Tuban – Pelaksanaan program unggulan nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, menuai kritik dari orang tua siswa. Di tengah momentum libur semester yang dimulai pada Senin (22/12/2025), distribusi paket gizi disinyalir melenceng dari pedoman teknis akibat penerapan sistem “rapel” yang dinilai tidak sebanding dengan nilai anggaran.
Distribusi Empat Hari Digabung
Kebijakan pengelola yang menggabungkan jatah konsumsi empat hari sekaligus dalam satu kali distribusi memicu kekecewaan wali murid sekolah penerima manfaat. Salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya menilai skema tersebut tidak relevan bagi pemenuhan gizi anak.
“Kami hanya menerima satu menu basah untuk hari Senin. Sisanya, jatah tanggal 23, 24, dan 27 Desember diganti paket menu kering yang sangat minimalis,” keluhnya kepada awak media.
Menu Kering Dinilai Tak Penuhi Standar Gizi Anak
Menurut wali murid tersebut, paket menu kering yang diterima hanya berupa tiga kotak susu kecil, tiga buah roti, serta masing-masing satu buah pisang, jeruk, dan buah naga. Ia menilai paket tersebut jauh dari konsep makan siang bergizi.
“Ini bukan makan bergizi gratis, tapi hanya camilan ringan,” tegasnya.
Selain kandungan gizi, ia juga menyoroti aspek psikologis anak usia dini yang membutuhkan daya tarik dalam penyajian makanan. Menurutnya, kualitas MBG di wilayah tersebut tertinggal dibandingkan daerah lain.
“Kami berharap anak-anak mendapatkan hak gizi dengan standar yang sama, baik dari kualitas menu maupun penyajiannya,” tambahnya.
Guru Benarkan Dugaan Ketidaksesuaian Anggaran
Dugaan ketidaksesuaian antara alokasi anggaran negara dengan realitas menu di lapangan diperkuat oleh keterangan salah satu tenaga pengajar setempat. Seorang guru di sekolah penerima manfaat membenarkan bahwa kualitas menu sistem rapel tersebut jauh dari ekspektasi standar gizi.
“Kalau dihitung, nilai menu kering itu disinyalir tidak sebanding dengan pagu anggaran SPPG per siswa per hari,” ujarnya.
Menurutnya, esensi utama program MBG adalah pemenuhan protein, karbohidrat, dan serat segar secara harian bagi siswa.
“Jika diganti roti dan susu kotak untuk tiga hari ke depan, jelas tujuan pemenuhan gizi seimbang tidak tercapai,” tambahnya.
Ia menduga sistem rapel tersebut lebih mengutamakan kemudahan logistik pihak pengelola dibanding kebutuhan nutrisi anak yang berada dalam masa pertumbuhan emas.
SPPG Bektiharjo Diduga Dikelola Yayasan ICT
Berdasarkan penelusuran di lapangan, operasional SPPG Bektiharjo 2 diduga berada di bawah naungan Yayasan Insan Cendekia Tuban (ICT). Namun, upaya konfirmasi kepada Ketua Yayasan melalui pesan singkat tidak mendapatkan respons hingga berita ini diterbitkan.
Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan SPPG dalam kondisi tertutup rapat. Pewarta juga telah mencoba menghubungi Kepala SPPG melalui sambungan telepon dan pesan singkat, namun tidak memperoleh klarifikasi.
Persoalan di Desa Bektiharjo ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi implementasi program strategis nasional di tingkat daerah. Masyarakat mendesak instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi dan pengawasan ketat, agar tujuan utama program MBG benar-benar dirasakan oleh siswa penerima manfaat. (Az)
Editor : Kief












