Fenomena Atmosfer Picu Hujan Mendadak
Tuban – Hujan deras mengguyur Kabupaten Tuban selama dua hari terakhir meski saat ini masih berada dalam periode puncak musim kemarau. Fenomena cuaca yang tak biasa ini membuat sebagian warga bertanya-tanya apakah musim hujan datang lebih cepat dari perkiraan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tuban memastikan bahwa hujan deras tersebut bukan tanda awal musim penghujan, melainkan hanya gangguan atmosfer yang bersifat sementara.
Kepala Stasiun BMKG Tuban, Mochammad Nur, menjelaskan hujan intensitas tinggi yang terjadi dipicu oleh fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) serta kondisi suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya.
“Ini hanya gangguan atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan suhu muka laut yang hangat,” jelas Nur kepada Liputansatu.id, Selasa (19/08/2025).
Hujan Diprediksi Hanya Sementara
Menurut Nur, hujan yang turun di Tuban diperkirakan tidak berlangsung lama. Jika tidak ada gangguan atmosfer tambahan, cuaca akan kembali kering dalam tiga hari ke depan.
“Puncak musim kemarau masih diproyeksikan berlangsung pada Agustus hingga Oktober,” imbuhnya.
BMKG menyebut fenomena serupa bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, hujan juga sempat turun di beberapa wilayah Jawa Timur saat puncak kemarau akibat pengaruh MJO yang cukup aktif.
Petani dan Nelayan Diminta Waspada
Kondisi hujan di tengah musim kemarau dapat berdampak berbeda bagi warga. Petani justru bisa memanfaatkan curah hujan tambahan untuk menyiapkan lahan, namun mereka tetap diimbau menyesuaikan pola tanam dan panen berdasarkan prakiraan cuaca harian.
Sementara bagi nelayan, BMKG mengingatkan potensi munculnya gelombang tinggi meski berada di musim kemarau. Perubahan angin akibat anomali atmosfer dapat memicu gelombang laut yang lebih besar dari biasanya.
“Kami imbau masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi cuaca resmi dari BMKG, terutama nelayan yang beraktivitas di laut,” tegas Nur.
Apa Itu Madden-Julian Oscillation (MJO)?
MJO adalah fenomena atmosfer berupa gelombang konveksi besar yang bergerak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik dengan siklus 30 hingga 60 hari. Pergerakan gelombang ini sering memicu peningkatan curah hujan di wilayah tropis, termasuk Indonesia.
Meski hanya berlangsung sementara, keberadaan MJO kerap menjadi faktor dominan yang memengaruhi anomali cuaca. Itulah sebabnya hujan bisa turun deras di tengah periode kemarau panjang.
Catatan BMKG: Musim Hujan Masih Sesuai Jadwal
BMKG menegaskan, awal musim hujan di Tuban dan sekitarnya masih sesuai prakiraan, yakni baru akan terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2025. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak salah menafsirkan fenomena hujan deras saat ini.
“Ini hanya jeda sementara di musim kemarau, belum masuk peralihan musim. Jadi masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada,” tutup Nur. (Az)
Editor : Kief












