Surabaya – Rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) di pesisir utara Jawa Timur memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Setelah nelayan tradisional, kini akademisi dan pemerhati lingkungan turut menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang proyek tersebut.
Guru Besar Bioteknologi Kelautan dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, Marita Ika Joesidawati, menilai pendekatan pembangunan tanggul laut raksasa tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi dalam menangani persoalan pesisir.
“Sebaliknya, strategi yang mengedepankan mangrove, rekayasa lunak, dan sistem hybrid menawarkan solusi yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berkeadilan,” ujarnya.
Menurutnya, karakter pesisir seperti wilayah Tuban–Gresik yang dinamis membutuhkan pendekatan berbasis ekosistem, bukan semata struktur keras.
Risiko Multisektor dari Struktur Keras
Marita menegaskan, pembangunan GSW dengan model hard structure berpotensi menimbulkan dampak luas, mulai dari perubahan fisika dan kimia perairan hingga terganggunya ekosistem.
“GSW model hard structure akan berdampak pada multi sektoral,” tegasnya.
Ia menyebut perubahan area tangkap ikan hingga potensi hilangnya sumber daya laut menjadi risiko nyata jika proyek dipaksakan tanpa kajian mendalam.
Lima Rekomendasi Penanganan Abrasi
Sebagai alternatif, Marita menawarkan sejumlah langkah strategis, di antaranya:
• Moratorium parsial pembangunan GSW skala besar
• Kajian morfodinamika jangka panjang (lebih dari 50 tahun)
• Prioritas pada nature-based solution seperti rehabilitasi mangrove
• Implementasi sistem hybrid sebagai standar perlindungan pesisir
• Integrasi pengelolaan sedimen dalam perencanaan
Ia juga menekankan pentingnya menjaga akses publik terhadap wilayah pesisir sebagai bagian dari keadilan ekologis.
Pemerhati: Ada Sisi Positif, Tapi Risiko Besar
Pandangan berbeda disampaikan Ketua Avicenna Good Government and Public Policy, Muhammad Khudaifi Al Muhibbih. Ia menilai GSW memiliki sisi positif, terutama dalam membuka ruang baru bagi pengembangan industri di wilayah utara Jawa.
“Kita lihat di Gresik di daerah selatan sudah penuh sesak, satu-satunya jalan yang bisa ya di sisi utara,” ujarnya.
Selain itu, proyek ini dinilai berpotensi menjadi solusi instan untuk mengatasi abrasi dan banjir rob yang kerap terjadi, terutama di wilayah seperti Ujungpangkah, Gresik.
Ancaman Baru bagi Sungai dan Nelayan
Namun demikian, Muhibbih mengingatkan bahwa solusi instan tersebut berpotensi menimbulkan masalah baru. Salah satunya adalah terganggunya aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan Kali Lamong saat debit air tinggi.
Tak hanya itu, sektor perikanan dan budidaya juga terancam terdampak. Petani tambak, khususnya budidaya rumput laut air payau, bergantung pada siklus pasang surut air laut.
“Para petani rumput laut itu nunggu air laut pasang sehingga masuk ke tambaknya dan tercampur dengan air tawar untuk mereka budidaya,” jelasnya.
Dampak lain yang disoroti adalah potensi terhambatnya aktivitas nelayan tradisional. Dengan adanya tanggul besar, akses untuk bersandar dan beraktivitas di pesisir bisa menjadi terbatas.
“Yang jelas dampak ekologis pasti akan berdampak negatif jika memang ini jadi direalisasikan,” pungkasnya. (Az)