Tuban – Keluhan masyarakat terhadap banjir tahunan akibat luapan Kali Avur Kuwu di Desa Plumpang, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, kembali mencuat dalam forum terbuka bersama anggota DPR RI dari Komisi IV dan V, serta perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS BS). Warga menyampaikan langsung keresahan mereka atas penanganan sungai yang dinilai setengah-setengah.
Warga Keluhkan Sungai yang Semakin Menyempit
Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Desa Klotok, Ridwan, menyampaikan bahwa penyempitan alur sungai menjadi salah satu penyebab utama banjir. Menurutnya, lebar asli Kali Avur seharusnya 24 meter, namun saat ini di beberapa titik hanya tersisa 9 hingga 5 meter.
“Harusnya jika dilakukan normalisasi, ya dikembalikan bentuk sungainya seperti semula,” ujar Ridwan.
Ridwan menambahkan, tindakan yang selama ini dilakukan pemerintah hanya sebatas pembersihan sedimentasi dan eceng gondok, yang menurutnya dapat dilakukan mandiri oleh kelompok petani.
“Kalau hanya tukrik-tukrik (mengambil eceng gondok dan sedimen), kami sendiri juga bisa. Pemerintah baru turun tangan setelah kami protes, itupun belum menyeluruh,” keluhnya.
Ketua HIPPA Plumpang, Nur Aksan, menyoroti bahwa persoalan Kali Avur tidak akan selesai jika tidak ditangani secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Alih fungsi lahan di wilayah hulu menyebabkan daerah gundul, tanah terbawa arus dan akhirnya meningkatkan sedimentasi sungai,” jelasnya.
BBWS: Sungai Menyempit karena Alifungsi Lahan
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadjie, mengakui adanya penyempitan sungai, yang menurutnya disebabkan oleh aktivitas petani yang menggunakan badan sungai sebagai lahan pertanian.
“Seharusnya itu tidak diperbolehkan. Sungai bukan untuk digarap jadi sawah,” tegas Gatut.
Ia juga menyoroti bahwa alih fungsi lahan di wilayah hulu—termasuk menjadi tambang dan area persawahan—menambah beban sedimentasi sungai.
Proyek Jabung Ring Dyke Terkendala Ganti Rugi
Dalam forum tersebut, Gatut juga memaparkan perkembangan proyek Jabung Ring Dyke yang berfungsi sebagai pengendali banjir. Ia menyebut masih ada 57 nama yang belum menerima ganti rugi, dengan estimasi dana antara Rp15 hingga Rp20 miliar.
“Kami juga masih menyelesaikan tanggul, ada sekitar 2 kilometer lagi. Total kebutuhan dananya mencapai Rp200 miliar,” ungkapnya.
Target Normalisasi 9 Km pada Akhir Agustus
Saat ini, BBWS Bengawan Solo telah menyelesaikan 3 kilometer pekerjaan normalisasi Kali Avur. Ditargetkan hingga akhir Agustus 2025, proyek ini bisa mencapai total 9 kilometer.
Kolaborasi Penanganan Hulu dengan Pemkab dan KLHK
Menanggapi keluhan warga soal kerusakan hulu sungai, Gatut menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai instansi, termasuk Pemerintah Kabupaten Tuban, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kehutanan untuk menangani permasalahan tersebut.
“Tadi Pemkab juga menyampaikan akan melakukan reboisasi di wilayah hulu untuk mengurangi limpasan air dan erosi,” pungkasnya.(Az)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












