Situbondo – Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten Situbondo menuai kontroversi. Sejumlah pelatih dan peserta menuding adanya ketidakadilan dalam sistem penilaian, terutama dalam cabang olahraga pencak silat.
Penilaian Juri O2SN Dipertanyakan
O2SN yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo di SMP Negeri 5 Situbondo tersebut justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi sejumlah peserta. Mahfud, salah satu pelatih dari kontingen pencak silat, menilai bahwa keputusan juri sangat mencolok dan merugikan atletnya.
“ANR, siswa dari SMPN 1 Situbondo, harus puas secara paksa di posisi kedua akibat dugaan penilaian yang sangat tidak adil,” ujar Mahfud, Jumat (20/06/2025).
Mahfud menyebutkan bahwa banyak pelanggaran yang dilakukan oleh lawan justru diabaikan oleh juri, padahal berlangsung terang-terangan di depan mata.
“Lebih menyakitkan, muncul dugaan adanya kedekatan antara atlet pemenang dengan pihak dewan pertandingan. Ini mencoreng nilai sportivitas dan kepercayaan publik,” tegasnya.
Ketua Pertandingan Minta Maaf, Dugaan Kecurangan Makin Kuat
Menurut Mahfud, kecurigaan makin menguat setelah ketua pertandingan menyampaikan permintaan maaf secara langsung atas insiden yang terjadi.
“Permintaan maaf itu menjadi bukti bahwa memang telah terjadi kejanggalan. Saya mendesak Disdikbud Situbondo, IPSI, dan panitia O2SN untuk tidak tutup mata,” katanya.
Tak hanya secara teknis, Mahfud mengungkap bahwa anak didiknya terpukul secara mental. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya tentang medali, melainkan integritas dunia olahraga pelajar.
“Dia kecewa berat. Mentalnya terganggu. Ini bukan sekadar kalah, tapi merasa diperlakukan tidak adil dalam perjuangan yang panjang,” ungkapnya.(Fia)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












