.
“Ini momentum bersejarah. Pemuda Senori membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi jembatan persaudaraan. Semoga ke depan, karya-karya seperti ini terus lahir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar warga lainnya, yang turut hadir dalam acara tersebut. (Az)
Editor : Kief












