Tuban – Sebuah pesan WhatsApp yang menyebut adanya kasus dugaan bullying di SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban viral di media sosial. Pesan tersebut mengungkap bahwa seorang siswa kelas X berinisial MAM diduga mengalami kekerasan dari kakak kelasnya saat awal masuk sekolah.
Liputansatu.id menelusuri kebenaran informasi ini langsung ke pihak sekolah pada Selasa (18/03/2025). Berikut fakta-faktanya!
Pesan WhatsApp Viral, Apa Isinya?
Pesan WhatsApp yang tersebar luas berasal dari seseorang yang mengaku sebagai kerabat korban. Dalam pesannya, ia melaporkan bahwa MAM bersama tujuh siswa lainnya mengalami tindakan kekerasan dari 30 kakak kelas di sekolah tersebut.
“Selamat Malam, mau melaporkan tindakan kekerasan pada siswa kelas 1 SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban. Korban ada 8 anak, termasuk saudara saya MAM. Mereka dihajar oleh 30 siswa senior kelas 2 dan 3 di bagian perut dan dada. Saya mohon untuk ditindak secara kedinasan karena setelah kejadian itu saudara saya sering sakit perut dan ulu hati,” tulis pengirim pesan.
Pesan ini memicu perhatian publik dan menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi korban serta tindakan yang akan diambil oleh pihak sekolah.
Penelusuran Tim Liputansatu.id ke Sekolah
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, tim LiputanSatu.id mendatangi SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban. Pihak sekolah menerima kedatangan awak media dengan terbuka dan menggelar sesi klarifikasi yang berlangsung sekitar tiga jam.
Korban, MAM, turut dihadirkan dalam pertemuan tersebut untuk memberikan keterangan langsung.
Baca juga: Tragis! Siswa SMK di Tuban Tewas Tersengat Listrik Saat Praktikum
Pengakuan Korban dan Tradisi yang Sudah Dihapus
Dalam klarifikasinya, MAM membenarkan bahwa kejadian tersebut memang pernah terjadi, tetapi bukan baru-baru ini, melainkan sekitar delapan bulan yang lalu. Ia menjelaskan bahwa insiden itu merupakan bagian dari “tradisi” saat siswa ingin keluar asrama.
“Dulu ada tradisi pukulan saat keluar asrama, tapi sekarang sudah dihapus. Masalah ini juga sudah selesai secara mediasi,” ujar MAM.
Ia juga menegaskan bahwa laporan yang menyebut adanya keterlibatan 30 siswa tidak benar.
Terkait hubungan dengan pengirim pesan yang menyebarkan isu ini, MAM membenarkan bahwa orang tersebut adalah mantan kakak iparnya yang sudah bercerai beberapa bulan lalu. Namun, ia tidak mengetahui alasan mengapa kasus yang sudah selesai kembali mencuat.
Tanggapan Sekolah: Mediasi Sudah Dilakukan
Wakil Kepala Kesiswaan SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban, Mufid Tohari, mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut memang pernah terjadi. Namun, ia membantah bahwa kekerasan dilakukan oleh 30 siswa.
“Dugaan bullying oleh 30 siswa itu tidak benar. Yang melakukan hanya beberapa kakak tingkat. Namun, tetap saja ini adalah perbuatan yang tidak dibenarkan,” kata Mufid.
Menurutnya, setelah insiden itu terjadi, pihak sekolah langsung melakukan mediasi dengan mempertemukan orang tua korban dan pelaku. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara damai.
“Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi sekolah agar lebih ketat dalam pengawasan dan tidak ada lagi tradisi yang dapat membahayakan siswa,” tambahnya.
Baca juga: Mutasi Siswa ke SMPN 1 Tuban Bermasalah, Dinas Pendidikan Ambil Langkah!
Kesimpulan: Kasus Lama yang Kembali Mencuat
Dari hasil klarifikasi, diketahui bahwa kasus dugaan bullying ini sudah terjadi delapan bulan lalu dan telah diselesaikan melalui mediasi. Tradisi “pukulan keluar asrama” yang dulu ada di sekolah ini kini telah dihapus.
Namun, penyebaran informasi yang tidak lengkap di media sosial membuat kasus ini kembali menjadi perbincangan publik.
Pihak sekolah memastikan akan terus meningkatkan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.(Aj)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












