Tuban – Sabtu malam yang biasanya menjadi puncak kunjungan hotel di Kabupaten Tuban kini tak lagi ramai. Deretan lobi hotel tampak lengang, hanya beberapa tamu yang keluar-masuk. Dari 100 kamar yang tersedia, rata-rata hanya 15 hingga 16 kamar yang terisi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada Juni 2025 hanya 15,70 persen, turun tipis 0,22 poin dibanding Mei (15,92 persen). Angka ini menunjukkan sektor perhotelan di Bumi Ronggolawe masih belum pulih.
Dampak bagi Pelaku Usaha
Kondisi sepi tamu ini berimbas langsung pada pelaku usaha perhotelan. Sejumlah pengelola hotel terpaksa melakukan efisiensi, mulai dari pengurangan tenaga kerja kontrak hingga penghematan biaya operasional seperti listrik dan promosi.
Bagi hotel-hotel kecil, tantangan semakin berat. Tingkat hunian yang rendah membuat mereka kesulitan menutup biaya harian. Situasi ini juga memengaruhi kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pendapatan daerah.
Kontribusi Terhadap PAD
Sektor perhotelan memiliki arti penting bagi keuangan daerah. Pemerintah Kabupaten Tuban mencatat, sektor hotel dan restoran menyumbang sekitar 10 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).(Tubansmartcity)
Selain itu, penelitian akademis menunjukkan bahwa jumlah hotel dan objek wisata berpengaruh signifikan dan positif terhadap PAD Tuban dalam rentang 2006 hingga 2020. Artinya, lesunya perhotelan bukan hanya soal bisnis, tetapi juga berdampak pada penerimaan daerah. (Researchgate)
Turis Asing Naik, Wisatawan Lokal Turun
Di tengah tren penurunan, ada catatan positif dari sisi wisatawan asing. Jumlah turis mancanegara naik dari 40 orang pada Mei menjadi 72 orang pada Juni 2025, seluruhnya memilih hotel berbintang.
Sebaliknya, wisatawan domestik justru menurun dari 8.965 orang menjadi 8.628 orang pada periode yang sama. Rata-rata lama menginap (RLMT) tamu masih stabil di angka 1,15 hari, yang mengindikasikan mayoritas pengunjung hanya singgah satu hingga dua malam.
Upaya Pemerintah Daerah
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Emawan Putra, mengaitkan penurunan TPK dengan melambatnya ekonomi nasional.
“Banyak orang menunda perjalanan. Tak hanya hotel, kunjungan ke objek wisata juga menurun,” ujarnya.
Meski begitu, pihaknya menyiapkan sejumlah strategi untuk mendongkrak kembali angka hunian. “Kami akan menggencarkan paket wisata dan menggelar event-event yang bisa menarik wisatawan dari luar daerah,” tambahnya.
Fenomena penurunan TPK tidak hanya terjadi di Tuban, melainkan juga di sejumlah daerah lain. Namun, tren kenaikan turis asing bisa menjadi peluang. Dengan promosi lebih agresif, pariwisata Tuban diharapkan bisa kembali menggeliat dan memberi dampak positif, baik bagi dunia usaha maupun PAD daerah.(Az)
Editor : Kief












