Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

Masjid Kayu 201 Tahun di Situbondo: Jejak Kyai Raden Mas Su’ud dan Warisan Generasi Penerus

- Reporter

Senin, 12 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangunan Masjid Kayu berusia 201 tahun di Situbondo yang menjadi saksi sejarah dakwah Islam lintas generasi, (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Bangunan Masjid Kayu berusia 201 tahun di Situbondo yang menjadi saksi sejarah dakwah Islam lintas generasi, (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Situbondo – Di Desa Kayuputih, Kabupaten Situbondo, berdiri sebuah bangunan kayu sederhana yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Oleh warga sekitar, bangunan ini kerap disebut sebagai langgar atau musala. Namun, di balik kesederhanaannya, tempat ini diyakini menyimpan jejak sejarah panjang yang telah melampaui dua abad.
Berdasarkan penuturan lisan yang berkembang di masyarakat, bangunan kayu tersebut telah ada sejak sekitar tahun 1825 atau sekitar 201 tahun lalu. Pada masanya, tempat ibadah ini dipercaya berfungsi sebagai masjid utama sebuah pesantren yang pernah berkembang di wilayah Kayuputih.

Jejak Kyai Raden Mas Su’ud

Masjid kayu tersebut dalam tradisi lisan setempat dikaitkan dengan sosok Kyai Raden Mas Su’ud. Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki penguasaan ilmu keislaman dan disebut-sebut berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Situbondo dan sekitarnya pada masanya.
Hingga kini, sejumlah peninggalan fisik masih dapat dijumpai dan kerap dijadikan penguat cerita tersebut. Salah satunya adalah makam Kyai Raden Mas Su’ud dengan bentuk nisan yang, menurut sebagian pemerhati sejarah lokal, memiliki kemiripan dengan nisan ulama di wilayah Pamekasan dan Sumenep, Madura.
Selain makam, keberadaan bangunan masjid kayu yang masih berdiri relatif kokoh hingga kini menjadi artefak penting yang menandai keberlangsungan jejak sejarah tersebut.

Antara Sejarah dan Tradisi Lisan

Seiring perjalanan waktu, pesantren yang diyakini pernah berdiri di sekitar masjid kayu itu tidak lagi berfungsi seperti dahulu. Pesantren tersebut kini hanya tersisa dalam ingatan kolektif dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam tradisi lisan masyarakat, masjid kayu ini dipercaya memiliki nilai spiritual yang tinggi. Sejumlah kisah yang bersifat nonempiris turut menyertai keberadaannya dan menjadi bagian dari khazanah budaya lokal. Masyarakat setempat menyadari bahwa kisah-kisah tersebut merupakan bentuk kepercayaan dan tradisi tutur, bukan catatan sejarah tertulis yang dapat diverifikasi secara akademik.

Tafsir Warisan oleh Generasi Penerus

Di tengah narasi sejarah dan tradisi lisan tersebut, muncul refleksi dari salah seorang keturunan Kyai Raden Mas Su’ud mengenai cara memaknai warisan leluhur. Baginya, warisan keulamaan tidak selalu harus diteruskan dalam bentuk yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia menilai bahwa setiap zaman memiliki tantangan dan ruang pengabdian yang berbeda. Oleh karena itu, nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu dapat diterjemahkan dalam kontribusi yang lebih luas, tidak terbatas pada satu lembaga atau satu wilayah.

DABATUKA dan BAKIRA sebagai Gagasan

Dalam konteks refleksi tersebut, ia memperkenalkan istilah DABATUKA dan BAKIRA sebagai gagasan personal. DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dipahaminya sebagai komitmen moral untuk menempatkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagai landasan pengabdian, sementara BAKIRA (Bandar Kyai Nusantara)  dimaknai sebagai simbol jejaring pemikiran tentang peran kyai dan tokoh agama di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah.

Gagasan ini disampaikan sebagai sebuah pandangan, bukan sebagai klaim pencapaian. Dalam konteks ini, peran kyai dan tokoh agama dipandang tidak hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.Menurutnya, mimpi untuk membangun masjid dan pusat-pusat pendidikan keagamaan di berbagai negara merupakan bagian dari harapan jangka panjang yang idealnya diwujudkan melalui proses bertahap, kolaboratif, dan bertanggung jawab.

Warisan yang Terus Hidup

Kini, masjid kayu di Desa Kayuputih tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Bangunan tersebut bukan hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara masa lalu, tradisi lisan, dan tafsir generasi penerus dalam memaknai warisan leluhur.
Di tengah perubahan zaman, kisah tentang Kyai Raden Mas Su’ud dan masjid kayu peninggalannya terus diceritakan. Bukan semata sebagai catatan sejarah lokal, melainkan juga sebagai refleksi tentang bagaimana nilai-nilai lama dapat terus hidup dan menemukan relevansinya di masa kini. (Fia)

Disunting dari catatan pribadi HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy.

Editor : Kief

Berita Terkait

Dituding Curi Patung Dewa, Go Tjong Ping: Itu Ritual, Bukan Pencurian
Kasus Dugaan Pencurian Patung Dewa di Kwan Sing Bio Tuban Dilaporkan ke Polisi
TRITURA Petani Tembakau Madura: Desak Pemerintah Ubah Arah Kebijakan Cukai
Vandalisme Merajalela di Tuban, Rumah Warga hingga Halte Jadi Sasaran
Balap Liar di JT Bawah Tuban: Ditertibkan Berulang, Tak Pernah Benar-Benar Hilang
Operasi Senyap Negara di Madura: 271 Pabrik Rokok Disasar, Dugaan ‘Peternakan Pita Cukai’ Terungkap
Minyak Kita Langka di Tuban, Alarm Baru Krisis Distribusi Bapokting
Sebulan Lebih Terjadi, Antrian LPG 3 Kg di Tuban Tak Kunjung Usai

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:57 WIB

Dituding Curi Patung Dewa, Go Tjong Ping: Itu Ritual, Bukan Pencurian

Kamis, 16 April 2026 - 20:31 WIB

Kasus Dugaan Pencurian Patung Dewa di Kwan Sing Bio Tuban Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 16 April 2026 - 13:16 WIB

TRITURA Petani Tembakau Madura: Desak Pemerintah Ubah Arah Kebijakan Cukai

Senin, 13 April 2026 - 18:27 WIB

Vandalisme Merajalela di Tuban, Rumah Warga hingga Halte Jadi Sasaran

Minggu, 12 April 2026 - 10:17 WIB

Balap Liar di JT Bawah Tuban: Ditertibkan Berulang, Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Berita Terbaru

Pengelola Klenteng Kwan Sing Bio, Tio Eng Bo saat menunjukan lokasi Kimsin Dewa Kwan Kong kepada awak media, (Foto: Assa/Liputansatu.id).

Sosial Budaya

Dituding Curi Patung Dewa, Go Tjong Ping: Itu Ritual, Bukan Pencurian

Jumat, 17 Apr 2026 - 15:57 WIB

Truk KDKMP ringsek di bagian depan usai menabrak pohon di Jalan dr Wahidin Sudirohusodo Tuban dini hari,  (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Pemerintah

Truk KDMP Kecelakaan di Tuban, Sopir Dilarikan ke RSUD dr Koesma

Jumat, 17 Apr 2026 - 14:45 WIB

Seleksi Paskibraka Tuban 2026 di GOR Rangga Jaya Anoraga diikuti 135 siswa hasil penyaringan dari 390 pendaftar, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Pendidikan

135 Siswa Berebut 78 Kursi Paskibraka Tuban 2026, Ini Tahapannya

Jumat, 17 Apr 2026 - 10:39 WIB

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id