Proyek Strategis Nasional Terancam Mandek
Tuban– Proyek pembangunan Kilang Minyak Tuban yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) kembali menjadi sorotan publik. Mega proyek hasil kerja sama antara Rosneft Oil Company asal Rusia dan PT Pertamina (Persero) itu menghadapi berbagai tantangan serius, terutama akibat sanksi ekonomi dari negara Barat terhadap Rusia.
Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) mendorong agar Rosneft segera menggandeng investor asal Tiongkok sebagai mitra strategis baru. Tujuannya, agar proyek kilang senilai lebih dari Rp238 triliun tersebut dapat tetap berjalan sesuai target, meskipun tekanan internasional terhadap Rusia terus meningkat.
Sanksi Uni Eropa Picu Risiko Rantai Pasok
Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menyatakan bahwa menggandeng Tiongkok merupakan langkah cerdas dan realistis untuk menjaga kelangsungan proyek Kilang Tuban. Terutama mengingat paket sanksi ke-18 yang baru-baru ini diumumkan oleh Uni Eropa terhadap sektor energi Rusia.
“Sanksi memang tidak sepenuhnya mematikan investasi Rusia ke negara lain, namun berpotensi memperlambat progres proyek seperti Kilang Tuban. Menggandeng China, terutama dalam hal suplai peralatan dan infrastruktur, bisa jadi solusi strategis,” ujar Moshe, dikutip dari BloombergTechnoz, Rabu (23/07/2025).
Menurut Moshe, ketergantungan terhadap rantai pasok dari Rusia berisiko tinggi di tengah ketidakpastian global. Ia menilai bahwa pengalihan logistik dan suplai material ke Tiongkok akan memberi perlindungan terhadap potensi blokade teknologi maupun peralatan.
“Kalau tetap mengandalkan negara Barat, akan sulit. Risiko seperti ini seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak awal. Kita perlu solusi praktis agar proyek tidak terus tertunda,” tambahnya.
Final Investment Decision Masih Tertunda
Meski menjadi proyek prioritas pemerintah, Final Investment Decision (FID) atau keputusan investasi akhir dari proyek ini belum juga difinalisasi. DPR RI, melalui Komisi VII, sempat menargetkan FID akan rampung pada Agustus 2025, namun PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memberikan pernyataan berbeda.
“Saat ini target FID realistisnya molor ke kuartal IV tahun 2025,” jelas Milla Suciyani, Pjs. Corporate Secretary KPI.
Milla menambahkan bahwa proyek GRR Tuban masih berada dalam fase pembukaan lahan (land clearing). Tahap berikutnya, yaitu engineering, procurement, and construction (EPC), tidak bisa dimulai tanpa adanya kepastian dari FID.
Kebutuhan Transparansi dan Kepastian Investasi
Moshe Rizal menegaskan bahwa proyek senilai puluhan miliar dolar ini membutuhkan kejelasan total sebelum bergerak ke tahap konstruksi. Menurutnya, semua komponen investasi harus sudah disepakati—termasuk porsi saham, sumber pendanaan, dan pemilihan kontraktor.
“Proyek sebesar ini tidak bisa dijalankan dengan setengah-setengah. Semuanya harus terang benderang, agar tidak jadi bom waktu di kemudian hari,” ujarnya.
Kilang Tuban: Megaproyek Energi Nasional
Proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban digarap oleh perusahaan patungan antara Rosneft dan Pertamina. Kilang ini dirancang mampu mengolah hingga 300.000 barel minyak per hari, menjadikannya salah satu kilang terbesar di Indonesia.
Dengan nilai investasi sekitar Rp238,25 triliun, proyek ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi impor BBM, dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru di wilayah Jawa Timur.
Namun, tanpa langkah konkret untuk mengatasi hambatan internasional, proyek ini dikhawatirkan akan terus mandek dan gagal memberikan manfaat optimal bagi bangsa.(Aj)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












