Tuban – Sebuah video berdurasi 47 detik yang memperlihatkan bangunan di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, mendadak viral di media sosial. Gedung yang diyakini warga sebagai Gelanggang Olahraga (GOR) itu kini tengah dialihfungsikan menjadi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rekaman yang diunggah pada Selasa (12/08/2025) tersebut memicu ratusan komentar warganet dan memanaskan perbincangan di desa.
Sejak pertama kali berdiri pada 1992, GOR Rengel menjadi salah satu titik pusat aktivitas warga—dari pertandingan voli hingga acara pernikahan. Namun, warga kaget saat mengetahui bangunan itu akan menjadi dapur pengolahan makanan untuk program MBG.
Tidak Ada Sosialisasi
Seorang warga yang rumahnya hanya beberapa meter dari lokasi mengaku kecewa. Ia merasa sama sekali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
“Rumah saya sangat dekat, ini nanti limbahnya pasti akan berdampak pada kami. Pihak desa tidak pernah melakukan sosialisasi, RT juga bilang belum ada sosialisasi,” ujarnya kepada LiputanSatu.id, Rabu (13/08/2025).
Selain minimnya sosialisasi, warga juga mempertanyakan alasan pemilihan gedung yang masih aktif digunakan masyarakat. Ia menyebut masih ada aset desa lain, seperti kolam renang yang sudah lama terbengkalai, yang bisa dimanfaatkan tanpa mengganggu kegiatan warga.
“Kenapa tidak pakai aset lain yang terbengkalai? GOR ini masih bagus dan punya nilai sejarah,” tambahnya.
Bantahan Kepala Desa
Kepala Desa Rengel, Mundir, membantah tudingan tidak adanya sosialisasi. Ia mengklaim telah menyampaikan rencana perubahan fungsi kepada para RT untuk diteruskan ke warga.
“Kami sudah sosialisasi ke RT, tidak mungkin kami sosialisasi door to door,” katanya.
Menurut Mundir, meskipun GOR masih digunakan, pengelolaannya belum menghasilkan pendapatan maksimal. Bahkan, biaya perawatan dan operasionalnya terus membebani kas desa.
Dengan menjadikannya SPPG, ia menilai potensi pendapatan desa akan meningkat. Selain itu, proyek ini diproyeksikan menyerap 40 tenaga kerja lokal dan membuka peluang bagi warga untuk memasok bahan pangan seperti tahu, tempe, dan hasil pertanian.
“Keuntungan ini sifatnya domino, dari sewa gedung sampai serapan produk lokal,” ujarnya.
Soal Limbah dan Aset Terbengkalai
Terkait kekhawatiran limbah, Mundir memastikan SOP pengelolaan limbah sudah jelas. Ia juga menyebut desa memiliki TPS pengolahan sampah mandiri yang mampu menghasilkan pakan ternak dan pupuk organik.
Adapun mengenai aset kolam renang yang terbengkalai, Mundir mengaku tidak memilihnya karena masih ada masalah perencanaan sejak kepemimpinan sebelumnya.
“Ada masalah dengan aset kolam renang tersebut. Sebagai pemimpin, ya mikul duwur mendem jero,” tutupnya. (Az)
Editor : Kief












