Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Bukan Kalpataru, Ini Harta Karun Tertua di Tuban yang Sudah Ada Sejak 500 SM

- Reporter

Sabtu, 20 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nekara perunggu koleksi Museum Kambang Putih Tuban yang diperkirakan berasal dari sekitar 500 tahun sebelum Masehi (SM). Artefak peninggalan kebudayaan Dongson ini menjadi benda bersejarah tertua yang tersimpan di museum tersebut dan menjadi bukti adanya permukiman manusia di Tuban sejak sekitar 2.500 tahun lalu, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Nekara perunggu koleksi Museum Kambang Putih Tuban yang diperkirakan berasal dari sekitar 500 tahun sebelum Masehi (SM). Artefak peninggalan kebudayaan Dongson ini menjadi benda bersejarah tertua yang tersimpan di museum tersebut dan menjadi bukti adanya permukiman manusia di Tuban sejak sekitar 2.500 tahun lalu, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Selama ini Kalpataru peninggalan era Sunan Bonang dikenal sebagai ikon utama Museum Kambang Putih Tuban. Namun di balik popularitas benda bersejarah tersebut, tersimpan sebuah harta karun yang usianya jauh lebih tua. Benda itu adalah nekara perunggu dari kebudayaan Dongson yang diperkirakan berasal dari sekitar 500 tahun sebelum Masehi (SM).

Keberadaan nekara tersebut menjadikannya koleksi tertua yang dimiliki Museum Kambang Putih. Artefak ini sekaligus menjadi bukti bahwa wilayah Tuban telah dihuni manusia sejak sekitar 2.500 tahun lalu, jauh sebelum masuknya pengaruh Islam maupun berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

Staf Museum Kambang Putih, Deni Anto, mengatakan usia nekara tersebut terpaut lebih dari seribu tahun dibanding Kalpataru yang berasal dari masa penyebaran Islam oleh Sunan Bonang pada abad ke-15.

“Usianya jauh lebih tua. Kalpataru itu ada di sekitar era Sunan Bonang abad ke-15. Sedangkan nekara ini sudah ada sejak masa sebelum Masehi,” ujarnya.

Peninggalan Kebudayaan Dongson dari Zaman Perunggu

Menurut Deni, nekara merupakan salah satu peninggalan penting dari kebudayaan Dongson yang berkembang pada masa Zaman Perunggu di Asia Tenggara. Pada masanya, benda tersebut memiliki kedudukan istimewa dan dianggap sakral oleh masyarakat.

Nekara digunakan dalam berbagai ritual penting, mulai dari upacara pemanggilan arwah leluhur hingga permohonan hujan. Selain itu, benda tersebut juga dijadikan mas kawin dan bekal kubur dalam tradisi pemakaman masyarakat kuno.

Tidak hanya memiliki fungsi religius, nekara juga menjadi simbol status sosial. Proses pembuatannya yang rumit dan bahan perunggu yang bernilai tinggi membuat hanya kalangan tertentu yang mampu memilikinya.

Ukuran nekara pun menentukan kegunaannya. Nekara berukuran kecil biasanya digunakan sebagai mahar, sedangkan nekara berukuran besar difungsikan sebagai genderang perang yang dipercaya dapat membawa keselamatan serta menambah semangat para prajurit.

Ornamen Memudar Dimakan Usia Ribuan Tahun

Secara fisik, nekara terdiri dari empat bagian utama, yakni bidang pukul di bagian atas yang dihiasi berbagai motif dekoratif, bagian bahu yang cembung lengkap dengan pegangan, bagian pinggang yang menyempit, serta kaki yang melebar sebagai penyangga.

Namun usia yang telah mencapai sekitar 2.500 tahun membuat sebagian besar ornamen pada permukaan benda tersebut mengalami pelapukan. Motif flora, fauna hingga adegan berburu yang dahulu menghiasi permukaannya kini nyaris tak terlihat lagi.

“Yang masih tampak hanya pola-pola geometris samar. Selebihnya sudah memudar karena usia dan proses pelapukan selama tertimbun di dalam tanah,” kata Deni.

Nekara Asli Berisi Arca Gajah Dipindahkan ke Surabaya

Deni mengungkapkan, Museum Kambang Putih sebenarnya pernah memiliki nekara berukuran besar yang di dalamnya terdapat arca gajah berbahan perunggu. Namun koleksi asli tersebut dipindahkan ke Museum Mpu Tantular Surabaya sejak tahun 1979.

Saat ini, benda yang dipamerkan di Museum Kambang Putih hanyalah replika, sementara koleksi aslinya tersimpan di Surabaya.

Secara keseluruhan, Museum Kambang Putih merawat sebanyak 5.774 koleksi benda bersejarah dari berbagai periode. Namun keterbatasan ruang membuat hanya sekitar 600 koleksi yang dapat dipamerkan kepada masyarakat.

“Hanya sekitar 600 koleksi yang bisa dipajang di dalam etalase kaca. Selebihnya terpaksa disimpan karena kondisinya mayoritas berupa fragmen atau pecahan,” pungkas Deni.

Berita Terkait

Polemik TITD Kwan Sing Bio Tuban Kembali Ke Ruang DPRD
Polda Jatim Segel Ruang Pelayanan, Pengurus Tak Mau Umat Jadi Korban
Gandeng Unirow SIG Tuban Sosialisasikan Inovasi Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang
Polda Jatim Segel Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Ada Apa?
Khusni Mubarak Didapuk Menjadi Ketua PCPN Tuban 2026-2031
Ruangan Masih Terkunci, Kubu Go Tjong Ping Terpaksa Buka Paksa Kantor Klenteng
Umat Klenteng Kwan Sing Bio Geruduk Kantor Kelurahan
Lantik Komisariat se-Tuban, HMI Ditantang Jadi Pengawal Kebijakan Pemerintah

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 11:06 WIB

Polemik TITD Kwan Sing Bio Tuban Kembali Ke Ruang DPRD

Selasa, 3 November 2026 - 18:58 WIB

Polda Jatim Segel Ruang Pelayanan, Pengurus Tak Mau Umat Jadi Korban

Senin, 2 November 2026 - 20:33 WIB

Gandeng Unirow SIG Tuban Sosialisasikan Inovasi Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang

Senin, 2 November 2026 - 19:52 WIB

Polda Jatim Segel Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Ada Apa?

Minggu, 1 November 2026 - 13:59 WIB

Khusni Mubarak Didapuk Menjadi Ketua PCPN Tuban 2026-2031

Berita Terbaru

Gedung Satreskrim Polresta Tuban (gambar : Assa Annazili)

Hukum Kriminal

Pengepul Solar Bersubsidi Ilegal Diamankan Polisi di Tuban

Jumat, 6 Nov 2026 - 14:43 WIB

Suasana Gedung DPRD Tuban saat dilakukan hearing kasus Klenteng Kwan Sing Bio Tuban (gambar : Assa Annazili)

Daerah

Polemik TITD Kwan Sing Bio Tuban Kembali Ke Ruang DPRD

Jumat, 6 Nov 2026 - 11:06 WIB

Suasana di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban saat adanya olah TKP dari Polda Jatim (gambar : Assa Annazili)

Daerah

Saling Klaim Legalitas Pengelolaan Kwan Sing Bio Tuban

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:34 WIB

Banner Liputansatu
Banner Liputansatu
Banner Liputansatu