Tuban – Ribuan warga memadati kawasan pantai utara (Pantura) Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban pada Senin (07/04/2025), untuk mengikuti tradisi unik bernama Dus-Dusan. Ritual turun-temurun ini digelar setiap tahun usai Lebaran Ketupat, dengan cara menceburkan diri ke laut sebagai bentuk rasa syukur dan tolak balak.
Tradisi yang menjadi warisan leluhur ini juga diyakini membawa manfaat kesehatan bagi tubuh. Selain itu, momen tersebut dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi warga dengan sanak keluarga dan kerabat.
Berdasarkan pantauan Liputanaatu.id, pantai yang berjarak sekitar 200 meter dari kawasan wisata religi Makam Asmaraqondi tampak ramai didatangi warga. Sebelumnya, mereka melaksanakan bancakan di masjid atau musala, lalu beramai-ramai menuju pantai untuk berendam di laut.
“Saya bersama keluarga setiap tahun sehabis bancakan kupatan pasti ikut acara Dus-Dusan di sini, Mas,” ujar Mokhamat, salah satu warga yang mengikuti tradisi tersebut.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak hingga lansia pun terlihat antusias menikmati momen mandi bersama di laut sambil menikmati cerahnya cuaca pagi.
Baca juga: Pelang Tuban: Menyapa Libur Lebaran dengan Pesona Kebun Sagu dan Sensasi Ikan Nakal
Baca juga: Pantai Kelapa Tuban Diserbu Ribuan Pengunjung Saat Libur Lebaran 2025
Baca juga: Grebeg Gunungan Hasil Bumi di Lumajang: Tradisi Unik Peringatan Hari Jadi ke-769
Kepala Dusun Gesikharjo, Sukardi, menjelaskan bahwa tradisi Dus-Dusan merupakan bagian dari budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan sudah menjadi identitas warga.
“Usai bancakan di masjid atau musala, warga langsung menuju laut untuk berendam. Ini sudah jadi bagian dari budaya kearifan lokal yang harus terus kita lestarikan,” ujar Sukardi.
Menurutnya, masyarakat meyakini bahwa mandi di laut dapat membantu menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, sekaligus menghilangkan rasa penat dan lelah setelah menjalani aktivitas harian.
“Jadi ada sugesti bahwa mandi di laut bisa menambah kesehatan,” tambahnya.
Tradisi ini biasanya berlangsung hanya beberapa jam. Saat matahari mulai terik, warga pun kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitas sambil menyantap ketupat yang menjadi sajian khas Lebaran Ketupat.(Aj)
Editor : Mukhyidin Khifdhi