Situbondo – Dua santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Syeh Abdul Qodir Jailani, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Situbondo, masih menjalani perawatan intensif usai menjadi korban ambruknya atap kamar asrama pada Rabu (29/10/2025) dini hari.
Keduanya mengalami patah tulang dan dijadwalkan menjalani operasi di RS Besuki pada Kamis pagi (30/10/2025).
Bupati Situbondo Datang Langsung Beri Dukungan Moral
Menjelang tindakan operasi, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, datang langsung memberikan dukungan moral kepada kedua korban di ruang VIP Teratai RS Besuki.
Bupati yang akrab disapa Mas Rio itu tiba sekitar pukul 09.30 WIB dan menyempatkan berbincang hangat dengan keluarga serta para santri yang mendampingi korban.
“Saya datang untuk memberi semangat. Sekitar pukul 11.00 WIB mereka akan dioperasi. Kita beri dukungan dan semangat agar mental mereka kuat, semacam trauma healing supaya anak-anak ini bisa lebih tenang,” ujar Mas Rio usai kunjungan.
Semua Biaya Ditanggung Pemkab
Dalam kesempatan tersebut, Mas Rio menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan dan kebutuhan keluarga korban selama masa perawatan akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo.
“Semua biaya pengobatan dan kebutuhan keluarga, termasuk makan selama mendampingi anak-anak di rumah sakit, ditanggung Pemkab. Kita ingin memastikan keluarga korban tidak terbebani,” tegasnya.
Mitigasi Kelayakan Bangunan Ponpes
Lebih lanjut, Bupati Rio menjelaskan bahwa beberapa pondok pesantren di Situbondo sebelumnya telah mengajukan permohonan kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk dilakukan mitigasi dan pemeriksaan kelayakan bangunan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Permohonan itu sudah masuk, dan akan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Dipastikan Akibat Cuaca Ekstrem, Bukan Kesalahan Konstruksi
Terkait penyebab ambruknya atap asrama, Mas Rio memastikan kejadian tersebut murni akibat faktor alam, bukan karena kesalahan konstruksi bangunan.
“Ini murni force majeure, akibat hujan deras disertai angin kencang. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur untuk memastikan penanganannya berjalan tepat,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak menyalahkan pihak pondok pesantren atas musibah tersebut.
“Ini murni musibah karena cuaca ekstrem. Saat kejadian, hujan dan angin memang sangat kencang,” pungkasnya. (Fia)
Editor : Kief












