Hidup Miskin di Desa Jlodro Tuban
Tuban –Udara panas menerpa kulit, debu berterbangan bersama daun rumput kering di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Tuban. Di tengah tanah gersang dan rumah sederhana hasil bantuan program RTLH pemerintah, seorang nenek menua harus memikul beban berat: menghidupi dua cucu kembar yang lahir dari anaknya yang mengalami gangguan jiwa.
Anak Perempuan dengan Gangguan Jiwa Melahirkan Empat Anak
Kepala Desa Jlodro, Suroso, menceritakan kondisi keluarga ini. Sang nenek tinggal bersama anak perempuannya yang mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Dari keadaannya itu, sang anak melahirkan empat anak.
Namun perjalanan hidup mereka penuh duka: anak pertama diadopsi sebuah yayasan di Surabaya, anak kedua meninggal di usia 12 hari, sementara dua anak kembar yang kini duduk di bangku TK tetap berada dalam asuhan neneknya.
“Suami nenek itu sudah lama meninggal. Orang yang menghamili anaknya juga tidak pernah diketahui. Jadi mereka hidup benar-benar bergantung dari belas kasih,” ujar Suroso.
Nenek di Tuban Tetap Antar Cucu Sekolah
Meski hidup pas-pasan, sang nenek menolak menyerah. Setiap hari, ia berjalan beberapa kilometer untuk mengantarkan cucu kembarnya ke sekolah. Ia juga menolak saat ada orang yang berniat mengadopsi cucu-cucu itu.
“Saya kalau lihat mereka lewat depan rumah, selalu saya kasih uang saku,” tambah Suroso.
Keluarga ini memang menerima bantuan pemerintah, seperti BPNT, BLT DD, serta kunjungan pejabat kabupaten. Namun kebutuhan sehari-hari masih jauh dari cukup. Uluran tangan para tetangga dan dermawan menjadi penopang utama mereka.
Kisah Haru dari Anak Sang Nenek
Tim Liputansatu.id sempat mendatangi rumah sang nenek. Kebetulan, anak kedua dari sang nenek sedang berkunjung. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan perjalanan keluarganya.
“Alhamdulillah, bantuan selalu ada, entah beras, entah uang. Tapi ibu dan kakak saya tetap butuh uluran tangan,” ucapnya sembari meneteskan air mata.
Ia mengisahkan bahwa kakaknya semakin terpuruk setelah ayah mereka meninggal. Gangguan jiwa yang dialami semakin parah, diperburuk dengan perlakuan bejat orang tak dikenal yang berulang kali menghamilinya. Kakaknya pernah dirawat di RSJ Menur Surabaya, namun akhirnya kembali ke rumah tanpa banyak perubahan.
“Kakak saya gak pernah keluar rumah. Setiap hari dikunci, tapi pernah ada orang congkel pintu. Gak tahu siapa,” kisahnya.
Harapan Nenek di Usia Senja
Kini, di usia senja tanpa sosok laki-laki sebagai penopang keluarga, sang nenek hanya bisa menggantungkan harapan pada kebaikan sesama. Tekadnya satu: memastikan cucu kembar itu tetap bisa sekolah dan tidak tercerabut dari pangkuannya. (Az)
Editor : Kief












