Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab

- Reporter

Rabu, 1 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky memberikan keterangan kepada awak media usai Sidang Paripurna DPRD Tuban, Rabu (01/07/2026), terkait penyebab dua bangunan sekolah yang roboh dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky memberikan keterangan kepada awak media usai Sidang Paripurna DPRD Tuban, Rabu (01/07/2026), terkait penyebab dua bangunan sekolah yang roboh dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Dua bangunan sekolah di Kabupaten Tuban roboh dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Di tengah munculnya perhatian publik terhadap kondisi infrastruktur pendidikan, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menyebut tanah labil dan perubahan kondisi alam menjadi faktor yang menyebabkan insiden tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Bupati usai mengikuti Sidang Paripurna DPRD Tuban, Rabu (01/07/2026).

Dua Sekolah Roboh dalam Waktu Kurang dari Sebulan

Peristiwa pertama terjadi di SDN Kutorejo 3 pada 3 Juni 2026. Selang sekitar dua pekan, bangunan lain kembali roboh, kali ini menimpa SDN Trantang, Kecamatan Kerek, pada 20 Juni 2026.
Dua kejadian yang berlangsung dalam waktu berdekatan itu memunculkan pertanyaan publik mengenai kondisi bangunan sekolah di Kabupaten Tuban serta langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah daerah.

Bupati: Tanah Labil dan Kondisi Alam Jadi Faktor Penyebab

Menanggapi rentetan kejadian tersebut, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengatakan berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata lokasi sekolah yang mengalami kerusakan berada di atas tanah yang labil.
Menurutnya, kondisi itu umumnya diawali dengan pergerakan tanah. Selain itu, keberadaan sungai kecil di sekitar lokasi disebut turut menyebabkan tanah terkikis sehingga memengaruhi kekuatan bangunan.
“Jadi rata-rata itu tanahnya labil ya, teman-teman bisa cek biasanya diawali tanahnya sudah goyang dan di sebrangnya ada sungai kecil sehingga tanah tergerus,” ujar Lindra.
Selain faktor tanah, Bupati juga mengakui terdapat bangunan sekolah yang memang sudah berusia tua sehingga membutuhkan perhatian dan perbaikan.

Perencanaan Dianggap Sudah Sesuai, Namun Kondisi Alam Berubah

Saat ditanya apakah kondisi tersebut telah diperhitungkan dalam proses perencanaan pembangunan, Lindra menjelaskan bahwa perencanaan sebelumnya telah dilakukan berdasarkan kondisi yang ada pada saat itu.
Namun, menurutnya, perubahan kondisi alam membuat situasi di lapangan tidak lagi sama seperti ketika proses perencanaan dilakukan.
“Ini kan kondisi alam kondisinya berbeda-beda, kalau saat perencanaan ya sudah cukup,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi penjelasan Pemerintah Kabupaten Tuban atas dua insiden robohnya bangunan sekolah yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Pemkab Tuban Siapkan Perbaikan dan Penyesuaian Anggaran

Pemerintah Kabupaten Tuban memastikan akan segera melakukan perbaikan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan.
Bupati mengungkapkan salah satu sekolah yang roboh sebenarnya telah masuk dalam rencana anggaran. Namun, pemerintah akan melakukan penyesuaian agar pembangunan dapat diprioritaskan pada bangunan yang terdampak.
“Ini yang kemarin roboh sebenarnya sudah kami anggarkan, tapi nanti bisa kami anggarkan untuk dibangun, untuk perencanaannya unit yang lain nanti bisa kami geser,” jelasnya.

Bangunan yang Roboh Berbeda dengan Proyek Tahun 2023

Menjawab pertanyaan mengenai SDN Trantang yang sebelumnya sempat mendapatkan pembangunan pada 2023, Bupati menegaskan bahwa bangunan yang roboh bukan merupakan gedung yang dibangun dalam proyek tersebut.
Menurutnya, pembangunan pada 2023 memang dilakukan di lingkungan SDN Trantang, namun berada pada unit bangunan yang berbeda.
Dengan demikian, bangunan yang mengalami keruntuhan pada Juni 2026 dipastikan tidak termasuk dalam proyek pembangunan yang dilaksanakan pada 2023. (Az)

Berita Terkait

37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi
Acara Sound Horeg di Tuban Digelar Tanpa Izin, Polisi Pilih Fokus Amankan Massa
Patok Batas Hilang, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Kian Rumit
Batu Bara Tuban Jadi Sorotan, Bupati Bilang Masih Muda, Aktivitas Tambang Justru Sudah Terlihat
Delapan Kasus Pencurian Terungkap, Polres Situbondo Kembalikan Motor Curian ke Pemilik
Pengelola Tegaskan HUT Kongco Kwan Sing Bio Hanya Digelar 5-6 Agustus
Isu Penggeledahan Rumah Dinas Kajari Tuban Viral, Ada Apa?
Pemkab Tuban Bentuk Satgas Tambang, Fokus Tangani Dampak Lingkungan

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:13 WIB

37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:11 WIB

Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab

Rabu, 1 Juli 2026 - 09:23 WIB

Acara Sound Horeg di Tuban Digelar Tanpa Izin, Polisi Pilih Fokus Amankan Massa

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:33 WIB

Patok Batas Hilang, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Kian Rumit

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:09 WIB

Batu Bara Tuban Jadi Sorotan, Bupati Bilang Masih Muda, Aktivitas Tambang Justru Sudah Terlihat

Berita Terbaru

Penyidik Satreskrim Polres Tuban bersama tim ATR/BPN melakukan pengukuran ulang di lokasi sengketa tanah Desa Leranwetan, Kecamatan Palang. Proses pengukuran belum menghasilkan kesepakatan setelah patok batas yang sebelumnya ditemukan dilaporkan sudah tidak berada di lokasi, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Patok Batas Hilang, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Kian Rumit

Selasa, 30 Jun 2026 - 21:33 WIB