Tuban – Setelah sebelumnya masyarakat Tuban dibuat resah oleh isu Pertalite yang menyebabkan mesin brebet, kini giliran kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang menimbulkan keresahan. Antrean panjang kendaraan tampak di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Tuban, Kamis (30/10/2025).
Pantauan LiputanSatu.id di beberapa SPBU sekitaran kota menunjukkan deretan truk dan minibus mengular hingga ke badan jalan. Kondisi ini bahkan memicu kemacetan di beberapa titik. Di sejumlah lokasi, stok solar juga dilaporkan kosong.
Sopi Keluhkan Antrean Panjang di SPBU
Salah satu sopir angkutan umum, Toni Hemawan (48), mengaku kelangkaan solar sudah berlangsung lebih dari sepekan. Ia menuturkan, pendapatannya menurun drastis karena sulit mendapatkan bahan bakar.
“Biasanya di SPBU Sleko tidak pernah kekurangan BBM, tapi sekarang malah kosong juga. Saya antre dari jam 09.00 pagi, baru dapat solar jam 12.30 siang. Capek sekali,” keluh Toni saat ditemui di lokasi.
Beberapa sopir bahkan terpaksa membeli solar eceran di warung pinggir jalan dengan harga lebih mahal agar tetap bisa beroperasi. “Kalau tidak beli eceran, ya gak jalan. Tapi rugi besar, harga eceran lebih mahal di atas SPBU,” tambahnya.
SPBU Akui Pasokan Solar Dipangkas
Pengawas SPBU Gesing, Teguh, membenarkan bahwa pasokan solar dari Pertamina mengalami pengurangan. Kuota yang sebelumnya mencapai 24 ton per hari kini dipangkas menjadi 16 ton.
“Kuota 16 ton itu kami salurkan dalam tiga shift, masing-masing sekitar lima ton, sisanya satu ton untuk tangki penyimpanan agar pompa tidak rusak,” jelasnya.
Ia menyebut, pengurangan pasokan ini menjadi penyebab utama antrean panjang di lapangan. SPBU hanya bisa melayani sebagian kecil dari total kendaraan yang datang setiap harinya.
Pertamina Bantah Kelangkaan Solar
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa tidak ada kelangkaan solar di wilayah Tuban. Menurutnya, antrean panjang disebabkan peningkatan kebutuhan masyarakat dalam waktu bersamaan.
“Stok Biosolar di SPBU wilayah Tuban dan sekitarnya tersedia. Kalau ada yang kosong, statusnya sedang dalam proses pengiriman. Kami memantau stok secara digital di setiap SPBU,” ujar Ahad melalui pesan singkat kepada LiputanSatu.id.
Ahad juga menjelaskan bahwa solar termasuk produk bersubsidi sehingga penyalurannya harus menyesuaikan kuota yang ditetapkan pemerintah. Namun, saat disinggung soal adanya pembatasan kuota menjelang akhir tahun, ia belum memberikan penjelasan lebih lanjut.
Warga Pertanyakan Stabilitas Pasokan BBM
Meski Pertamina memastikan stok aman, masyarakat menilai kondisi di lapangan tidak mencerminkan hal tersebut. Setelah sebelumnya muncul keluhan terkait Pertalite yang menyebabkan mesin brebet, kini giliran solar yang sulit diperoleh.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru, terutama bagi sopir truk dan pelaku transportasi yang bergantung penuh pada BBM bersubsidi. Selain menghambat aktivitas logistik, kelangkaan solar juga berpotensi mengganggu distribusi barang dan bahan pokok di Tuban.
“Warga berharap Pertamina tidak hanya memastikan stok di data digital, tapi juga di pompa-pompa tempat rakyat antre setiap hari,” ujar salah satu warga yang turut mengantri di SPBU. (Az)
Editor : Kief












