Tuban – Hampir dua bulan petani menunggu tanaman jagungnya tumbuh hingga mulai berbuah. Namun, ketika hasil panen mulai terlihat, ancaman justru datang dari hama tikus.
Kondisi itu dirasakan petani di Desa Gaji dan Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Ratusan tikus menyerang tanaman jagung yang baru memasuki fase berbuah. Buah jagung yang seharusnya menjadi hasil jerih payah petani justru digerogoti sebelum sempat dipanen.
Bagi petani, serangan tersebut bukan sekadar persoalan hama. Jika tidak segera dikendalikan, tanaman yang telah dirawat selama berminggu-minggu terancam tidak menghasilkan panen sebagaimana diharapkan.
Salah seorang petani, Ahmad, mengatakan tanaman jagung miliknya telah berusia sekitar 50 hari ketika mulai diserang tikus.
“Ini saya tanam sekitar 50 hari, habis diserang tikus,” ujar Ahmad kepada Liputansatu.id, Kamis (20/08/2026).
Sudah Diburu dan Diracun, Tikus Tetap Berdatangan
Berbagai cara telah dilakukan petani untuk menyelamatkan tanaman mereka. Mulai memasang penghalang, memburu tikus hingga menggunakan racun.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi serangan secara menyeluruh.
Harsono, petani lainnya, mengatakan tikus masih terus berdatangan meski warga telah melakukan pengendalian secara mandiri.
“Kami juga memburu, juga memberi racun tikus. Tapi tikus-tikus itu masih banyak yang berdatangan,” katanya.
Petani bahkan memasang pembatas menggunakan plastik, jaring hingga seng untuk menghambat pergerakan tikus. Tetapi cara tersebut juga belum sepenuhnya efektif.
Tikus disebut masih mampu menjebol plastik maupun melompati pembatas dari seng.
Sekitar 500 Petani Terdampak
Kepala Desa Wolutengah, Rasdan, membenarkan serangan hama tersebut. Ia mengatakan wilayah pertanian di sisi selatan Desa Wolutengah hampir merata terdampak.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani di Wolutengah. Petani dari Desa Gaji juga menghadapi persoalan yang sama.
Rasdan memperkirakan sekitar 500 petani dari kedua desa terdampak serangan hama tikus.
Pemerintah desa, kata dia, telah berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban untuk mendapatkan bantuan pengendalian hama.
Menurut Rasdan, bantuan racun tikus atau rodentisida telah mendapatkan persetujuan. Dinas juga telah mengajukan bantuan tersebut kepada pemerintah provinsi.
“Sudah di-ACC, Senin obatnya (racun tikus, red.) diambil oleh Dinas di Surabaya, Rabu kira-kira sudah sampai ke Kerek,” ujarnya.
Pemkab Siapkan Rodentisida
Kepala DKP2P Tuban, Eko Julianto, mengatakan pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan rodentisida untuk pengendalian hama tikus.
Setelah tersedia, rodentisida akan didistribusikan kepada kelompok tani (Poktan) untuk segera digunakan di wilayah terdampak.
Eko mengimbau pengendalian tidak dilakukan secara sendiri-sendiri. Menurutnya, petani perlu melakukan gerakan pengendalian berbasis kawasan agar tikus tidak berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya.
“Kami mengimbau untuk semua Poktan melakukan gerakan pengendalian basis kawasan, obatnya dari Pemkab,” ujarnya.
Ia menyebut serangan hama tikus saat ini telah ditemukan setidaknya di 14 kecamatan di Kabupaten Tuban.
Pemerintah berharap gerakan pengendalian secara bersama-sama dapat menekan populasi tikus dan membantu petani mempertahankan produksinya.
Petani Masih Mengandalkan Swadaya
Sementara itu, Unit Pelayanan Teknis Daerah Penyuluh Pertanian Lapangan (UPTD-PPL) Kecamatan Kerek, Sunarto, mengatakan untuk sementara pengendalian masih dilakukan secara swadaya oleh petani.
Setelah bantuan rodentisida diterima, pengendalian akan dilakukan secara bersama-sama di kawasan yang terdampak.
“Ini sekarang petani masih melakukan pengendalian tikus secara swadaya,” ujarnya.
Selain penggunaan rodentisida, petani juga didorong memanfaatkan musuh alami tikus, seperti burung hantu dan ular sawah.
Menurut Sunarto, pemanfaatan musuh alami menjadi salah satu cara pengendalian yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Pihaknya juga telah mengajukan proposal bantuan pembangunan rumah burung hantu (rubuha). Namun, untuk tahun ini bantuan rubuha baru dapat direalisasikan di Kecamatan Bancar.
“Semoga 2027 di Kerek bisa terealisasi,” katanya.
Bukan Serangan Pertama
Yang membuat petani semakin khawatir, serangan tikus kali ini bukan kejadian pertama.
Sekitar dua bulan sebelumnya, petani di Desa Wolutengah dan Gaji juga telah mengeluhkan serangan hama yang sama.
Saat itu, petani telah berupaya melakukan pengendalian secara mandiri. Berbagai pembatas dipasang untuk mencegah tikus masuk ke lahan. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan pergerakan hama.
Kini, ketika tanaman kembali memasuki masa berbuah, tikus kembali menyerang.
Bagi petani, persoalannya bukan hanya berapa banyak tikus yang berhasil diburu atau berapa kilogram racun yang ditebar. Mereka membutuhkan pengendalian yang mampu memutus siklus serangan agar persoalan yang sama tidak terus berulang.
Sebab, setiap tanaman yang rusak berarti hilangnya sebagian harapan petani untuk membawa pulang hasil dari lahan yang telah mereka rawat selama berbulan-bulan.
Di tengah upaya menjaga produksi pangan, petani di Kerek kini masih harus berjuang menghadapi ancaman kecil yang jumlahnya begitu besar: tikus. (Az)












