Bubur Muhdor, Tradisi Ramadan Hampir Seabad di Tuban yang Selalu Diburu Warga

- Reporter

Minggu, 22 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga mengantre pembagian Bubur Muhdor di halaman Masjid Muhdor, Tuban, menjelang waktu berbuka puasa, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Warga mengantre pembagian Bubur Muhdor di halaman Masjid Muhdor, Tuban, menjelang waktu berbuka puasa, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Suasana halaman Masjid Muhdor di Jalan Pemuda, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, tampak berbeda menjelang waktu berbuka puasa. Sejak sekitar pukul 16.00 WIB, ratusan warga mulai berdatangan sambil membawa berbagai wadah seperti panci, ember, hingga timba untuk mengantre Bubur Muhdor yang legendaris.
Tradisi pembagian bubur gratis ini telah menjadi ikon Ramadan di Kabupaten Tuban. Sajian berbahan dasar beras, santan, dan daging kambing tersebut dikenal memiliki cita rasa gurih dengan aroma rempah khas Timur Tengah yang kuat. Setiap bulan suci, bubur ini selalu dinanti masyarakat, bahkan oleh peziarah dari luar kota.

Dimasak dalam Jumlah Besar, Diaduk Tanpa Henti

Dalam sekali proses memasak, panitia menghabiskan kurang lebih 50 kilogram beras. Proses pengolahan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam, dengan teknik memasak tradisional yang mengharuskan bubur terus diaduk agar tekstur tetap lembut dan rasanya merata.
Takmir Masjid Muhdor, Habib Agil Biunumaay, menjelaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara gotong royong oleh jamaah.
“Ibu-ibu menyiapkan dan meracik bumbu, sementara bapak-bapak memasak. Pengadukan juga tidak boleh berhenti karena bisa memengaruhi rasa,” ujarnya.
Dalam satu kali masak, lebih dari 400 porsi bubur dibagikan kepada masyarakat dan hampir selalu habis dalam waktu singkat.
“Setiap hari tidak pernah tersisa. Warga sudah menunggu sejak sore untuk mendapatkan bubur yang sudah ada sejak tahun 1930-an ini,” tambahnya.

Berawal dari Krisis Pangan Masa Penjajahan

Mengutip catatan sejarah, tradisi Bubur Muhdor pertama kali digagas pada 1937 oleh tokoh keturunan Arab di Tuban, Syeikh Habib Abdul Qodir bin Alwi Assegaf. Saat itu, wilayah Tuban tengah mengalami krisis pangan pada masa penjajahan Belanda.
Bubur dimasak secara bersama-sama untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan. Awalnya, sajian ini hanya diperuntukkan bagi fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial.

Kini Terbuka untuk Semua, Simbol Kebersamaan Ramadan

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dan kini terbuka untuk umum. Bubur Muhdor tidak lagi sekadar bantuan pangan, tetapi menjadi simbol kebersamaan, sedekah, dan solidaritas sosial di bulan Ramadan.
Hampir satu abad berlalu, tradisi ini tetap bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tuban. Bagi banyak warga, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa menikmati semangkuk Bubur Muhdor hangat yang sarat makna sejarah dan nilai kebersamaan. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Resmi Jadi Polresta, Bupati Tuban Harap Pelayanan Kepolisian Makin Profesional
KPU Situbondo Perbarui Data Pemilih, Kini Capai 538.057 Orang
Bantah Ada Penggeledahan, Polemik Dugaan Uang Pelicin di Kejari Tuban Belum Reda
37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi
Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab
Acara Sound Horeg di Tuban Digelar Tanpa Izin, Polisi Pilih Fokus Amankan Massa
Patok Batas Hilang, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Kian Rumit
Batu Bara Tuban Jadi Sorotan, Bupati Bilang Masih Muda, Aktivitas Tambang Justru Sudah Terlihat

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 22:15 WIB

Resmi Jadi Polresta, Bupati Tuban Harap Pelayanan Kepolisian Makin Profesional

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:58 WIB

KPU Situbondo Perbarui Data Pemilih, Kini Capai 538.057 Orang

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:31 WIB

Bantah Ada Penggeledahan, Polemik Dugaan Uang Pelicin di Kejari Tuban Belum Reda

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:13 WIB

37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:11 WIB

Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab

Berita Terbaru