Tuban – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa perusahaan migas asal Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, masih berkomitmen dalam proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, Jawa Timur. Kepastian ini disampaikan di tengah munculnya sanksi baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan tersebut.
Proses FID Masih Berlangsung
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan bahwa proses Final Investment Decision (FID) dari pihak Rosneft hingga kini masih berjalan.
“Kalau itu infonya masih sama dengan dulu. Jadi Rosneft-nya sampai sekarang kan masih belum (FID),” ujar Laode saat ditemui awak media di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat (24/10/2025), dikutip dari Bloomberg Technoz.
Ia menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum menerima perkembangan terbaru mengenai sejauh mana proses FID dari perusahaan asal Rusia itu.
“Prosesnya masih berjalan, tetapi kami belum mendapatkan kabar terbaru dari pihak Rosneft,” katanya.
Menurut Laode, keputusan investasi final itu sebenarnya ditargetkan dapat rampung pada kuartal IV tahun 2025, sesuai dengan rencana awal yang telah disepakati bersama.
“Sesuai rencana awal, tenggat waktunya memang di kuartal IV 2025. Tapi kami masih menunggu kabar resmi dari mereka,” ujarnya.
Pertamina Pastikan Kerja Sama Tetap Berjalan
Dari pihak Indonesia, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan bahwa kerja sama dengan Rosneft dalam proyek GRR Tuban masih berjalan sesuai rencana.
“PT Pertamina Rosneft Pengolahan & Petrokimia melalui anak usaha saat ini masih bersama PJSC Rosneft Oil Company untuk pelaksanaan proyek GRR Tuban,” kata Hermansyah Y. Nasroen, Corporate Secretary PT KPI, dalam keterangan resminya.
Pihak Pertamina Rosneft Pengolahan & Petrokimia (PRPP) juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak akurat yang mengatasnamakan proyek tersebut.
“Kami meminta masyarakat untuk tidak percaya dan berhati-hati dengan adanya penipuan berbekal MoU palsu. Sejak Juli 2020, PRPP tidak pernah lagi mengadakan proses pengadaan lahan baru untuk proyek GRR Tuban,” jelas Yuli Wahyu Witantra, Corporate Affairs PRPP.
Proyek Strategis Nasional dengan Kapasitas Besar
Proyek GRR Tuban merupakan kerja sama strategis antara Pertamina dan Rosneft untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kilang ini dirancang dengan kapasitas pengolahan 300 ribu barel minyak per hari, menjadikannya salah satu proyek energi terbesar di Asia Tenggara.
Hingga kini, pemerintah dan Pertamina masih menunggu langkah resmi dari Rosneft terkait keputusan investasi akhir. Meski tekanan geopolitik global meningkat, seluruh pihak berharap proyek GRR Tuban tetap berjalan sesuai jadwal dan dapat memperkuat infrastruktur energi Indonesia di masa depan. (Aj)
Editor : Kief












