Hanta virus Mulai Jadi Sorotan Nasional, Dinkes Tuban Minta Warga Jangan Abai

- Reporter

Senin, 11 Mei 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi petugas menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang terkontaminasi kotoran tikus sebagai upaya pencegahan penyebaran Hanta virus, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Kasus Hanta virus yang mulai mendapat perhatian nasional belum ditemukan di Kabupaten Tuban. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban meminta masyarakat tidak menganggap remeh ancaman penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sedikitnya 23 kasus konfirmasi Hantavirus ditemukan di Indonesia sejak 2024 hingga Mei 2026. Seluruh kasus yang terdeteksi diketahui merupakan jenis Seoul Virus. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia dengan tingkat fatalitas mencapai 13 persen.
Kasus Hantavirus di Indonesia tersebar di sembilan provinsi, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, hingga Kalimantan Barat. Kemenkes juga mencatat kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY.
Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Roikhan memastikan hingga kini belum ada laporan warga Tuban yang terpapar Hantavirus. Namun pihaknya tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar permukiman.
“Di Kabupaten Tuban sampai saat ini belum ada laporan kasus Hantavirus. Namun masyarakat tetap harus waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus agar tidak menjadi sumber penularan penyakit,” kata Roikhan kepada Liputansatu.id, Minggu (11/05/2026).

Penularan Bisa Terjadi Saat Bersihkan Gudang dan Loteng

Roikhan menjelaskan, penularan Hantavirus berbeda dengan penyakit lain yang dibawa nyamuk. Virus tersebut menyebar melalui partikel urin, feses, maupun air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia.
Menurutnya, risiko penularan cukup tinggi saat seseorang membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan, seperti gudang, loteng, hingga bangunan kosong yang menjadi sarang tikus.
“Penularannya bisa terjadi saat seseorang membersihkan area yang terdapat kotoran tikus tanpa prosedur yang aman. Karena itu masyarakat harus berhati-hati saat membersihkan gudang, loteng, maupun bangunan lama,” imbuhnya.
Kemenkes RI juga menyebut sejumlah aktivitas memiliki risiko lebih tinggi terhadap paparan Hantavirus, seperti petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pengendali hama, petani, hingga aktivitas luar ruangan seperti berkemah dan mendaki gunung. Risiko tersebut meningkat karena adanya kontak dengan debu atau area yang terkontaminasi ekskresi tikus.

Gejala Awal Mirip Flu, Bisa Berujung Gangguan Paru-Paru

Roikhan menambahkan, gejala awal Hanta virus Pulmonary Syndrome (HPS) biasanya ditandai demam, tubuh lemas, serta nyeri otot di bagian paha, punggung, bahu, dan panggul. Dalam kondisi lebih lanjut, penderita dapat mengalami batuk hingga sesak napas akibat gangguan pada paru-paru.
Selain HPS, beberapa kasus Seoul Virus di Indonesia juga dilaporkan memunculkan gejala Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), seperti sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga gangguan ginjal ringan sampai berat.
Meski mulai menjadi perhatian publik, Kemenkes memastikan kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini belum menunjukkan penularan antarmanusia seperti Andes Virus yang sempat ramai diberitakan pada kasus kapal pesiar MV Hondius.

Dinkes Imbau Warga Jangan Sembarangan Bersihkan Kotoran Tikus

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tuban mengimbau masyarakat untuk menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menjaga kebersihan makanan dan sampah, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus.
Selain itu, warga diminta tidak langsung menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering. Pembersihan disarankan diawali dengan menyemprotkan cairan disinfektan atau pemutih agar partikel virus tidak beterbangan di udara.
Dinkes berharap masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menjaga sanitasi lingkungan rumah agar tidak menjadi habitat tikus yang berpotensi membawa penyakit. (Az)

Berita Terkait

Hingga Mei 2026 Belum Ada Lelang Proyek Fisik di Tuban, DPRD Soroti Kinerja OPD
Gus Lilur Apresiasi Menkeu Purbaya, Dorong Transformasi Rokok Ilegal dan Percepatan KEK Tembakau Madura
Belum Ada Rambu, Gundukan Aspal Proyek Sekolah Rakyat Diduga Sebabkan Ojol Tewas
Lapas Tuban Gandeng TNI dan Baznas Bedah Rumah Warga Kurang Mampu
Goa Akbar Tertinggal di Tengah Moncernya Wisata Tuban
Diduga Serangan Jantung, Pria Asal Plumpang Meninggal Mendadak di Pasar Sapi Tuban
Serukan Tritura Nelayan, Gus Lilur Desak Prabowo Bentuk Satgas Berantas Penyelundupan BBL
Hunting System Digelar di Sejumlah Ruas Kota Tuban, Knalpot Brong dan Balap Liar Jadi Sasaran

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:15 WIB

Hingga Mei 2026 Belum Ada Lelang Proyek Fisik di Tuban, DPRD Soroti Kinerja OPD

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:07 WIB

Gus Lilur Apresiasi Menkeu Purbaya, Dorong Transformasi Rokok Ilegal dan Percepatan KEK Tembakau Madura

Selasa, 12 Mei 2026 - 05:25 WIB

Belum Ada Rambu, Gundukan Aspal Proyek Sekolah Rakyat Diduga Sebabkan Ojol Tewas

Senin, 11 Mei 2026 - 23:33 WIB

Lapas Tuban Gandeng TNI dan Baznas Bedah Rumah Warga Kurang Mampu

Senin, 11 Mei 2026 - 23:26 WIB

Goa Akbar Tertinggal di Tengah Moncernya Wisata Tuban

Berita Terbaru

Daerah

Goa Akbar Tertinggal di Tengah Moncernya Wisata Tuban

Senin, 11 Mei 2026 - 23:26 WIB

Advertisement
Exit mobile version