TUBAN – Kolaborasi, sebuah jargon yang kerap digaungkan Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky dalam kampanye dan kepemimpinan periode keduanya, mulai dipertanyakan. Alih-alih menciptakan sinergi antarsektor pembangunan, sejumlah pelaku wisata mengeluhkan pariwisata lokal yang kian meredup di tengah pembangunan taman-taman kota yang megah namun dinilai tidak mendongkrak sektor ekonomi daerah secara menyeluruh.
Tiga Taman Kota yang Mengubah Wajah, Wisata Lokal Terpuruk
Tuban kini memiliki wajah baru dengan kehadiran tiga taman kota: Taman Abhirama, Taman Abhipraya, dan Alun-alun Kota. Proyek ini dikemas sebagai bagian dari penataan wajah kota, diresmikan bersamaan dengan diluncurkannya angkutan terintegrasi “Si Mas Ganteng”. Sayangnya, proyek yang semula diharapkan mempercantik kota dan menjadi magnet wisata, justru diduga menjadi salah satu penyebab meredupnya destinasi wisata lokal yang telah lama dirintis masyarakat.
Sendang Asmoro, dari Primadona Jadi Terlupakan
Hartomo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sendang Asmoro, mengungkapkan kekecewaannya. Wana wisata alam yang dikelolanya dulu sempat menjadi destinasi andalan di Kabupaten Tuban. Namun kini, setelah pandemi Covid-19 dan hadirnya taman-taman kota, jumlah pengunjung menyusut drastis.
“Dulu di awal 2019, parkiran penuh. Sekarang ya bisa dilihat sendiri, sepi,” ucap Hartomo dengan raut sendu, meski tetap menyimpan harapan di matanya.
Menurutnya, kehadiran taman kota mengalihkan perhatian masyarakat dari wisata alam ke ruang terbuka hijau, yang aksesnya gratis dan berada di pusat kota. Bahkan, objek wisata milik Pemda seperti Pantai Boom pun ikut mengalami penurunan pengunjung.
Forum Pokdarwis: Kolaborasi Hanya Slogan
Multazam, Ketua Forum Pokdarwis Tuban, menyebut pengunjung wisata di Tuban mengalami penurunan drastis hingga 60 persen dalam enam bulan terakhir. Menurutnya, di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang belum pulih, pembangunan tiga taman secara bersamaan justru memperparah kondisi wisata lokal.
“Pemkab memang sudah mengumpulkan kami untuk diskusi, tapi belum ada solusi konkret,” ungkap Multazam.
Pakar: Taman Kota Seharusnya Bisa Dikolaborasikan
Dosen Pariwisata Universitas Terbuka, Sucipto, menyayangkan ketidakterhubungan antara taman kota dan destinasi wisata lokal. Ia menilai, alih-alih menjadi saingan, taman kota seharusnya bisa menjadi pintu masuk promosi bagi potensi wisata daerah.
“Kota-kota seperti Jogja, Banyuwangi, atau Probolinggo menjadikan taman kota sebagai daya tarik awal, lalu mengarahkannya ke wisata-wisata lokal lainnya,” jelasnya.
Sucipto menyebut legenda kuliner lokal seperti legen Tuban bisa menjadi salah satu daya tarik yang dipaketkan bersama taman kota untuk menarik wisatawan luar daerah. Ia menekankan pentingnya sinergi antara Disbudporapar, Pokdarwis, dan elemen masyarakat lainnya.
Disbudporapar: Masalah Tidak Hanya Taman Kota
Menanggapi keluhan pelaku wisata, Kepala Disbudporapar Tuban, Muhammad Emawan Putra, mengakui adanya tantangan besar dalam membangkitkan pariwisata. Namun ia menyebut pembangunan taman kota bukan untuk bersaing, melainkan sebagai penyedia ruang terbuka hijau (RTH) untuk publik.
“Kami akan tetap support Pokdarwis, dan akan terus berdiskusi bersama mereka,” ungkap Emawan, Minggu (5/5/2025).
Ia menyebut, selain pembangunan taman, ada sejumlah faktor lain yang menyebabkan wisata sepi, seperti ekonomi yang belum stabil, minimnya inovasi dari pengelola, hingga ketidakharmonisan antara Pokdarwis dan Pemerintah Desa.
Menuju Solusi: Kolaborasi yang Nyata, Bukan Slogan
Emawan mengungkapkan pihaknya sedang mengkaji rencana pengembangan paket wisata terpadu. Namun, ia menekankan bahwa pariwisata tidak bisa bergerak sendiri.
“Semua pihak, mulai dari masyarakat, media, travel agent, hingga pemerintah harus saling mendukung,” pungkasnya. (Az/Kief).
Editor : Mukhyidin Khifdhi












