Internet Desa Dikeluhkan Lemot dan Mahal, DPRD Tuban Hentikan Audiensi

- Reporter

Rabu, 6 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situasi di ruang Komisi II DPRD Tuban mendadak tegang, lantaran dari PT Icon Plus tidak mengirim petugas yang bisa memberikan keputusan, (Assayid/Liputansatu.id).

Situasi di ruang Komisi II DPRD Tuban mendadak tegang, lantaran dari PT Icon Plus tidak mengirim petugas yang bisa memberikan keputusan, (Assayid/Liputansatu.id).

Tuban — Program internet desa yang digadang-gadang menjadi tulang punggung digitalisasi pelayanan publik di tingkat desa justru menuai sorotan. Sejumlah pemerintah desa di Kabupaten Tuban mengeluhkan kualitas layanan yang dinilai jauh dari harapan, meski biaya berlangganan tergolong tinggi.

Keluhan tersebut mencuat dalam audiensi antara Komisi II DPRD Tuban, organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan pemerintah desa dari Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Pabdesi), Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI), serta pihak Icont Plus selaku penyedia layanan di ruang Komisi II DPRD setempat, Rabu (6/5/2026).

Layanan Internet Tak Seimbang dengan Biaya

Sekretaris Jenderal Pabdesi Kabupaten Tuban, Sudarsono, menyebut desa harus menanggung beban biaya besar tanpa diimbangi kualitas jaringan yang memadai.

“Setiap bulan desa membayar Rp2,5 juta, tetapi jaringannya lambat, bahkan sering tidak bisa digunakan,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Tengger Kulon, Kecamatan Bancar ini mengungkapkan, layanan internet hanya berjalan normal pada awal pemasangan. Setelah itu, gangguan kerap terjadi dan berdampak pada aktivitas administrasi desa.

Dengan kecepatan yang disebut hanya mencapai 50 Mbps, Sudarsono menilai tarif tersebut tidak rasional. Ia bahkan mengusulkan penyesuaian harga agar lebih realistis.

“Kami berharap bisa diturunkan sekitar Rp300 ribu per bulan, supaya sesuai kemampuan desa,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan desa sejatinya sederhana, jaringan internet stabil dan metronet untuk mendukung sistem internal pemerintahan.

Beban Anggaran Desa di Tuban Kian Berat

Keluhan soal mahalnya layanan internet juga tidak lepas dari tekanan anggaran desa yang semakin kompleks. Selain kebutuhan operasional, desa kini juga harus menyesuaikan alokasi dana untuk berbagai program nasional.

Kondisi ini membuat biaya langganan internet menjadi sorotan, terutama ketika manfaat yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran.

“Kalau mahal tapi tidak bisa digunakan, ini jelas membebani desa,” kata Sudarsono.

Audiensi Memanas, DPRD Tuban Hentikan Audiensi

Situasi memanas dalam forum audiensi setelah Ketua Komisi II DPRD Tuban, Fahmi Fikroni, menilai pihak penyedia layanan tidak menghadirkan perwakilan yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Ia pun memutuskan menghentikan jalannya audiensi.

“Seharusnya yang hadir adalah pengambil keputusan. Kalau hanya perwakilan, percuma dilanjutkan karena tidak akan ada hasil,” tegasnya.

Fahmi menilai persoalan ini menyangkut layanan publik yang tidak bisa ditangani secara setengah hati.

Evaluasi Menyeluruh Diminta

DPRD Tuban memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program internet desa, termasuk skema metronet yang selama ini digunakan.

Meski diakui metronet memiliki biaya lebih tinggi karena terhubung dengan sistem pemerintah, Fahmi menegaskan kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama.

“Metronet memang mahal, tetapi pelayanan harus tetap optimal. Ini yang akan kami evaluasi,” ujarnya.

Audiensi Dijadwal Ulang

Audiensi tersebut berakhir tanpa keputusan dan dijadwalkan ulang pada 20 Mei mendatang. DPRD Tuban menegaskan, pertemuan berikutnya harus dihadiri pihak yang memiliki kewenangan penuh agar solusi konkret dapat dihasilkan.

Kasus ini menjadi catatan penting dalam implementasi program digitalisasi desa. Tanpa pengawasan dan evaluasi yang ketat, program yang seharusnya mempercepat pelayanan justru berpotensi menjadi beban baru bagi desa. (Az).

Editor : Mukhyidin Khifdhi

Berita Terkait

Resmi Jadi Polresta, Bupati Tuban Harap Pelayanan Kepolisian Makin Profesional
KPU Situbondo Perbarui Data Pemilih, Kini Capai 538.057 Orang
Bantah Ada Penggeledahan, Polemik Dugaan Uang Pelicin di Kejari Tuban Belum Reda
37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi
Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab
Acara Sound Horeg di Tuban Digelar Tanpa Izin, Polisi Pilih Fokus Amankan Massa
Patok Batas Hilang, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Kian Rumit
Batu Bara Tuban Jadi Sorotan, Bupati Bilang Masih Muda, Aktivitas Tambang Justru Sudah Terlihat

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 22:15 WIB

Resmi Jadi Polresta, Bupati Tuban Harap Pelayanan Kepolisian Makin Profesional

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:58 WIB

KPU Situbondo Perbarui Data Pemilih, Kini Capai 538.057 Orang

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:31 WIB

Bantah Ada Penggeledahan, Polemik Dugaan Uang Pelicin di Kejari Tuban Belum Reda

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:13 WIB

37 Tahun Terbengkalai, Pasar Terbesar di Situbondo Akhirnya Direvitalisasi

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:11 WIB

Dua Sekolah Roboh Beruntun, Bupati Tuban Sebut Kondisi Alam Jadi Penyebab

Berita Terbaru