Batik Gedog Khas Tuban yang Melegenda dan Sarat Akan Filosofi

- Reporter

Jumat, 28 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batik Gedog Khas Tuban, menjadi salah satu kekayaan seni budaya di Indonesia,(Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Batik Gedog Khas Tuban, menjadi salah satu kekayaan seni budaya di Indonesia,(Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni, dan budaya dari ujung timur hingga ke ujung barat. Beragam suku yang ada di negeri ini menjadikan negeri ini memiliki bermacam kesenian, juga kebudayaan. Begitu juga dengan Kabupaten Tuban. Kota kecil yang ada di jalur pantai utara (pantura) pulau Jawa ini memiliki beragam kesenian dan kebudayaan, salah satu-satunya adalah kesenian Batik Gedog.

Batik Gedog merupakan kesenian kain khas Tuban yang memiliki nilai filosofi dari proses pembuatannya juga tiap jenis motifnya semua memiliki nilai-nilai filosofis di dalamnya.

Uswatun Khasanah, seorang pengerajin Batik Gedog yang sudah bertahun-tahun melegenda dan telah dia jaga secara turun-temurun. Ditemui oleh Liputansatu.id di sanggarnya di Desa Kedungrejo Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban, dia menjelaskan jika Batik Gedog merupakan kain batik yang hanya dibuat di Tuban, bahkan saat ini hanya ada di Kecamatan Kerek saja.

Menurut Uswatun terdapat bermacam jenis kain bisa digunakan sebagai media Batik, namun terbuat dari kain khusus. Batik Godog dibuat dari kapas yang dipintal, lalu ditenun hingga membentuk kain, selanjutnya dilakukan proses pembatikan, dan pewarnaan dengan menggunakan warna-warna dari bermacam tumbuhan.

Dalam proses pemintalan terdapat pakem yang harus terpenuhi, setiap ukel (gulungan benang) terdapat 40 sekawan, sekawan merupakan kumpulan dari 4 simpul dan tiap simpul terdapat 5 helai benang. Ukel tersebut kemudian ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional yang hanya ada di Kerek, dalam proses penenunan alat tenun berbunyi ‘dog-dog-dog’, hal tersebut yang menyebabkan kain ini disebut kain Gedog.

Setelah ditenun, kain dilakukan proses pembatikan, juga pewarnaan. Pewarna yang digunakan terbuat dari bahan alam dari biji dan akar tanaman indigofera yang telah difermentasi selama 24 jam, kemudian setelah difermentasi dilakukan pengadukan selama setengah hingga 1 jam lalu dibiarkan mengendap. Hasil endapan tersebut dicampur gula jawa yang kemudian digunakan untuk mewarnai kain Gedog.

Terdapat 100 motif Batik Gedog yang diantaranya terdapat 40 motif yang telah terdaftar dalam Indeks Geografi (IG). Motif-motif tersebut yang digunakan sebagai seserahan yang harus diserahkan oleh seorang laki-laki di Kerek dalam proses melamar perempuan. Masing-masing motif memiliki bermacam filosofi dari proses kelahiran, anak kecil, laki-laki, perempuan, pekerjaan, ketika sakit, orang tua, hingga ketika orang meninggal.

“Masing-masing motif ini ada nilai filosofisnya, dari setiap proses pembuatannya dibarengi dengan doa-doa, dari proses pemintalan hingga pewarnaan,” ungkap Uswatun.

Uswatun menyayangkan karena saat ini minat dari generasi penerus untuk melanjutkan seni ini semakin menurun. Rumitnya proses pembuatan menjadi hal yang kurang diminati oleh generasi penerus. Saat ini hanya 4 desa di Kecamatan Kerek yang masih aktif membuat Batik Gedog, dan yang paling besar di desa Kedungrejo.

“Saya aktif melakukan pelatihan-pelatihan di sekolah-sekolah, sanggar ini terbuka untuk siapapun yang mau belajar membatik,” ujar Wanita peroleh penghargaan Upakarti sari Presiden Susilo Bambang Yudoyono tersebut.(Az)

Berita Terkait

Dugaan Penyelewengan BBM Bersubsidi di SPBU Sukolilo Bancar, Tuban
Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat
Desakan Transparansi Aliran Dana Dugaan Korupsi Kuota Haji Menguat
Kalah Dari Pasuruan United, Langkah Persatu Tuban Terhenti Dibabak 32 Besar Liga 4 Jatim 2026
Update Penemuan Mayat di Sungai Sampean Lama: Korban Dipastikan Perempuan
Pembalakan Liar Marak di Tuban, 11 Batang Kayu Jati Diamankan di KPH Jatirogo
Kasus Burung Cendet Baluran: Kakek Masir Bebas Setelah 5 Bulan 20 Hari Ditahan
Alih Fungsi KUD Jadi Dapur MBG di Senori Disorot, Pemerintah Desa dan Forkopimcam Mengaku Tak Tahu

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 23:55 WIB

Dugaan Penyelewengan BBM Bersubsidi di SPBU Sukolilo Bancar, Tuban

Sabtu, 10 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat

Sabtu, 10 Januari 2026 - 13:03 WIB

Desakan Transparansi Aliran Dana Dugaan Korupsi Kuota Haji Menguat

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:54 WIB

Kalah Dari Pasuruan United, Langkah Persatu Tuban Terhenti Dibabak 32 Besar Liga 4 Jatim 2026

Jumat, 9 Januari 2026 - 18:45 WIB

Update Penemuan Mayat di Sungai Sampean Lama: Korban Dipastikan Perempuan

Berita Terbaru

Pembeli solar bersubsidi menggunakan drum 200 liter diduga tanpa surat rekom dan abaikan konsumen kendaraan pribadi, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Dugaan Penyelewengan BBM Bersubsidi di SPBU Sukolilo Bancar, Tuban

Sabtu, 10 Jan 2026 - 23:55 WIB

Rekan dan keluarga nelayan Tuban yang berhasil diselamatkan setelah dilaporkan hilang, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Peristiwa

Dua Nelayan Tuban yang Hilang Berhasil Ditemukan Selamat

Sabtu, 10 Jan 2026 - 21:49 WIB

Advertisement
Promo Shopee