Tuban – Serangan hama tikus kembali mengancam sektor pertanian di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Puluhan hektare tanaman jagung di Desa Gaji dan Wolutengah dilaporkan rusak parah hingga berpotensi gagal panen setelah bulir jagung habis dimakan hama pengerat tersebut.
Menindaklanjuti kondisi itu, Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Kerek bersama petugas lapangan menyiapkan langkah pengendalian hama yang akan dilakukan langsung di wilayah terdampak.
Serangan Terjadi di Lahan Jagung yang Mulai Berbuah
Serangan hama tikus dilaporkan terjadi pada tanaman jagung yang memasuki fase generatif atau mulai berbuah. Dalam kondisi tersebut, bulir jagung menjadi sasaran utama hama sehingga banyak tanaman mengalami kerusakan berat.
Petani menyebut, dalam beberapa waktu terakhir serangan terjadi pada malam hari dan berlangsung cepat. Akibatnya, tanaman yang sebelumnya tumbuh normal kini hanya menyisakan batang dan tongkol kosong tanpa hasil.
Kerusakan tersebut membuat petani di dua desa terdampak, yakni Desa Gaji dan Wolutengah, mengalami tekanan ekonomi karena biaya produksi yang sudah dikeluarkan tidak dapat kembali.
Laporan Petani Diterima UPTD, Penanganan Dijadwalkan
UPTD Pertanian Kerek memastikan telah menerima laporan dari petani terkait serangan hama tersebut. Sebagai tindak lanjut, penanganan lapangan telah dijadwalkan pada Kamis (18/06/2026).
Kepala UPTD Pertanian Kerek, Sunarto, mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan gerakan pengendalian hama tikus di lokasi-lokasi yang terdampak paling parah.
“Besok Kamis rencananya akan kami lakukan upaya pengendalian hama tikus, dan saat ini saya masih di luar kota,” ujarnya, Selasa (16/06/2026).
Menurutnya, langkah ini merupakan respons cepat terhadap laporan petani agar serangan tidak semakin meluas ke lahan pertanian lainnya di wilayah Kecamatan Kerek.
Petugas Pertanian Sudah Lakukan Pembinaan ke Kelompok Tani
Selain penanganan darurat di lapangan, pihak dinas melalui petugas pertanian sebelumnya juga telah melakukan upaya pencegahan berupa informasi, sosialisasi, serta bimbingan teknis pengendalian hama kepada kelompok tani (poktan).
Edukasi tersebut mencakup cara-cara pengendalian hama tikus secara terpadu, mulai dari pengelolaan lingkungan lahan, sistem gotong royong pengendalian, hingga penggunaan metode pengendalian yang sesuai kondisi lapangan.
Namun demikian, intensitas serangan yang terjadi di beberapa titik membuat upaya pencegahan tersebut belum sepenuhnya mampu menahan laju penyebaran hama di lapangan.
Gerakan Pengendalian Akan Disesuaikan Kondisi Lapangan
UPTD menjelaskan bahwa tindak lanjut pengendalian hama akan dilakukan melalui gerakan pengendalian (gerdal) di desa-desa terdampak. Pelaksanaan di lapangan akan disesuaikan dengan tingkat serangan dan kondisi masing-masing wilayah.
Fokus utama akan diberikan pada titik-titik yang mengalami kerusakan paling parah, dengan tujuan menekan populasi hama agar tidak terus meluas ke lahan pertanian lainnya.
Peralatan pengendalian hama diketahui telah disiapkan dan ditempatkan di Desa Gaji sebagai salah satu pusat wilayah terdampak.
Petani Mengaku Alami Kerugian Berlapis
Di sisi lain, petani mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat serangan hama ini. Amin, salah satu petani di Desa Gaji, mengatakan tanaman jagung miliknya yang berusia sekitar satu setengah bulan habis hanya dalam waktu singkat.
“Ini baru kemarin saya siram air, gak taunya pagi ini habis digarong semua,” ujarnya.
Ia menyebut kerugian tidak hanya berasal dari hilangnya hasil panen, tetapi juga biaya produksi yang sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam, seperti benih, pupuk, dan pestisida.
Petani lain, Jamal, menambahkan bahwa beban biaya semakin berat di tengah musim kemarau. Selain harga kebutuhan pertanian yang tinggi, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengairan lahan.
“Sekali menyiram kita bisa habis sampai 400 ribu rupiah. Kalau musim kering panjang seperti ini bisa hampir tiap beberapa hari sekali kami lakukan penyiraman,” katanya.
Harapan Penanganan Cepat dari Pemerintah
Para petani berharap gerakan pengendalian hama yang dijadwalkan UPTD dapat segera dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan, sehingga kerusakan tidak semakin meluas dan potensi gagal panen dapat ditekan.
Mereka juga berharap ada perhatian lanjutan dari pemerintah daerah dalam bentuk pendampingan serta solusi jangka panjang, mengingat serangan hama tikus kerap menjadi ancaman berulang pada musim tanam tertentu.
Hingga berita ini ditulis, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban belum memberikan keterangan resmi terkait serangan hama tikus di Kecamatan Kerek maupun langkah penanganan lanjutan di tingkat kabupaten. (Az)