Viral Petani di Tuban “Terbang” Naik Drone, Teknologi Pertanian Curi Perhatian

- Reporter

Selasa, 7 Juli 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Daeman (53), petani asal Jombang yang kini mengelola perkebunan pisang Cavendish di wilayah Tuban, (Foto: Ist).

TUBAN — Hamparan persawahan di Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, mendadak menjadi perhatian publik setelah sebuah video memperlihatkan seorang petani bergelantungan di bawah drone pertanian berukuran besar viral di berbagai media sosial.

Video berdurasi 1 menit 14 detik itu menampilkan seorang pria mengenakan body harness yang dikaitkan pada drone. Dalam hitungan detik, drone mengangkat tubuhnya hingga sekitar 15 meter di atas permukaan tanah sebelum melintas sejauh kurang lebih satu kilometer melintasi areal persawahan.

Aksi yang sekilas menyerupai adegan film tersebut memancing beragam komentar warganet. Banyak yang mempertanyakan keamanan, kemampuan angkat drone, hingga tujuan penggunaan perangkat tersebut untuk membawa manusia.

Namun di balik video yang mengundang rasa penasaran itu, tersimpan cerita lain tentang pemanfaatan teknologi di sektor pertanian.

Berawal dari Konten, Berakhir Menjadi Solusi di Lapangan

Pria dalam video itu diketahui bernama Daeman (53), petani asal Kabupaten Jombang yang saat ini mengelola perkebunan pisang Cavendish di wilayah Tuban.

Saat ditemui pada Selasa (7/7/2026), Daeman mengakui aksi tersebut awalnya dilakukan hanya untuk membuat konten media sosial.

“Awalnya hanya iseng untuk konten. Tapi drone ini memang setiap hari dipakai mengangkut bibit, pupuk, dan kebutuhan di lahan karena akses jalannya sulit,” ujarnya.

Pernyataan itu menjelaskan bahwa video yang viral hanyalah sebagian kecil dari fungsi drone yang sebenarnya. Dalam operasional sehari-hari, perangkat tersebut menjadi alat angkut logistik pertanian, bukan sarana transportasi manusia.

Menurut Daeman, medan menuju area perkebunan cukup sulit dilalui kendaraan. Jalan yang sempit dan kontur lahan membuat proses distribusi bibit maupun pupuk membutuhkan waktu lebih lama jika dilakukan secara manual.

Drone kemudian menjadi alternatif yang dinilai lebih cepat dan efisien.

Drone Mampu Angkut Hingga 150 Kilogram

Drone pertanian yang digunakan memiliki kapasitas angkut sekitar 150 kilogram. Kemampuan tersebut dimanfaatkan untuk memindahkan bibit pisang Cavendish, pupuk organik, rumput, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya menuju lokasi perkebunan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lahan perkebunan tersebut merupakan milik seorang pengusaha asal Jombang yang mengembangkan budidaya pisang Cavendish di atas lahan sekitar 12 hektare di Kabupaten Tuban.

Luas areal dan keterbatasan akses menjadi alasan utama penggunaan teknologi tersebut.

“Benar, pemilik usaha berasal dari Jombang dan mengelola perkebunan pisang Cavendish di Tuban dengan luas kurang lebih 12 hektare,” kata Daeman.

Keberadaan drone di lahan tersebut bukan sekadar mengikuti tren modernisasi pertanian, tetapi menjadi bagian dari strategi efisiensi operasional. Distribusi logistik yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu kini dapat dilakukan lebih cepat melalui jalur udara.

Viral, Tetapi Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas

Meski video tersebut menuai decak kagum, penggunaan drone untuk mengangkut manusia bukanlah fungsi utama perangkat pertanian.

Drone jenis ini dirancang untuk penyemprotan lahan maupun pengangkutan material, sehingga pemanfaatannya untuk membawa orang memiliki risiko keselamatan yang perlu diperhitungkan secara serius.

Karena itu, pengoperasian drone tetap harus mengacu pada standar keselamatan dan ketentuan penerbangan yang berlaku agar tidak membahayakan operator maupun lingkungan sekitar.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi mulai mengubah wajah pertanian Indonesia. Jika selama ini drone identik dengan penyemprotan pestisida atau pemetaan lahan, di Tuban perangkat tersebut berkembang menjadi solusi logistik bagi perkebunan yang berada di lokasi sulit dijangkau kendaraan.

Nilai investasi teknologi ini pun tidak murah. Drone dengan spesifikasi serupa diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta per unit. Angka tersebut menjadi investasi yang relatif sepadan bagi pelaku usaha skala besar, mengingat efisiensi waktu, tenaga, dan biaya operasional yang dapat dihasilkan.

Di balik sensasi video “petani terbang” yang viral, tersimpan pesan yang lebih penting: modernisasi pertanian tidak selalu hadir dalam bentuk alat yang canggih semata, tetapi pada kemampuan teknologi menjawab persoalan nyata di lapangan. Yang menjadi pekerjaan berikutnya adalah memastikan setiap inovasi tetap mengutamakan aspek keselamatan, sehingga kreativitas tidak berubah menjadi risiko. (Aji/Kiev).

Editor : Mukhyidin Kifdhi

Berita Terkait

Seorang Pemuda di Tuban Kabur Setelah Rudapaksa Gadis di Bawah Umur
Nama Dikaitkan dengan Pertemuan 8 Agustus, Dua Pengurus NU Kalbar Buka Suara
Tanggapi Kuasa Hukum Pelapor ASN Diduga Asusila : BPN Tuban Buka Suara
Meski Sudah Berstatus Tersangka, BPN Tuban Belum Berikan Sanksi Pegawainya
Anas Urbaningrum Soroti Syarat Pendidikan Pejabat Publik: Jangan Berhenti pada Formalitas
Laut Tuban Mencekam, MV Khatulistiwa 8 Tabrak Tongkang, 1 Awak Hilang
40 Warga Tuban Kembali Menata Masa Depan Lewat PKBM Adhyaksa
58 Gerai KDMP di Tuban Belum Dibangun, Masalah Lahan Jadi Kendala

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Seorang Pemuda di Tuban Kabur Setelah Rudapaksa Gadis di Bawah Umur

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Nama Dikaitkan dengan Pertemuan 8 Agustus, Dua Pengurus NU Kalbar Buka Suara

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Tanggapi Kuasa Hukum Pelapor ASN Diduga Asusila : BPN Tuban Buka Suara

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:59 WIB

Meski Sudah Berstatus Tersangka, BPN Tuban Belum Berikan Sanksi Pegawainya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Anas Urbaningrum Soroti Syarat Pendidikan Pejabat Publik: Jangan Berhenti pada Formalitas

Berita Terbaru

Exit mobile version