Tuban – Ratusan petani dari Kecamatan Widang dan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, nekat menjebol tanggul Waduk Jabung Ring Dyke (JRD) setelah ribuan hektare lahan pertanian mereka terendam banjir. Aksi ini dipicu oleh tidak optimalnya fungsi waduk yang telah dibangun sejak tahun 2010 namun hingga kini belum beroperasi sebagaimana mestinya.
Waduk Mangkrak, Sawah Terendam Banjir
Waduk yang dirancang sebagai penampung dan pengendali air justru menjadi sumber persoalan. Tidak hanya terbengkalai, sebagian lahan di dalam area waduk kini dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan tambak, meskipun terdapat papan larangan di pintu masuk kawasan tersebut di Desa Simorejo, Kecamatan Widang.
“Air dari Sungai Avur tidak bisa tertampung karena pintu air terlalu kecil. Akibatnya, air meluap dan merendam sawah warga,” ujar Wahyudi, perwakilan petani yang dikenal dengan sapaan Bayan Banjar, Selasa (17/06/25).
Ribuan Hektare Gagal Tanam, Kerugian Miliaran
Menurut Wahyudi, kondisi banjir mengakibatkan 120 hektare sawah di Desa Banjar tak bisa ditanami dari total 360 hektare. Di Desa Widang, sekitar 80 hektare terdampak, sementara di Desa Bunut hampir 90 persen lahan terendam. Di Plumpang, lahan terdampak bahkan mencapai 7.000 hektare.
Dengan asumsi satu hektare lahan menghasilkan 6–7 ton gabah per musim tanam, kerugian yang dialami petani bisa mencapai miliaran rupiah.
“Ini bukan pertama kali. Setiap tahun kami dilanda banjir, tapi kali ini yang paling parah,” ungkap Wahyudi.
Aksi Nekat Demi Selamatkan Panen
Merasa frustrasi akibat gagal tanam berkepanjangan, para petani akhirnya mengambil langkah darurat. Mereka menyewa alat berat untuk menjebol tanggul dan memperlebar pintu air agar air dari Sungai Avur bisa dialirkan masuk ke waduk.
“Kami jebol meski belum dapat izin, karena ini sudah darurat,” kata Nur Aksan, Koordinator Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Kecamatan Plumpang.
Latar Belakang Proyek Waduk JRD: Mangkrak Sejak 2010
Waduk Jabung Ring Dyke sejatinya merupakan proyek strategis nasional yang mulai dibangun pada tahun 2010 dengan tujuan utama untuk mengendalikan banjir dan menampung limpahan air Sungai Avur di kawasan hilir Bengawan Solo. Namun, selama lebih dari satu dekade, proyek ini berjalan stagnan. Hingga kini, waduk belum difungsikan maksimal dan tidak memiliki sistem pintu air yang memadai.
Alih fungsi sebagian area waduk menjadi lahan pertanian dan tambak juga memperparah kondisi, karena memicu konflik pemanfaatan ruang dan menyalahi fungsi teknis waduk.
Respons Pemerintah: Penjebolan Bukan Solusi
Kepala Pelaksana BPBD Tuban, Sudarmaji, menegaskan bahwa penjebolan tanggul bukan bagian dari solusi pemerintah.
“Pemerintah hanya menyarankan dua hal: pembersihan enceng gondok dan pembukaan enam pintu air. Penjebolan tanggul justru merusak aset negara,” tegasnya.
Sementara itu, Feri dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo menyampaikan pihaknya telah melibatkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan berencana melakukan perbaikan pada 2026.
“Kami imbau agar petani tidak mengulanginya. Itu aset negara dan pengerjaan perbaikan sudah kami anggarkan,” ujarnya.
Harapan Petani: Waduk Difungsikan Sesuai Tujuan
Para petani kini berharap pemerintah turun tangan menyelesaikan persoalan mangkraknya Waduk Jabung Ring Dyke. Mereka menuntut kejelasan tata kelola dan optimalisasi fungsi waduk agar tragedi serupa tidak terus berulang.
“Waduk itu untuk menampung air, bukan jadi sawah atau tambak,” tutup Wahyudi.(Az)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












