Tuban – Seorang perempuan tanpa identitas ditemukan meninggal dunia di trotoar depan gedung Kantor DPRD Tuban, Selasa (5/5/2026) pagi. Perempuan yang diperkirakan berusia sekitar 55 tahun itu tergeletak terlentang di tepi Jalan Tengku Umar, Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban, tak jauh dari pusat aktivitas pemerintahan daerah.
Penemuan jasad itu dilaporkan warga sekitar pukul 06.15 WIB. Polisi bersama tim identifikasi dari Polres Tuban segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Tuban, IPTU Siswanto, mengatakan perempuan tersebut diduga merupakan pengemis yang kerap terlihat beraktivitas di sekitar kawasan itu.
“Korban biasanya berjalan kaki mengemis di sekitar lampu lalu lintas dan beristirahat di bawah pohon depan kantor DPRD,” ujarnya.
Jenazah Tanpa Nama, Tanpa Riwayat
Hingga kini, identitas korban masih menjadi teka-teki. Tidak ditemukan kartu identitas atau dokumen lain yang dapat menjelaskan siapa perempuan itu, dari mana asalnya, atau apakah ia memiliki keluarga yang mencarinya.
Di samping jasad korban, petugas menemukan sebuah tas loreng berisi uang recehan sekitar Rp500 ribu, indikasi bahwa aktivitas mengemis menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Temuan ini sekaligus mempertegas bahwa korban telah lama berada dalam lingkaran kerentanan sosial di ruang publik.
Dugaan Sakit, Minim Kepastian
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dugaan sementara, perempuan tersebut meninggal akibat sakit. Namun, tanpa riwayat medis maupun identitas yang jelas, penyebab kematian masih menyisakan ruang spekulasi.
Jenazah kemudian dibawa ke RSUD dr. Koesma Tuban untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aparat kepolisian masih mengumpulkan keterangan saksi serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengungkap identitas korban.
Ruang Publik dan Warga Tak Terlihat
Peristiwa ini kembali menyoroti keberadaan kelompok rentan yang hidup di ruang-ruang publik tanpa perlindungan memadai. Di tengah lalu lintas aktivitas pemerintahan dan masyarakat, seorang perempuan dapat hidup dan meninggal tanpa identitas, tanpa penanganan, dan nyaris tanpa jejak.
Kematian di depan gedung legislatif itu menjadi ironi, ketika kebijakan sosial dibahas di dalam ruangan, sebagian warga justru terlewat dari jangkauan sistem yang seharusnya melindungi mereka. (Az).
Editor : Mukhyidin Khifdhi